Budak pemuasku - 3

Tangannya satu persatu dengan lembut membuka kancing blouse saya. Kelihatannya dia sangat menyukai badan saya yang mulus dan wangi, terlihat penisnya mulai berdiri dan menganguk angguk kesenangan. Setelah saya telanjang bulat dan semua pakaian saya tergantung dengan rapi di lemari, saya menyuruh dia untuk nungging di atas ranjang dengan kaki terbuka dan tangan ke belakang. Kemudian saya kenakan lagi borgol besi ke tangannya di belakang punggungnya, lalu saya sendiri tiduran setengah duduk di sampingnya sambil memegang megang badannya yang dalam posisi pasrah itu. Penisnya saya tarik tarik, betot betot dan kocok kocok, seakan seperti memerah sapi.

"Eh budak, saya mau lidah kamu jilatin seluruh badan saya, mulai dari pundak sampai ke ujung kaki saya. Jangan sampai ada se centi pun yang ketinggalan pokoknya semuanya saya minta di jilat sampai kering, oh yah ampir lupa nih saya pakeiin rantai kamu dulu". Saya pasang rantai anjing di lehernya.
"Ayo mulai jilat jilat kaya anjing, kalo rantai ini saya tarik sekali berarti kamu pindah jilatin ke tempat lain, tapi kalo saya diem aja berarti kamu terus jilatin tempat yang lagi kamu jilatin..,.. Ngerti..?".
"Ngerti Bu.." jawabnya.

Nikmat sekali rasanya dijilati oleh budak saya yang satu ini, sekujur badan saya dijilati dengan telaten, kalo saya udah bosen di jilatin di satu tempat saya hentakan rantainya, baru dia pindah ke tempat lain. Yang membuat saya horny juga meliha dia kesusahan waktu menjilati saya karena tangannya terikat ke belakang, jadi terkadang kepalanya nempel di badan saya karena pegal di otot perutnya menahan bebannya sendiri, biasanya kalo dia kecapeaan saya pukul pantatnya pake penggaris kayu yang ada di samping saya.

Dengan senak enaknya saya mengulet ngulet di atas tempat tidur sementara budak saya terus berusaha menjilati badan saya, sekali kali saya menaikan kaki saya ke atas badannya dan membuat dia semakin menderita karena berat yang di timbulkan.

Pada saat dia menjilati telapak kaki, jari jari di telapak kaki saya yang satunya aktif membelai belai mukanya dan juga menjambak jambak rambutnya. Sensasi di jari kaki saya waktu di jilati dan di hisap satu persatu sungguh luar biasa dengan rajin budak saya mengulum dan menjilati jari kaki saya sampai saya hentakan rantai baru dia pindah ke jari yang berikutnya.

Saya menikmati service budak saya ini sambil menikmati rokok dan menonton TV, kalau saya haus saya suruh dia berhenti dan mengambil minuman kaleng di mini bar (tentunya dengan tangan masih terikat) sehingga dia kesusahan mengambil minuman untuk saya, dengan geli saya tersenyum melihat kesulitan yang dia hadapi. Rasanya enak sekali selama hampir 2 jam saya seperti ratu di manja dan di buat geli oleh lidahnya yang nikmat.

Setelah puas di manja oleh lidahnya, sekujur badan saya menjadi sangat sensitif dan ditambah oleh rasa puas saya, saya ingin sekali climax. Lalu saya bentangkan kaki saya dan membuka lebar anus saya dengan mengunakan kedua tangan saya, kemudian saya menyuruh budak saya untuk menjilati dan memasukan lidahnya ke dalam anus saya, ohh rasanya nikmat luar biasa, lidahnya berputar putar di dalam anus saya dan sekelilingnya.

Setelah itu saya menghentakan rantai anjingnya, bertanda saya ingin dia pindah tempat, sepertinya dia sudah mengerti kalau clitoris saya sudah mengeras dan ingin dijilati. Saya buka bibir vagina saya dan saya benamkan kepala budak saya ke situ dengan posisi lidahnya tepat di clitoris saya.

Tidak lama kemudian saya mencapai climax, rambutnya saya jambak dengan keras selama beberapa menit sementara saya masih menikmati kegelian yang masih ada, lalu saya tendang dia ke lantai dan saya suruh dia menghisap hisap jempol kaki saya sementara saya mengatur napas dan menikmati sisa sisa climax saya itu.

Tanpa terasa selama kurang lebih 20 menit saya terlelap tidur nikmat, dan terbangun oleh rasa ingin kencing dan kuluman lidah budak saya yang masih dengan setia menghisapi jempol kaki saya. Lalu saya duduk dan membuka ikatan borgol di tangan budak saya itu.

"Kamu pintar sekali muasin saya.. Pasti kamu sekarang haus yah..?"
"Terima kasih Bu..,. Iya Bu.. Saya haus"
"OK.. Kalo gitu ayo ikut saya, kamu saya kasih hadiah.."

Saya tuntun dia ke kamar mandi dan menyuruh dia rebahan telentang di dalam bath tub.

"Buka mulut kamu yang lebar, yah.. Sayang!"

Kemudian saya jongkok di atas mukanya dan mulai mengencingi mukanya sambil mengarahkan arus air kencing saya ke mulutnya.

"Ayo.. Di minum semuanya.. Buka mulutnya yang lebih lebar lagi yahh.. Ayoh dongakin kepalanya biar enggak tumpah tumpah.. Sayang.."

Dengan patuh budakku meminum air kencing saya dengan lahap, terlihat jankunnya bergerak naik turun meneguk air kencingku yang masuk ke mulutnya yang terbuka dengan lebar.

Setelah selesai saya menyuruh dia untuk membersihkan vagina saya dengan mulutnya, karena air kencingku tercecer ke mana mana saya berdiri dan menyalakan pancuran shower sementara budak saya masih tiduran di dalam bath tub, saya membersihkan badan saya di pancuran shower yang terletak di atas bathtub sambil satu kaki saya, saya letakan di atas muka slaveku yang masih tiduran di bawah. Setelah selesai saya keluar dari bath tub dan mengeringkan badan dan kaki saya dengan handuk kemudian saya taruh handuk itu di lantai dan saya menyuruh budak saya untuk bersih bersih dan mengeringkan badannya dengan handuk tersebut.

"Ayo bersih bersih.. Jangan lupa pakai sabun yah, biar enggak bau.. Saya tunggu kamu di kamar.. Kalau lama dan enggak bersih nanti kamu saya hukum loh.." ujarku dengan manja.

Selang beberapa menit budak saya selesai bersih bersih, sementara saya duduk di atas kursi di belakang sebuah meja belajar.

Diatas meja saya persiapkan sebuah lilin yang sudah saya nyalakan, gelas kosong, sepasang sarung tangan karet dan KY Jelly.

"Ayo merangkak ke sini sayang.. Saya belum selesai sama kamu.."

Dengan patuh dia merangkak menuju ke arah saya. Sesampainya dia di samping saya, rambut kepalanya saya elus elus, dan sesekali jari tangan saya memainkan bibirnya yang kemudian dia jilati seperti seekor anjing yang patuh.

Saya menyuruh dia untuk naik ke atas meja belajar di depan saya dengan posisi nungging dan kaki terbuka sehingga lubang anus dan penisnya terlihat jelas.

Sambil duduk di belakang meja saya memakai sarung tangan karet dan melumasi KY Jelly dipermukaan sarung tangan. Saya juga memberikan Jelly itu ke sekitar selangkangan, penis dan terutama didalam lubang anusnya. Dengan perlahan saya memasukan jari tengah saya ke dalam anusnya dia yang sudah terlumuri dengan banyak KY jelly, sementara tangan saya yang satu lagi meremas remas dan mengurut urut dengan lembut alat kelaminnya yang sudah licin oleh KY jelly.

Remasan dan urutan saya itu membuat penisnya menjadi sangat keras dan tegang, bila ini terjadi saya menyodok nyodok lubang anusnya dengan kasar sehingga dia menjadi kesakitan dan lemas lagi. Setelah lemas saya urut urut lagi dengan lembut sampai tegang kembali dan seterusnya sampai berulang ulang kali.

