Sebuah Tantangan - 8

Bunyi telepon membangunkanku, JJ masih terlelap dengan dengkurnya yang keras seperti Babi yang sedang digorok, kembali perasaan jijik menghampiri mengingat bahwa tubuh gendut dan jelek itu semalam telah menyetubuhiku habis habisan dan lebih memalukan lagi bahwa akupun bisa menggapai orgasme darinya meskipun dengan caraku sendiri.

"Hei bangun putri malas" teriak Ana setelah tahu aku yang terima, entah dari mana dia tahu aku berada disini.
"Sialan kamu, aku barusan tidur jam 6 tadi, masih ngantuk nih" jawabku agak marah karena tidurku terganggu.
"Nona manis, sekarang udah hampir jam 11, jadi kamu tidur udah 5 jam, cukup tuh" jawabnya tak kalah sengit.
"Iya.. Yaa.. Yaa, ada apa sih?" tanyaku masih menahan kantuk.
"Waktunya bayar hutang" jawabnya mengingatkan taruhanku.
"Aduuh, aku capek banget nih, apa nggak bisa besok aja" jawabku.
"NO Way sayang, aku udah bikin janjian untuk kamu dan tak mungkin lagi diundur" desaknya.

Dengan berbagai alasan aku berusaha menolak tapi Ana tetap mendesak, akhirnya akupun menyerah untuk menemani tamu pilihannya nanti saat jam makan siang, berarti 1 jam lagi.

"Oke jam 12 aku telepon lagi dimana kamu temuin dia"
"Siapa sih tamunya.." dia sudah menutup teleponnya.

Kutinggalkan JJ yang masih juga mendengkur, siraman air hangat rasanya mengembalikan kesegaran tubuhku yang serasa raib ditelan ganasnya gelombang nafsu. Kumanjakan diriku dalam pelukan air hangat di bathtub, hampir 30 menit aku berendam dengan santainya.

Aku terkaget dan ketika kurasakan sesosok tubuh memasuki bathtub, tentu saja si juling JJ karena memang hanya ada dia.

"Boleh ikutan kan sayang" sapanya tanpa menunggu jawabanku tubuhnya sudah memasuki bathtub, air menjadi tumpah semua dan bathtub itu serasa terlalu kecil untuk kami berdua.
"Om, aku ada janjian jam 12 nanti, please tolong aku dong Om" aku merajuk protes saat tangan JJ mulai menjamah buah dadaku, aku tak ingin kelelahan sekarang, masih nggak tahu kayak apa laki laki yang akan disodorkan Ana nanti, tapi aku yakin bahwa tamu itu pasti spesial.

Bukannya beringsut tapi malah meremas remas buah dadaku dan mulai menciumi leherku.

"Semakin cepat melayaniku semakin cepat pula selesai dan kamu tak akan terlambat janjian" bisiknya sebelum mengulum telingaku.

Rasanya sudah nggak ada lagi jalan keluar, terpaksa kulayani kembali nafsu birahi si bandot tua itu, padahal semalam kami sudah bercinta hingga batas terakhir tapi sepertinya tak ada kata puas dari dia.

"Oke, sampai ada telepon nanti, selesai atau nggak, your time is over" syaratku, sebenarnya adalah suatu kesalahan besar karena masih 20 menit dari jam 12, kalau tidak bersyarat mungkin bisa kuselesaikan 5-10 menit.

Akupun mengambil posisi dogie, dan untuk kesekian kalinya penis JJ kembali melesak diantara celah kenikmatan merasakan nikmatnya vaginaku, langsung keluar masuk dengan tempo tinggi diiringi remasan pada buah dada dan sedikit tamparan pada pantat. Kami bercinta dengan liarnya seperti semalam, begitu liar hingga air bathtub kembali meluber ke lantai, tapi tak kami hiraukan dan desahan nikmatpun tanpa terasa keluar dari mulutku, kuimbangi kocokannya dengan goyangan pinggul.

Entah sudah berapa lama dia menyetubuhiku dari belakang, rasanya tak terlalu lama ketika dia memintaku keluar dari bathtub.

Didudukkan tubuh telanjangku di atas closet yang tertutup, dia lalu berjongkok didepanku, tanpa ragu lidahnya langsung mendarat di vagina, aku menggeliat nikmat. Kusadari, inilah ciri permainan JJ, dia senang menjilati vagina ditengah permainan tanpa mempedulikan apakah aku atau dia sudah keluar, dan itu sering dilakukan, bisa 3-4 kali oral disela permainan, dan sialnya aku sangat menikmati hal itu, cuma khawatir menjadi ketagihan dengan gaya seperti dia, sepertinya belum pernah kutemui laki laki yang mau menjilati vagina di tengah tengah permainan seperti ini.

Sebelum dia melesakkan kembali penisnya, kudengar HP-ku berbunyi, pasti Ana, pikirku. Berarti permainan harus diakhiri, tapi entahlah tiba tiba terasa sayang kalau harus mengakhiri dengan cara begini. Ingin kuabaikan telepon itu tapi aku juga harus jaga gengsi di depan JJ.

"Om telepon udah bunyi tuh" kataku seakan mengingatkan sambil mendorong kepalanya menjauh dari vaginaku.

Namun aku membiarkan saat tangannya meraba raba tubuhku saat aku menerima telepon Ana.

"Yap, dimana dan dengan siapa?" tanyaku singkat karena kepala JJ sudah berada kembali di selangkanganku saat aku duduk di pinggiran ranjang.
"Sabar non, aku juga lagi nungguin di lobby Garden Palace, dia masih meeting, kamu kesini aja deh temenin aku di coffee shop Kencana, nggak enak nih sendirian" jawabnya.