Dia sangat menyukai perlakuan ini, hanya mungkin sedikit frustasi karena saya terus goda goda hingga tidak mencapai climax. Penisnya dan area antara lubang anus dan kantung biji saya urut urut dan penisnya saya kocok kocok lembut dengan irama yang perlahan dan menggoda. Sampai suatu saat hampir dia ejakulasi namun saya tekan pangkal penisnya dan saya tetesi dengan lilin panas di sekujur punggung dan lubang pantatnya yang sensitif.

Dia menjerit kesakitan dan minta ampun pada saat saya tetesi lilin, setelah itu mengerang ngerang keenakan bila saya stimulasi alat kelaminnya. Setelah saya pikir dia sudah cukup menderita akhirnya saya urut penisnya dengan tempo yang lambat dan mantap dan makin lama makin cepat, sambil berkata..

"Kamu enggak boleh keluar dulu yah.. Awas loh.. Kalo kamu mau keluar kamu harus minta ijin dulu sama ibu."
"Ibuu saya minta ijin mau keluar.. Ampunn udah enggak tahan lagi..", rintihnya tak lama kemudian.
"Ok.. Ayo keluarin budakku sayang" jawab saya seraya mengambil gelas kosong yang ada di atas meja.

Saya mengarahkan muka gelas itu ke lubang penis di tempat spermanya akan keluar. Selang beberapa detik penisnya menggelembung dan memuntahkan cairan sperma yang sangat banyak. Saya terus mengenggam dan mengurut ngurut penisnya sampai tetes sperma terakhir tertampung di dalam gelas. Terlihat kepuasan di muka slave saya dan sekujur badannya gemetar keenakan, kepalanya lunglai dengan dahi bersender di atas meja.

Lalu saya mengambil sebuah sendok kecil yang biasanya di sediakan di tempat pembuatan kopi/teh di dalam kamar. Lalu saya mengaduk ngaduk gelas yang berisi spermanya itu dan menyuapinya sendok demi sendok sampai habis bersih.

"Enak sayang..?" tanyaku.
"Iya Bu.. Enak sekalii.. Terima kasih Ibu.."
"Pinterr deh slave saya.. Ayo dijilatin sendoknya sampai bersih..!"

*****

Demikianlah para pembaca, sebagian dari cerita permainan saya dengan slave saya Anwar. Permainan ini selalu kami lakukan kira kira 1 minggu sekali tentunya dengan variasi yang berbeda beda. Setelah permainan selesai kami kembali ke dunia nyata kami masing masing.

Biasanya setelah permainan usai sekitar jam 7 malam kami ngobrol ngobrol sambil makan dari orderan room service, kami tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi dan bahan pembicaraan kami bisa membahas apa saja seperti teman lama karib yang sudah lama tidak bertemu.

Kami mempunyai komitmen perjanjian untuk tidak saling jatuh cinta karena dia sudah mempunyai keluarga dan saya juga tidak mau mencari masalah, yang penting fantasi saya ini dapat tersalurkan tanpa komplikasi komplikasi yang mungkin dapat terjadi.

Bahkan sebagai bukti penyerahan dirinya kepada saya dan juga sebagai bukti dari kami bahwa kami tidak akan saling jatuh cinta, kami merencanakan untuk meminjamkan badan budak saya kepada wanita lain yang mungkin berminat untuk memakai dia sebagai budaknya untuk sementara.

Apakah di antara pembaca ada yang berminat?

Tamat

Diperbudak seorang Nyonya

Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir. Sejak berusia 16 tahun aku merasakan bahwa aku mempunyai perilaku seks yang menyimpang. Sebagai laki-laki, aku justru lebih suka untuk didominasi oleh wanita. Aku sering membayangkan suatu keadaan dimana aku dicaci, dihina, direndahkan, dan disiksa secara sadis oleh seorang wanita.

Saat aku menginjak semester delapan, aku mendaftarkan diri pada sebuah situs BDSM dan berhasil berkenalan dengan seorang wanita berusia 30 tahun yang suka menjadi dominan. Dia adalah Nyonya Hana. Perkenalan awal lewat internet kemudian berlanjut ke pertemuan kami. Ternyata Nuonya Hana adalah seorang manajer personalia di sebuah hotel. Dia tidak cantik, namun berpenampilan anggun. Singkat cerita, kami pun saling cocok.

Sejak awal bulan Juli, kami pun sepakat untuk menjadi pasangan majikan dan budak. Aku berkewajiban untuk melayani Nyonya Hana kapan pun dia menginginkanku. Aku juga harus mematuhi seluruh perintah-perintahnya dan menerima semua yang dilakukannya kepadaku. Termasuk hinaan dan siksaan. Sedangkan Nyonya Hana, dia memiliki hak penuh untuk melakukan apa saja yang disukainya kepadaku. Aku tidak lebih dari barang-barang miliknya yang lain. Dan aku tidak menerima imbalan apapun. Imbalanku adalah kesenanganku.

Aku akan bercerita sebagian pengalamanku selama jadi budak Nyonya Hana. Saat itu hari sudah malam. Sekitar pukul delapan malam. Telepon di kontrakanku berdering. Kebetulan aku yang mengangkatnya. Ternyata itu adalah Nyonya Hana. Dia memintaku untuk datang ke alamat villa sewaannya dan melayaninya malam itu juga. Tentu saja aku tidak dapat menolak. Dia adalah majikanku. Dan aku pun berangkat malam itu.

Nyonya Hana sudah menungguku saat aku tiba di villa. Dia berpakaian serba hitam yang mengkilap. Tanpa basa-basi lagi, dia lalu menyuruhku untuk melepas seluruh bajuku. Aku menurutinya. Kini tubuhku telanjang bulat tanpa selembar kain pun. Nyonya Hana lalu mendekatiku. Dia melumat bibirku dan meremas kemaluanku. Penisku pun mengeras. Nyonya Hana meraba seluruh tubuhku dan membuatku semakin terangsang.

Di tengah permainan itu, dia berhenti. Nyonya Hana lalu menyuruhku untuk memasuki ruang belakang. Di sana ternyata sudah terdapat tali panjang yang menggantung pada kayu besar yang melintang di tengah ruangan. Dia lalu mengikat kedua tanganku pada tali itu. Kini aku sama sekali tidak berdaya. Kedua tanganku diikat menyatu ke atas pada tali itu dan aku pun terpaksa harus berjinjit pada kedua ujung kakiku karena tali itu ternyata terlalu tinggi.

Nyonya Hana mengelilingi aku sebentar, lalu dia pergi ke arah meja dan mengambil sebuah cambuk berwarna hitam. Semenit kemudian, dia sudah berdiri di belakangku.
Dia lalu mendekatiku dan berkata, "Hei budak, kamu adalah milikku dan saat ini aku ingin sekali menyiksa kamu. Kamu tahu? Aku sangat puas jika melihat kamu berteriak kesakitan."
Aku diam saja. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

Tiba-tiba. Tar! Tar! Dua cambukan menghajar punggungku dengan keras. Aku berteriak keras. Rasanya sakit sekali. Nyonya Hana tertawa puas melihat tubuh bugilku menggeliat menahan sakit yang amat sangat. Dia tidak berhenti sampai di situ. Nyonya Hana terus mencambukku sampai sekitar 200 cambukan. Punggungku terasa amat sakit dan panas karena sobek dan mengeluarkan darah. Tubuhku sudah basah dengan keringat dan terasa lemas. Tapi anehnya, aku menikmatinya. Inilah yang kuimpikan sejak dulu, disiksa dan direndahkan oleh wanita.

Setelah puas dengan cambukan, dia melepas ikatan tanganku. Dia lalu memindahkanku ke kamar tidur. Dia lalu mengikat kedua tangan dan kakiku dengan tali ke masing-masing sudut tempat tidur. Kini aku telentang dalam keadaan terikat dan telanjang seperti huruf X.

Nyonya Hana lalu meraih kotak tempat dia menyimpan alat-alat penyiksaan dan mengambil dua buah jepitan buaya yang bergigi tajam dan terkenal kuat cengkeramannya. Aku menunggu dengan hati berdebar-debar. Seperti yang kuduga, Nyonya Hana meraih putingku dan menjepitkan jepitan buaya itu hingga daging kedua putingku terjepit erat. Rasanya sakit sekali. Aku berteriak dan meronta. Tapi tubuhku terikat erat oleh tali di tempat tidur. Aku tidak berdaya.

Selang beberapa menit, aku pun kembali tenang. Nyonya Hana kembali mendekatiku, dan kali ini dia membawa sebuah lilin merah dengan diameter besar, seperti yang sering dipakai di kuil-kuil. Dia lalu menyalakan lilin itu. Setelah lilin terbakar, Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang dibawanya dan meneteskan lilin panas yang meleleh di atas tubuhku yang telanjang. Satu tetesan pertama mendarat tepat di atas putingku yang terjepit oleh jepitan buaya. Aku berteriak histeris. Rasanya seperti di neraka. Tetapi Nyonya Hana hanya tersenyum.

Dia lalu meneteskan lilin itu ke bagian-bagian tubuhku yang sensitif. Dada, perut dan paha tidak luput dari tetesan cairan lilin panas. Tubuhku semakin berkeringat dan menggelinjang menahan panas. Aku merasakan siksaan yang amat sakit. Aku hanya dapat mengerang kesakitan dan memohon belas kasihan Nyonya Hana.

Setelah sebagian besar tubuhku tertutup lilin panas yang mengering, Nyonya Hana kemudian melepaskan ikatan kedua kakiku. Dia lalu mengangkat kedua kakiku ke atas dan kemudian ditekan dalam keadaan mengangkang ke arah dada. Kini aku hampir dapat mencium kedua lututku. Nyonya Hana lalu mengikat kedua kakiku dengan tali pada ujung sudut-sudut tempat tidur yang digunakan untuk mengikat kedua tanganku. Kini aku semakin tidak berdaya. Selain ikatan tubuhku semakin kuat, aku juga telah banyak kehilangan tenaga.

Dalam keadaan seperti ini, kedua kakiku dalam keadaan mengangkang ke atas dan pantatku pun tepat berhadapan dengan Nyonya Hana. Dia kembali menyalakan lilin. Saat itu aku sudah mulai ketakutan.
"Ampun, Nyonya.., ampun. Tolong, ampuni saya. Jangan siksa saya lagi, Nyonya..!" aku merintih memohon belas kasihan Nyonya Hana.
Dia hanya tersenyum.

Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang tadi dinyalakannya ke arah pantatku yang terbuka. Tes.. Tes.. Tes. Sekian banyak tetes lilin mengalir deras di daerah pantatku. Aku berteriak sekuat-kuatnya untuk menahan sakit. Tidak hanya sampai di situ saja siksaan yang kualami. Pada tetesan yang entah ke berapa puluh kalinya, Nyonya Hana kemudian mengarahkan lilinnya ke anusku. Tidak dapat dielak lagi, cairan lilin panas itu menghujani daerah anusku dan sebagian masuk ke lubang anus.

Kali ini aku tidak hanya berteriak tapi juga membentur-benturkan pantatku ke tempat tidur untuk menahan sakit. Nyonya Hana tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan dalam keadaan telanjang dan terikat tidak berdaya. Aku tidak lebih dari kelinci percobaan Nyonya Hana.

Ternyata Nyonya Hana belum puas. Dia masih kembali memiringkan lilinnya ke arah tubuhku. Kali ini sasarannya adalah kemaluanku. Tanpa basa-basi lagi Nyonya Hana meneteskan lilin-lilin panas bertubi-tubi ke arah penisku. Aku kembali berteriak kesakitan. Badanku bergetar dan aku merasa ingin pingsan. Nyonya Hana tertawa penuh kemenangan.
Dia lalu mendekati wajahku dan berkata, "Rasakan, budak..!"

Sedetik kemudian, kedua tangan Nyonya Hana menarik jepitan buaya di kedua putingku dengan tarikan keras dan panjang. Aku benar-benar berteriak histeris. Malam itu aku disiksa dengan cara-cara yang teramat sadis dan keji. Setelah puas menyiksaku dengan sadis, Nyonya Hana melepaskan ikatanku dan juga jepitan buaya di putingku. Rasanya seperti diiris dengan pisau. Kedua putingku terasa sakit dan mengeluarkan darah.

Nyonya Hana kemudian memakaikan sebuah kalung anjing di leherku dan menyuruhku untuk berjalan merangkak mengikutinya seperti seekor anjing. Dia ternyata membawaku ke halaman belakang. Di situ terdapat sebuah kandang anjing yang kosong. Nyonya Hana meyuruhku untuk masuk ke dalamnya. Aku menuruti perintahnya. Dia lalu menutup pintu kandang dan menguncinya.

Nyonya Hana lalu berkata, "Nah, budak, kamu sekarang bisa tidur dulu. Aku ada janji malam ini dengan seorang pria yang jantan dan macho. Dia benar-benar cowok idaman. Setidaknya tidak seperti kamu. Bagiku, kamu adalah budak belian yang hina yang tak lebih dari seekor anjing. Nah, sekarang tidurlah seperti seekor anjing..!"

Nyonya Hana kemudian meninggalkanku sendirian di kandang anjing. Dia pergi ke arah kota untuk minum-minum di kafe. Sementara itu, tubuhku menjadi sasaran nyamuk-nyamuk kelaparan. Aku benar-benar diperlakukan seperti budak malam itu. Dicaci, dihina, direndahkan dan disiksa secara sadis oleh majikanku. Dan kini aku diperlakukan tidak lebih dari seekor binatang. Untungnya, malam itu aku dapat juga tidur walaupun hari sudah menjelang pagi.

Keesokan harinya, aku dibangunkan secara kasar oleh Nyonya Hana pagi-pagi sekali. Mungkin sekitar pukul enam pagi. Tubuhku masih terasa sakit dan penat karena siksaan semalam. Tapi bagaimanapun juga aku berusaha untuk bangun. Aku tidak berani untuk melawan majikanku. Aku kemudian diberinya pakaian yang pantas dan dipaksa untuk masuk ke mobil. Kami kemudian pergi ke arah luar kota.

Sekitar setengah jam perjalanan, kami melewati jalan raya kecil yang di kanan kirinya masih merupakan hutan, walaupun bukan hutan liar. Tiba-tiba Nyonya Hana membelokkan mobilnya ke kiri dan masuk ke sebuah jalan tanah. Dia baru berhenti setelah kami tidak terlihat dari arah jalan raya karena terlindung pepohonan.

Nyonya Hana lalu menyuruhku turun. Dia lalu memerintahkanku untuk melepaskan seluruh pakainku. Aku tidak dapat menolak. Kini aku pun kembali telanjang bulat bersama Nyonya Hana di tengah hutan. Nyonya Hana kemudian menyuruhku untuk mengikutinya menuju ke sebuah sungai yang ada di situ. Dia kemudian memerintahkan aku untuk mengotori seluruh badanku dengan lumpur sungai yang ada di situ. Aku pun melakukannya. Nyonya Hana melihatku dengan tersenyum puas. Aku melumuri seluruh badanku dengan lumpur termasuk wajahku. Setelah selesai, Nyonya Hana kemudian mengacak-acak rambutku, sehingga penampilanku seperti orang gila saat itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Nyonya Hana lalu memberiku tulang ayam goreng yang sudah sedikit dagingnya. Dia lalu mengatakan padaku bahwa dia akan membawa pergi pakaianku dan menungguku di seberang hutan yang lain yang telah ditunjukkannya padaku melalui peta. Jaraknya kurang lebih lima kilometer. Untuk mencapai tempat itu, aku harus berjalan melalui pinggir jalan raya dalam keadaan telanjang dan sambil memakan tulangan ayam. Aku benar-benar merasa direndahkan saat itu. Tapi sekali lagi, aku justru menikmatinya.

Tidak berapa lama, Nyonya Hana benar-benar meninggalkanku sendirian di dalam hutan. Setelah Nyonya Hana pergi, aku pun mulai berjalan ke arah jalan raya. Sampai di batas pepohonan yang menutupiku dengan jalan raya kecil itu, aku mulai ragu. Meskipun bukan jalan raya besar, jalan raya itu cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Tetapi aku juga tidak tahu jalan lain untuk menuju tempat Nyonya Hana menunggu selain melalui jalan itu. Untuk berjalan melalui hutan, aku tidak berani mengambil resiko. Bisa-bisa aku tersesat karena tidak tahu arah sama sekali. Aku juga tidak dapat terus-terusan tinggal diam di situ karena aku tidak punya pakaian selembar pun. Bagaimanapun juga aku harus menemui Nyonya Hana di seberang hutan.