JJ sudah menelentangkan tubuhku, aku diam saja, bahkan ketika tubuhnya menindihku dan dia berusaha melesakkan kembali penisnya, akupun diam saja, malahan membuka lebar kakiku.

"Nggak mau ah, ngapain nongkrong di situ, kayak orang nggak ada kerjaan saja" tolakku sambil menikmati kocokan dan cumbuan nikmat JJ.

Aku memang paling benci kalau harus nongkrong di lobby atau tempat terbuka seperti itu, apalagi di Garden Palace yang sempat menjadi rumah kedua-ku, tentu masih banyak yang mengenalku. Mati matian aku berusaha menahan desah nikmat dari kocokannya.

"Ih kamu jahat ya, awas nanti pembalasanku.." jawabnya tapi aku tak dapat mendengar lagi lanjutan kata katanya karena kocokan JJ semakin liar, kugigit erat bibirku takut kalau mulutku terbuka hanya desahan yang keluar.
"Oke kalau jagoanmu sudah datang, call me, oke?" jawabku supaya segera bisa mengakhiri pembicaraanku dengannya.

Begitu HP kututup, JJ menyambut dengan hentakan keras, akupun menjerit kaget, permainannya memang kasar seakan ingin membalas dendam atas penolakanku selama ini, itulah yang dilakukannya semalam dan berlanjut hingga siang ini, anehnya akupun menikmati pembalasan dendamnya. Akhirnya perahu birahi kami sampai juga ketepian bersamaan dengan bel HP dari Ana.

"Gimana? Udah datang si arjuna?" tanyaku to the point, padahal tubuh JJ masih ngos ngos-an nangkring diatas menindihku karena sengaja HP itu kuletakkan selalu di dekatku.
"Tuan putri, udah kita tunggu nih di kamar 1620, cepat berangkat sekarang" perintahnya langsung mematikan HP.

Kudorong tubuh JJ turun dan aku ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku lagi.

Setelah kembali berpakaian, me-make up wajahku, kutinggalkan JJ yang masih telentang telanjang memandangku seakan berat melepas kepergianku ke pelukan laki laki lain, padahal itu adalah kerjaan dia sehari hari.

"Ly, kapan kita bisa melakukannya lagi" katanya sambil menyelipkan segebok uang dalam belahan dadaku.
"In your dream" jawabku terus meninggalkan kamar itu.

Hanya perlu 10 menit untuk mencapai Garden Palace, tanpa menoleh kiri kanan aku langsung menuju kamar 1620, seperti biasa aku tak ambil peduli siapa laki laki yang bakal kutemani dan bakal meniduriku.

Ana sudah menunggu di kamar bersama seorang laki laki bule muda dan tampan, bermata biru dan berambut blonde.

"Ly kenalin, Dion" katanya, kamipun saling bersalaman, kubiarkan dia mencium pipiku.

Kurang ajar si Ana, sudah tahu aku nggak mau melayani bule dia malah ngasih si bule itu, tapi kalau tampan seperti dia nggak ada salahnya dicoba, pikirku dalam hati, jantungku sudah berdetak kencang menyadari bakal melayani bule untuk pertama kalinya.

"Ly, kamu kan nggak mau melayani bule, jadi ini untuk aku, kamu tunggu aja sebentar lagi dia datang kok" kata Ana dalam bahasa jawa, mungkin supaya si bule tidak mengerti. Sambil berkata demikian dia lalu duduk dipangkuan Dion dan mereka mulai berciuman tanpa menghiraukan keberadaanku.

Tangan Dion sudah bergerilya di dada Ana yang tengah mendesis, ciuman Dion terlihat begitu penuh perasaan dan romantis, aku hanya duduk saja melihat mereka, penasaran untuk menonton bagaimana permainan seorang bule. Tak perlu menunggu lama, pakaian mereka satu demi satu sudah berterbangan. Aku sedikit terkesiap melihat tubuh atletis Dion apalagi dihiasi penis yang besar nan tegang berwarna kemerahan.

Mereka sudah berpindah ke ranjang, mulanya Dion melakukan oral pada Ana kemudian berganti posisi, dan dilanjutkan dengan 69, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana penis kemerahan itu keluar masuk mulut Ana, terlihat Dion begitu pintar bermain oral. Dengan tatapan menggoda dia menatapku setiap kali penis itu mau memasuki mulutnya. Ada perasaan penasaran, iri maupun geli melihatnya, terasa penis itu aneh bagiku.

Sesaat terlupakan sudah siapa bakal tamuku, mereka sudah mulai bercinta, Ana tengah menjerit jerit nikmat menerima kocokan penis Dion yang besar itu. Sepuluh menit berlalu live show dihadapanku ketika bel berbunyi, mereka menghentikan aksinya.

"Tuh lakimu datang" kata Ana yang masih dibawah tindihan Dion.

Aku beranjak menuju pintu menyambut tamuku, ketika pintu kubuka aku begitu terkejut dengan apa yang ada dihadapanku. Berdiri di depan pintu, seorang laki laki setengah baya dengan pakaian lusuh agak kumal, topi kumal menghiasi kepalanya, menutup rambut yang mulai memutih. Aku tertegun hingga tak sempat mempersilahkan dia masuk.

"Ly, masak tamunya nggak dipersilahkan masuk, masuk aja Pak Taryo" teriak Ana dari atas ranjang.


Bersambung . . . .