Akhirnya, aku nekat juga. Pelan-pelan aku keluar dari pepohonan saat jalan raya sepi. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian sebuah mobil pick up yang bagian belakangnya penuh dengan penumpang terlihat dari jauh. Setelah dekat dan melihatku, mereka bersorak-sorak ramai mengejekku dengan kata-kata kotor. Ternyata, di bagian belakang mobil itu juga ada beberapa gadis yang ikut menumpang. Tanpa diduga, si sopir memperlambat laju mobilnya di dekatku untuk memberikan kesempatan kepada teman-temannya mengejekku dan mengolokku di depan para gadis itu.

Jarakku dengan mobil itu hanya sekitar 3 meter karena memang jalan raya kecil itu tidak punya bahu jalan yang cukup lebar. Gadis-gadis di situ menjerit menahan malu. Tetapi aku yakin bahwa mereka sudah melihat ke arahku. Aku benar-benar merasa sangat rendah saat itu. Aku diolok-olok di depan umum dalam keadaan bugil dan kotor. Akhirnya, mereka berlalu juga.

Kejadian seperti itu berulang terus sepanjang aku menempuh perjalananku. Aku dilecehkan dan dicemooh oleh orang-orang. Aku terpaksa harus berjalan dalam keadaan telanjang bulat dan tubuh penuh dengan kotoran. Wanita-wanita yang kebetulan melihatku, tersenyum menahan malu. Tapi kemudian mereka juga berbisik-bisik dan tertawa menghinaku. Aku hampir-hampir tidak kuat menahan pelecehan itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Nyonya Hana. Kalau tidak, aku akan ditinggalkan selamanya di hutan tanpa pakaian. Cemoohan kepada diriku harus kutahan selama jarak lima kilometer.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku sampai juga ke sudut hutan yang sepi yang telah di tentukan Nyonya Hana. Dia menungguku di sana sambil tertawa terbahak-bahak melihatku datang. Dia berdiri berkacak pinggang penuh kemenangan. Setelah puas menatap keadaanku, Nyonya Hana tidak memberiku pakaian, tetapi langsung menyuruhku untuk masuk ke mobil dan membawaku kembali ke villa. Untungnya, kaca mobil Nyonya Hana sangat gelap, sehingga tubuh telanjangku tidak akan kelihatan dari luar.

Kami sampai di villa sudah siang. Mungkin sekitar pukul setengah dua belas. Saat itu matahari bersinar terik tanpa awan sedikit pun yang menutupinya. Hari itu menjadi siang yang sangat panas.

Nyonya Hana kemudian membawaku ke halaman belakang villa. Di sana terdapat sebuah tiang melengkung berbentuk huruf U terbalik yang lebih tinggi dariku. Tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat, Nyonya Hana langsung mengambil tali dan mengikat kedua tanganku di puncak tiang seperti keadaan tadi malam. Kedua tanganku terikat ke atas dan kakiku pun sedikit terangkat ke atas, sehingga aku hanya dapat bertumpu pada ujung jari-jari kaki.

Nyonya Hana lalu mengambil cambuk dan mencambuk tubuhku sekitar 30 cambukan keras. Aku hanya dapat berteriak kesakitan dan memohon ampun pada Nyonya Hana. Tapi dia tetap tidak perduli. Punggungku kembali terasa sakit karena luka cambukan semalam belum sembuh. Tubuhku penuh dengan keringat karena sinar matahari yang amat panas.

Setelah puas mencambukku, Nyonya Hana meninggalkanku begitu saja dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Tubuhku terasa sangat lemas. Mataku sudah berkunang-kunang. Yang kuingat, aku belum diberi makan oleh Nyonya Hana sejak penyiksaan dimulai tadi malam. Tubuhku yang kotor dan bugil dibakar sinar matahari sepanjang siang itu. Keringatku membasahi tubuhku dengan deras membuatku semakin lemas.

Sementara itu, punggungku terasa amat sakit akibat cambukan dan bagian depan tubuhku dan daerah sekitar kemaluanku masih memerah akibat siksaan panas lilin tadi malam. Aku benar-benar merasa seperti di neraka. Aku hanya ingat aku dijemur lama sekali. Akhirnya aku tidak kuat. Aku pingsan di tiang siksaan.

Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam villa. Hari sudah sore. Nyonya Hana ada di depanku membawa makanan. Aku sedikit gembira karena tubuhku sudah sangat lemas. Nyonya Hana kemudian memberiku makan saat itu. Namun tentu saja aku tidak dapat makan seperti orang biasa. Aku adalah seorang budak.

Nyonya Hana menaruh makanan yang dibawanya di mangkuk makanan anjing dan menyuruhku untuk makan dalam keadaan merangkak dan hanya boleh menggunakan mulut seperti layaknya seekor anjing. Harga diriku benar-benar diinjak-injak. Aku tahu bahwa anjing pun masih mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Setidaknya, anjing masih diberikan makanan secara teratur dan disayang oleh majikannya. Sedangkan aku, jatah makanku saja terlambat dan aku pun selalu disiksa secara sadis oleh majikanku. Nyonya Hana benar-benar menempatkanku dalam posisi yang amat rendah. Bahkan lebih rendah dari anjing piaraannya.

Setelah makan, aku kembali dibimbing oleh Nyonya Hana menuju kamar mandi. Di sana tangan dan kakiku diikat dengan tali, kemudian pintu kamar mandi dikunci oleh Nyonya Hana. Setelah itu, Nyonya Hana pergi entah kemana. Aku sangat capek saat itu. Aku langsung tertidur dan baru dibangunkan oleh Nyonya Hana dini hari keesokannya. Nyonya Hana mengatakan bahwa sewa villa telah habis dan aku harus meninggalkan villa sebelum jam tujuh pagi. Setelah itu, Nyonya Hana langsung pergi meninggalkanku begitu saja yang masih telanjang bulat dan kotor seperti sampah.

Nyonya Hana akan datang lagi saat dia memerlukanku untuk dimaki dan disiksa secara sadis. Diperlakukan seperti budak dan direndahkan seperti anjing. Tapi aku tidak dapat menolak. Aku harus patuh padanya. Karena Nyonya Hana adalah majikanku dan aku adalah 'BUDAK'-nya.

TAMAT

My Teacher - 1

Aku sudah memperhatikannya semenjak aku duduk di kelas 1 SMU. Ibu Anna, guru biologi kelas 2. Diantara guru-guru disekolah ini tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Dalam hati aku menyukai Ibu guru ini. Sering aku menjadi salah tingkah jika tak sengaja berpapasan dengannya. Meskipun usianya menginjak 30 tahun namun hal itu tidak mengubah apa-apa pada dirinya. Ia tidak kalah di banding teman-teman sekelasku. Hal yang kunanti akhirnya tiba juga. Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan pelajaran biologi di kelas 2.

Aku menjadi gugup ketika tiba giliranku untuk memperkenalkan diriku padanya. Dan tak lama kemudian dia mulai memberikan pelajarannya. Aku memang tidak pernah melakukan hubungan sex sebelumnya, namun aku sudah keranjingan film porno semenjak kelas 1 SMP. Penisku mulai ereksi karena fantasi-fantasi pornoku, dan tentunya objekku adalah Ibu Anna. Ketika dia membelakangi kelas, aku membayangkan meremas payudaranya dari belakang, dan pada saat dia membungkuk untuk mengambil penghapus papan tulis aku membayangkan aku sedang melakukan doggie style dengannya.

2 jam pelajaran kulewati tanpa mendapat apa-apa. Aku sibuk dengan fantasiku pada Ibu Anna, apalagi semalam aku menonton film porno yang pada salah satu adegannya si wanita mengoral penis si pria sampai berejakulasi didalam mulutnya, kemudian dengan rakus si wanita menelan sperma pria itu. Bibir Ibu Anna yang bergerak-gerak menerangkan tentang organisme bersel satu kufantasikan sedang mengulum penisku sehingga hanya kelihatannya saja aku memperhatikan ucapannya, padahal pikiranku saat itu sedang liar. Aku yakin jika Ibu Anna bisa mengetahui pikiranku dia akan pingsan karena terkejut.

Selesai pelajaran biologi ada istirahat makan siang. Aku segera menuju ke kamar mandi pria "tempat keramatku". Kubuka ritsletingku, kukeluarkan penisku yang ereksi, kemudia kukocok dengan cepat, tak sampai 2 menit aku sudah berejakulasi. Setelah berejakulasi aku merasa pikiranku menjadi tenang, dan akupun menuju kantin sekolah untuk membeli makanan.

Berikutnya ada pelajaran kimia, kali ini aku masih bisa berkonsentrasi pada pelajaran karena guruku kali in Ibu Lina, usiannya sudah 50 tahun. Dengan cepat 2 jam pelajaran terlewati. Kini sudah saatnya untuk pulang. Namun aku tidak langsung pulang, melainkan aku meminjam catatan biologi milik temanku dan akupun kemudian menyalinnya untuk mengejar ketinggalanku tadi. Aku melihat jam dinding sudah menunjukan jam 2:30 siang. Akupun membereskan buku-bukuku dan bersiap pulang. Akan kulanjutkan dirumah pikirku.

Aku berjalan keluar dari kelasku. Tak sampai beberapa meter aku menghentikan langkahku. Di sebelah kelasku adalah kelas 2c, tidak ada seorangpun disana sedangkan lampunya masih dinyalakan, namun bukan itu yang menarik perhatianku. Tas berwarna hitam yang terletaK diatas meja guru, aku yakin itu adalah milik Ibu Anna. Apa dia lupa tasnya? Tanyaku dalam hati. Dengan perlahan aku memasuki kelas itu, kulihat sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun disana.

Jantungku berdebar kencang ketika aku dengan perlahan membuka tas itu. Seakan tidak percaya pada apa yang ada ditanganku. Itu adalah celana dalam wanita berwarna putih. Aku melihatnya lebih jelas, celana dalam itu nampaknya sedikit lembab, dan segera ada bau aneh yang tercium olehku. Kudekatkan hidungku ke celana dalam itu untuk menghirup lebih bayak bau yang keluar dari celana dalam itu.

"Ngapain kamu disini!"

Dengan cepat aku membalikkan tubuhku. Jantungku seakan berhenti melihat Ibu Anna berdiri dihadapanku melotot padaku. Karena terkejutnya tanganku masih menggenggam celana dalam itu. Mulutku terbuka namun tidak dapat berkata apa-apa. Ibu Anna melihat tanganku, dia tampak kaget.

"Kamu anak kelas 2b?" tanyanya padaku dengan nada membentak.
"Iya Bu," jawabku dengan suara tercekat.

Ibu Anna lalu berjalan mendekatiku dan dengan cepat merebut celana dalam ditanganku, lalu mengambil tasnya dan memasukKan celana dalam itu ke dalam tasnya. Aku terdiam tertunduk, tak tahu apa yang harus aku perbuat.

"Kamu benar-benar kurang ajar," katanya padaku.

Aku terdiam tidak berani membantahnya.

"PPLAAKK!"

Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Rasanya panas seperti terbakar.

"Maaf Bu," ujarku dengan pelan.
"Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini kalau saya adukan masalah ini kepada kepala sekolah," ujarnya padaku.

Aku masih terdiam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

"Ikut saya ke kantor," kata Ibu Anna padaku.
"Jangan Bu.. Saya minta maaf Bu," ujarku padanya.

Dia tidak menghiraukan perkataanku. Tangannya menarik tanganku.

"Jangan Bu, jangan laporkan saya.. Hukum saja saya Bu," kataku padanya.

"Dihukum? Kamu kira kamu cukup dihukum?" ujarnya dengan marah.

Aku terdiam, mataku sudah berkaca-kaca menahan air mata. Aku tidak ingin dilaporkan ke kepala sekolah. Pasti orang tuaku akan dipanggil kesekolah lalu diberitahu perbuatanku, terlebih lagi aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah.

"PPLLAAKK!!"

Kembali Ibu Anna menampar pipiku dengan keras. Kepalaku terasa berdenyut-denyut akibat tamparannya.

"JAWABB!!" teriak Ibu Anna di depan wajahku.

Tanpa bisa kutahan aku mulai menagis. Air mata mengalir deras dipipiku. Aku masih terdiam tertunduk sesaat, lalu.

"Tolong Bu jangan laporkan saya.. Saya mau dihukum apa saja Bu asal jangan laporkan saya," aku berkata sambil menagis terisak.

Kami terdiam sesaat.

"Kamu mau dihukum apa saja?" tanya Ibu Anna dengan pelan.
"I.. Iya Bu saya mau," ujarku dengan cepat melihat ada kesempatan.

Ibu Anna terdiam, seperti sedang berpikir.

"Besok jam 8 pagi datang ke sekolah, tunggu di depan pagar," ujarnya padaku.
"Baik Bu," jawabku tanpa berpikir panjang.

Ibu Anna segera berjalan keluar. Aku menarik nafas panjang, bersyukur tidak terjadi sesuatu yang kutakutkan. Aku terdiam sesaat dikelas mencoba menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Sesudah itu aku beranjak pulang. Aku masih menyempatkan melihat parkiran. Tidak ada mobil Ibu Anna disana, berarti dia tidak melaporkan perbuatanku pada kepala sekolah. Dengan tenang aku melangkah pulang.

Aku terpaksa mengorbankan kegiatanku pada hari minggu pagi ini. Aku biasa bermain bola pada hari minggu pagi jam 8, namun tentu saja aku tidak akan melanggar janjiku pada Ibu Anna. Kurang sepuluh menit aku sudah menunggu dipagar sekolah. Aku mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna biru tua. Semalaman aku susah tidur membayangkan apa kira-kira hukuman yang akan diberikan Ibu Anna padaku.

Aku berpikir mungkin aku akan dihukum menulis, atau menyalin buku catatan, atau yang lebih parah lagi aku dihukum membersihkan rumahnya. Aku masih bisa tersenyum membayangkan hal-hal itu. Aku merasa sudah sekitar 10 menit menunggu disitu. Dan benar saja tak lama kemudian aku melihat mobil katana perlahan berhenti di depanku. Aku tahu itu mobil Ibu Anna, namun aku tidak langsung menghampirinya. Lalu pintu mobil di bagian penumpang terbuka, seakan menyuruhku masuk, akupun menghampirinya. Aku melihat Ibu Anna duduk dikemudi.

"Naik," perintahnya.

Kami sama sekali tidak bicara apa-apa, sesekali aku mencuri lihat ke arah Ibu Anna. Dia tampak lain sekali hari ini pikirku. Ibu Anna mengenakan kaos berwarna kuning dan celana pendek berwarna coklat. Berbeda sekali dengan waktu biasa mengajar dimana dia mengenakan setelah jas dan rok formal.

"Nama kamu Indra?" tanya Ibu Anna dengan tiba-tiba.
"Iya Bu," jawabku.

Lalu kami kembali terdiam. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah. Dia menghentikan mobilnya lalu turun. Aku juga segera mengikutinya. Tanpa bicara Ibu Anna membuka pintu rumah itu lalu menyuruhku masuk. Dengan tidak berbicara aku masuk mengikutinya. Ibu Anna memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Dia membawaku masuk kedapur.

"Cuci piring-piring itu, awas kalau sampai ada yang pecah," Ibu Anna berkata demikian sambil menunjuk ketumpukan piring kotor.
"Saya beri kamu waktu setengah jam, harus sudah selesai," ujarnya lagi.
"Baik Bu," jawabku.
"Oh ya.. Pakai ini," kata Bu Anna sambil melemparkan sebuah kain kepadaku.

Aku menangkapnya, tampaknya itu sebuah celemek. Tanpa bicara aku segera memakainya, sebenarnya aku enggan karena hal itu membuatku malu. Aku terlihat seperti pelayan, namun aku tidak berani berkata apapun, takut nanti Ibu Anna berubah pikiran. Hukuman ini tidak seberapa jika di bandingkan dikeluarkan dari sekolah pikirku. Ibu Anna lalu membantu mengikatkan tali dipunggunku. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh pada saat Ibu Anna tersenyum melihat aku mengenakan celemek itu. Dia lalu beranjak pergi meninggalkanku. Dan langsung saja aku memulai pekerjaanku.

Ibu Anna tampaknya keluar dari rumah, karena aku mendengar suara pintu yang dibuka, tapi nampaknya ia tidak menggunakan mobilnya. Aku segera menghentikan pikiranku dan mulai mengerjakan mencuci piring-piring kotor itu. Sebenarnya piring-piring itu tidak banyak, namun karena aku tidak pernah mencuci piring sebelumnya ditambah aku ingin Ibu Anna puas akan pekerjaanku makan membutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk menyelesaikannya. Ketika tinggal satu piring lagi tersisa aku mendengar suara pintu dibuka, lalu aku juga mendengar pintu itu dikunci. Agak heran juga aku akan perbuatan Ibu Anna. Aku mendengar langkah sepatu, ketika aku menoleh aku melihat Ibu Anna. Tampaknya ia sehabis olah raga. Keringat mengalir deras ditubuhnya, tangannya mengipas-ngipas wajahnya.

"Tinggal satu Bu," kataku padanya.
"Bagus," jawabnya
"Kalau sudah selesai kamu bilang pada Ibu ya," katanya dengan lembut.

Mendengar perkataanya aku makin semangat menyelesaikan pekerjaanku. Bahkan aku sempat berpikir yang tidak-tidak melihat Ibu Anna yang tubuhnya penuh keringat itu. Tak lama akupun menyelesaikannya. Aku berjalan menuju Ibu Anna yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara TV.

"Sudah Bu," kataku padanya.
"Benar sudah semua?" tanyanya memastikan.
"Iya Bu," jawabku.
"Bagus, sini ikut Ibu," katanya padaku sambil berdiri.

Aku berjalan mengikuti dibelakangnya. Dia membawaku kekamar, sepertinya itu adalah kamarnya karena itu merupakan kamar satu-satunya di rumah ini. Tampaknya Ibu Anna tinggal sendirian dirumah ini. Aku segera berpikir yang tidak-tidak ketika memasuki ruangan itu. Tanpa kusadari penisku mulai menegang karena fantasiku. Ruang kamar tidur itu luas sekali, didalamnya ada kamar mandi yang pintunya hanya berupa kain plastik yang bisa digeser seperti diruang untuk mencoba baju di mal-mal.

Ada satu hal yang menarik perhatianku, ruangan ini tidak seperti ruangan wanita yang pada umunya rapi. Ruangan ini berantakan. Ada baju kotor dimana-mana. Aku berpikir pastilah aku disuruh membersihkan ruangan ini.

"Besok saya akan melaporkan perbuatan kamu pada kepala sekolah," kata Ibu Anna padaku.

Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

Bersambung . . . . .

My Teacher - 2

"Tapi Bu.," kataku padanya.
"Diam!" bentaknya dengan marah.
"Tapi Ibu bilang..,"
"PPLLAKK!!" Sebuah tamparan keras mengenai pipiku.
"Diam!" bentaknya lagi.

Aku terdiam sambil tanganku mengusap-usap pipiku yang panas.

"Perbuatan kamu kemarin benar-benar kurang ajar, tidak ada hukuman yang sebanding dengan perbuatanmu," katanya padaku.

Dia terdiam sejenak.

"Sekarang kamu pulang!" katanya padaku.
"Saya bersedia dihukum apa saja Bu" kataku padanya dengan cepat.

Dia kembali terdiam, tampaknya sedang menimbang-nimbang perkataanku.

"Apa saja?" tanyanya.
"Iya Bu apa saja," jawabku yakin.
"Baik mulai sekarang kamu lakukan apa yang Ibu suruh, jangan sekali-kali melawan," katanya padaku.
"Baik Bu," jawabku sedikit kesal.

Aku melihatnya tersenyum padaku. Aku menatap matanya seakan menunggku apa yang akan dia perintahkan padaku.

"Kebelakangkan tangan kamu," katanya padaku.

Aku menuruti perintahnya meskipun aku heran sekali mendengar perkataannya. Ibu Anna berjalan kebelakangku dan tangannya dengan lembut memegang kedua tanganku yang terletak dibelakang. Jantungku berdetak cepat merasakan tangan lembutnya memegang tanganku, bahkan tangan Bu Anna yang lain meremas-remas pantatku. Aku merasa terkejut dan tidak nyaman dengan perlakuannya, namun aku tidak berani berkata apa-apa. Meskipun Ibu Anna dibelakangku aku dapat merasakan dia sedang mengerjakan sesuatu dibelakangku. Aku tidak berani menoleh kebelakang karena aku tahu Ibu Anna bisa sewaktu-waktu berubah pikiran, maka itu sekarang ini aku lebih baik tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Dengan cepat Ibu Anna selesai mengikat kedua tanganku. Ketika aku sadar apa yang terjadi padaku aku memberanikan diri melihat apa yang terjadi padaku. Aku melihat kedua tanganku diikat dengan sesuatu, tampaknya itu adalah sebuah BH berwarna putih. Aku mencoba menggerakan kedua tanganku, tapi nampaknya Ibu Anna mengikat dengan benar-benar kuat

Terkejut dengan keadaanku, dengan cepat aku membalikkan badanku sehingga berhadapan dengannya. Sebuah tamparan keras mengenai wajahku sesaat sebelum aku mengucapkan sesuatu. Kali ini Ibu Anna menampar dengan sekuat tenaganya. Tidak siap akan hal itu akupun kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab dilantai.

"DIAM! Jangan banyak bicara," bentaknya padaku.

Aku telungkup di lantai. Kukejap-kejapkan mataku mengusir cahaya kelap-kelip. Aku merasakan sesuau menindih tubuhku, tampaknya itu adalah tubuh Ibu Anna. Tangannya melepas tali pada celemek yang sejak tadi masih aku kenakan. Lalu dia membalikkan tubuhku. Tangannya bekerja dengan cepat melepas ikat pinggangku. Selama dia melakukannya aku tidak berbicara apa-apa. Jika tadi aku takut dia akan melaporkanku, kini aku takut jika dia kembali menamparku. Tamparannya benar-benar keras, sampai sekarang aku masih merasakan pipiku panas terbakar dan kepalaku berdenyut-denyut karenanya.

Ibu Anna mencoba mengikat kakiku dengan ikat pinggang yang berhasil dilepasakannya dari celanaku. Aku mencoba memberontak setelah mengetahui apa yang akan dilakukannya namun terlambat, dia sudah mengikat dengan kuat kedua kakiku. Dia melibat kedua kakiku dengan ikat pinggangku lalu menguncinya.

"Bu kenapa?" aku ingin bertanya banyak hal namun cuma itu yang keluar dari mulutku.
"DIAM!" bentaknya.

Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia melepaskan celana pendeknya lalu masih tetap di hadapanku dia melepaskan celana dalamnya juga. Dengan tanpa halangan aku dapat melihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Dengan cepat dia melepaskan tali pada celana pendeknya lalu dia membawa tali itu bersama dengan celana dalamnya ke arahku. Penisku dengan cepat menegang melihat pemandangan di depanku itu. Dengan tangannya Ibu Anna menjepit hidungku dengan pelan. Untuk menghirup udara aku membuka mulutku dan pada saat itulah tangannya mencengkram pipiku, kemudian dengan kasarnya dia memasukkan celana dalam yang bekas dipakainya itu ke dalam mulutku. Dia menekan-nekan celana dalam itu dengan keras sehingga membuatku hampit tersedak. Tidak hanya sampai disana, setelah celana dalam itu masuk seluruhnya dalam mulutku dia mengikatkan tali yang tadi dibawanya melingkari mulutku yang tersumpal celana dalam itu lalu mengikatnya. Kini meskipun aku berusaha sekuat tenagaku aku tidak bisa mengeluarkan celana dalam itu dari mulutku.

Setelah sesaat aku baru merasakan rasa asin dimulutku. Aku yakin asalnya dari celana dalam itu. Aku memang tidak pernah merasakan cairan wanita, namun dari artikel yang pernah kubaca, cairan itu berasa asin. Dengan puas Ibu Anna melihat hasil pekerjaannya pada diriku. Melihat hasil pekerjaannya yang cepat pastilah hal ini sudah direncanakannya. Aku terbaring tak berdaya. Kedua tanganku terikat dengan kuat, demikian pula dengan kakiku. Mulutku tersumbat penuh oleh celana dalam miliknya.

Kancing kemejaku sudah dilepaskan semua olehnya. Dada telanjangku terpampang dengan jelas. Ibu Anna tidak berhenti sampai disana. Tangannya dengan cepat membuka kancing celana jeans yang kukenakan, membuka retsletingnya lalu dengan cepat memelorotkan celana itu sampai kelututku. Kini praktis tinggal celana dalam berwarna hitam yang masih menutupi tubuhku. Penisku yang tegang tercetak jelas disana. Ibu Anna melihatnya dengan pandangan mengejek ke arahku. Dengan sekali tarik celana dalam itu merosot sampai ke lututku. Aku berusaha menggerakkan tubuhku kesamping untuk menutupi ketelanjanganku. Aku malu sekali akan keadaanku sekarang apa lagi di hadapanku adalah Ibu Anna, guru yang kusukai.. Dulu.

Ibu Anna dengan santainya menahan pinggulku dengan telapak kakinya, praktis aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Perlahan telapak kaki Ibu Anna bergerak ke arah penisku yang tegang. Dengan lembut dia mengusap-usap penisku dengan kakinya, lalu kakinya perlahan bergerak ke testisku. Dengan jari-jari kakinya dia memainkan testisku.

Aku menatapnya seakan tidak percaya bahwa dia adalah Ibu Anna yang selama ini kukenal. Aku merasa sakit oleh karena perbuatannya, namun yang lebih kurasakan adalah rasa malu.

"Enak ya?" katanya padaku sambil tersenyum.
"Mpphh.. Mpphh," aku berusaha mengatakan sesuatu namun sumpal dimulutku tidak memungkinkan aku untuk mengeluarkan suara yang bisa dimengerti.

Ibu Anna berjalan menujuku sampai berada dekat sekali denganku. Dengan perlahan dilepaskannya kaos yang dikenakannya. Aku melihat dia mengenakan BH warna hitam. Tak sampai disana dia juga melepaskan BH itu. Di hadapanku Ibu Anna telanjang bulat, hanya sepatu kets warna putih dan kaos kaki yang masih dikenakannya. Aku dapat melihat tubuhnya yang berkilat akibat keringat yang mengalir deras ditubuhnya.

Suatu pemandangan yang sebelumnya kuanggap mustahil kulihat dikenyataan. Ibu Anna belum pernah menikah, maka itu tubuhnya masih langsing di usiannya. Ukuran buah dadanya juga sempurna dengan tubuhnya. Tangannya membawa BH yang tadi dilepaskannya ke arah wajahku. Dia menggunakan benda tersebut untuk menutup mataku lalu mengikatnya dibelakang kepalaku. Pandanganku hampir seluruhnya tertutup oleh BH itu, hanya bagian sudut mataku saja yang masih bisa melihat, itupun terbatas.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, apakah Ibu Anna demikian mendendamnya padaku akibat perbuatanku waktu itu. Aku merasakan ada tangan yang mencengkram rambutku.

"Bangun kamu anjing!" bentak Ibu Anna.

Sebenarnya aku tidak mempunyai keinginan untuk membantah perkataannya, namun ikatan ditanganku terlebih di kakiku tidak memungkinkanku untuk dapat berdiri.

"Mp.. MMm.. PPHhH.." aku mencoba menjelaskan pada Ibu Anna.
"PPLLAAKK!!" sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
"BANGUN!!" bentaknya keras.

Dengan segenap tenaga aku berusaha untuk bangun, akhirnya setelah dibantu oleh Ibu Anna akhirnya aku bisa berdiri. Dengan kasar Ibu Anna mencengkram penisku yang tegang, dapat kurasakan kuku-kukunya mengenai permukaan kulit penisku. Dengan mencengkram penisku Ibu Anna memaksaku untuk berjalan mengikutinya. Tentu saja ikatan pada kakiku tidak memungkinkanku untuk bergerak dengan leluasa. Dengan terseok-seok aku mengikuti langkah Ibu Anna. Untung saja ia tidak membawaku jauh, aku hanya merasa berjalan beberapa langkah. Dengan tiba-tiba tubuhku didorongnya hingga terhuyung kebelakang. Aku merasa terkejut dan bersiap-siap untuk jatuh ke lantai.

Ternyata aku tidak terjatuh ke lantai, melainkan ke ranjang. Dengan susah payah Ibu Anna membuat tubuhku berada di tengah-tengah ranjang itu. Karena perbuatannya penutup mataku bergeser sedikit. Ibu Anna menyadarinya lalu kembali membetulkan letak BH itu. Sesaat aku terdiam dalam posisi tersebut. Aku tidak tahu apa rencana Ibu Anna padaku, maka itu aku diam saja tidak bergerak.

"CCTTAARR!"

Tubuhku tersentak kaget. Aku merasakan perih pada pahaku.

"CCTTAARR!"
"CCTTAARR!"
"CCTTAARR!"

Bertubi-tubi aku merasakan perih pada tubuhku. Aku tidak tahu apa yang digunakan Ibu Anna untuk mencambukiku. Aku berusaha berguling-guling untuk menghindari pukulannya. Ibu Anna tidak peduli, dia terus mencambukiku dengan sangat keras. Hingga akhirnya aku terpojok pada sudut ruangan itu. Dan aku pun menjadi bulan-bulanannya. Dia terus mencambukiku sampai sekitar 30 kali baru berhenti. Entah karena dia kelelahan atau apa, yang pasti aku sangat lega dia menghentikan mencambukiku. Hampir seluruh tubuhku terkena pukulannya. Rasa perih dan panas berdenyut-denyut di seluruh tubuhku.

Aku dapat merasakan ikatan kakiku dibuka olehnya, "Jika kamu berani bertindak bodoh siap-siap saja terima hukuman lagi" ancamnya padaku. Setelah itu dengan cepat dia melepaskan celana jeans dan juga celana dalamku. Ibu Anna menjambakku dan menarikku untuk mengikutinya.

Aku dapat merasakan kakiku menginjak lantai yang basah, sepertinya Ibu Anna membawaku ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Aku didorongnya hingga terjerembab di lantai kamar mandi itu. Ibu Anna kemudian menyiramku dengan air. Setelah tubuhku basah semua, dia kembali mencambukiku. Aku berguling-guling di lantai kamar mandi itu untuk menghindari pukulannya. Perbuatanku tampaknya makin membuat Ibu Anna berang.

"Bangsat! Dasar anjing tidak tahu diri!" bentaknya keras padaku.

Tidak pernah kubayangkan Ibu Anna bisa berkata seperti itu. Aku mencoba untuk berdiri, namun tangan Ibu Anna menjambak rambutku dan kembali menghempaskan aku ke lantai. Aku terjatuh teletang di lantai.

"BUKK!"

Sebuah tendangan mendarat tepat di perutku. Aku terbatuk-batuk, namun karena mulutku tersumbat akibatnya malah aku tersedak. Jika saja tidak ada sumpal di mulutku aku pasti sudah memuntahkan isi perutku.

"Pelajaran buat kamu.. Jangan pernah mencoba melawan.. Mengerti?" kata Ibu Anna padaku. Salah satu kakinya menekan testisku.

Bersambung . . . . . .

My Teacher - 3

Dengan lemah aku mengangguk. Kakinya masih "memainkan" testisku. Aku kesakitan, namun tidak memberontak sedikitpun. Tangan Ibu Anna memegang pergelangan kaki kananku. Dia menariknya kesamping lalu mengikatnya, lalu ujungnya diikatkan ke suatu tempat. Ibu Anna lalu melakukannya dengan kakiku yang satu lagi. Kedua kakiku terpentang lebar ke kiri dan kanan. Agak sakit juga kakiku dipentangakan demikian lebar. Aku mencoba menggerakkan kakiku, namun kakiku sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Ibu Anna benar-benar kuat mengikat kedua kakiku.

Keadaanku benar-benar mengenaskan. Mataku tertutup oleh BH hitam yang tadi masih dikenakan Ibu Anna, bahkan wanginya masih dapat kurasakan sekarang. Mulutku disumpal oleh celana dalamnya yang habis dikenakannya, lalu diikat dengan tali. Tanganku masih terikat kebelakang, tertindih oleh tubuhku. Kemeja yang tadi kukenakan sudah basah kuyub dan masih tersangkut di pergelangan tanganku. Yang lebih parah kedua kakiku dipaksa merentang lebar oleh ikatan tali sampai pantatku sedikit terangkat dari lantai kamar mandi itu. Dan tentunya Ibu Anna bisa melihat dengan jelas seluruh tubuhku, termasuk juga alat-alat kelaminku.

Sekali renggut Ibu Anna membuka penutup mataku. Tubuhnya masih telanjang bulat seperti tadi. Keringat mengalir deras ditubuhnya. Salah satu tangannya membawa ikat pinggang kulit. Tampaknya benda itu yang dia pakai untuk mencambukiku. Penisku yang sudah lemas kembali mengeras melihat pemandangan di depanku. Ibu Anna kemudian mengeluarkan celana dalam dari mulutku, namun masih membiarkan ikatan talinya. Bahkan Ibu Anna memperkuat ikatan tali itu. Mulutku sampai dipaksa mengaga karena ikatan tali itu.

Ibu Anna mendekatiku. Wajahku terletak tepat di bawah kedua kakinya. Dengan perlahan dia menurunkan pinggulnya sampai vaginannya menempel tepat dimulutku yang terbuka. Dapat ku cium aroma keras dari vaginanya. Kedua pahanya ada di sisi kiri kanan kepalaku dan menekan kepalaku dengan keras membuat kepalaku tidak dapat bergerak sedikitpun. Ibu jari dan telunjuknya menjepit hidungku, sehingga mau tidak mau aku bernafas melalui mulut. Dan pada saat itulah aku merasakan air menyembur ke dalam mulutku. Tanpa dapat kutahan aku menelan cairan itu. Aku tahu bahwa itu adalah air kencing Ibu Anna. Aku berusaha tidak menelannya, namun tak lama kemudian aku sudah kehabisan nafas. Dengan tersedak-sedak aku menelan air kencing itu.

Aku benar-benar terhina dengan perlakuan Ibu Anna. Aku menelan air kencing itu agar aku dapat bernafas dengan mulutku, namun seakan tidak pernah berakhir Ibu Anna masih terus mengeluarkan air kencingnya. Aku terus-menerus menelan dengan cepat cairan itu. Pandangan mataku perlahan-lahan menjadi gelap. Dadaku serasa panas terbakar. Ketika aku sudah hampr pingsan baru Ibu Anna menghentikannya.

Dengan cepat dia memindahkan semprotan air seninya ke arah wajahku. Dengan cepat aku meneguk cairan yang tersisa di mulutku. Baru setelah itu aku kembali dapat bernafas dengan mulutku. Jantungku berdetak dengan cepat. Dengan susah payah kuatur nafasku yang terengah-engah. Mataku yang tersiram sedikit terasa perih maka itu ku pejamkan kedua mataku. Tak lama kemudian Ibu Anna selesasi mengeluarkan semuanya. Dia melepaskan jepitan tangannya pada hidungku. Baru pada saat itu aku dapat mencium bau pesing dari air kencing Ibu Anna. Perutku terasa kembung oleh cairan itu. Wajah dan rambutku hampir semuanya tersiram air kencing Ibu Anna. Aku masih tidak bisa membuka mataku karena perih terkena cairan itu. Kemudian aku mendengar langkah kaki Ibu Anna meninggalkan ruangan itu.

Aku ditinggalkannya sendirian dalam ruangan ini. Tanganku yang tertindih tubuhku terasa sakit dan pegal sekali. Kedua telapak kakiku terasa dingin karena tidak dialiri darah. Hal ini masih lebih baik jika dibanding Ibu Anna masih disini. Entah dengan cara apa lagi dia akan menyiksaku. Dengan cepat lelah menyerang tubuhku. Aku mencoba untuk tidur dengan keadaan demikian, namun dengan cepat aku terbangun.

Lama kelamaan aku makin merasa tersiksa dalam posisi demikian. Tubuhku sudah kering, demikian juga dengan wajahku yang tadi dikencinginya. Bau pesing tidak dapat hilang, tiap kali aku bernafas bau itu tercium juga. Namun yang paling parah adalah tangan dan kakiku yang sakit sekali. Entah berapa lama aku dalam keadaan demikian. Perasaanku aku sudah berjam-jam di dalam kamar mandi itu.

Aku mendegar seseorang masuk ke dalam kamar. Sesaat kemudian Ibu Anna masuk ke dalam kamar mandi itu. Dia mengenakan baju bali tipis berwarna putih dan celana yang sangat pendek. Puting susunya tercetak jelas di pakaiannya. Dia tersenyum melihat keadaanku.

"Turuti semua perintah Ibu, kalau tidak mau di hukum lebih parah, " katanya padaku.

Dengan susah-payah aku mencoba untuk mengangguk.

Ibu Anna berjalan ke arahku, lalu tangannya menyalakan shower dan mulai menyiram tubuhku. Tampaknya dia sedang membersihkan tubuhku dari sisa-sisa air kencingnya. Setelah kira-kira sudah bersih dia menghentikan pekerjaannya, lalu tangannya mulai membuka ikatan di mulutku. Aku merasa lega sekali ketika ikatan di mulutku sudah terbuka. Rongga mulutku kering dan rahangku terasa pegal sekali akibat mulutku terus-menerus dipaksa terbuka.

Ibu Anna kemudian membuka ikatan tali pada kedua kakiku. Kakiku terasa lemas sekali seperti tidak ada tenaga sama sekali. Untuk beberapa saat aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku. Ibu Anna bekerja dengan cepat, sesudah membuka ikatan kakiku dia membalikkan tubuhku dan membuka ikatan pada tangannku. Kemejaku yang basah di lepaskannya dari tanganku.

Dengan menarik rambutku Ibu Anna membawaku keluar dari kamar mandi itu. Aku berjalan terhuyung-huyung karena kakiku masih belum sepenuhnya pulih. Setelah kami berada di ruang tidurnya barulah Ibu Anna melepaskan tangannya dari rambutku. Aku berdiri dengan goyah. Kakiku seakan tidak kuat menahan berat badanku sendiri.

"Berlutut!" bentaknya padaku.

Dengan lutut gemetar aku mencoba untuk berlutut. Dengan kasar tangan Ibu Anna menekan kepalaku sampai mengenai kakinya.

"Bersihkan kakiku!" katanya padaku.

Aku menatap matanya dengan pandangan tidak mengerti. Aku memang tidak terlalu menangkap maksud perkataannya. Aku sudah memikirkannya, lebih baik untuk sementara ini aku menuruti semua perkataanya dan juga aku menjaga agar tidak terlalu banyak bicara.

"Jilati kaki majikan kamu, anjing!" katanya padaku dengan dingin.

Aku seperti disiram air dingin mendengar perkataannya padaku. Aku menatap kaki Ibu Anna, melihat kulit kakinya yang mulus dan bersih. Tidak ada alasan buatku untuk membantah perintahnya. Baru ketika aku mau melakukannya.

"CCTTAARR!!"

Sebuah pukulan mendarat di kulit pantatku.

"Aaahh!!" teriakku kesakitan.
"Kamu memang benar-benar seperti anjing, harus dipukul baru mengerti" katanya padaku.

Dengan cepat kedua tanganku memegang kaki Ibu Anna yang disodorkannya padaku. Lidahku mulai menyapu permukaan kakinya.

"CCTTAARR!!"

Kembali sebuah pukulan mendarat di pantatku.

"Aaahh!!" teriakku.

Mataku menatap matanya seakan memprotes tindakannya. Ibu Anna bukannya tidak tahu perbuatanku.

"DIAAM!!" bentaknya sambil menampar keras pipiku.
"Kecuali saya ijinkan kamu tidak boleh berbicara apa-apa," katanya padaku.
"Mengerti?" lanjutnya.

Aku hanya mengangguk.

"Lanjutkan tugas kamu," katanya lagi.

Aku melakukannya dengan cepat, sementara itu Ibu Anna sesekali masih mencambuk pantatku dengan ikat pinggang itu. Aku tidak berani untuk berteriak, aku hanya menahan meskipun sesekali keluar juga erangan kecil dari mulutku.

"CCTTAARR!!"
"Bersihkan juga sela-sela jarinya," perintahnya padaku.

Dengan patuh aku melakukan semua perintahnya padaku. Setelah sekitar lima menit dia mengganti dengan kakinya yang satu lagi.

Setelah Ibu Anna merasa sudah cukup, dia menyuruhku untuk berhenti. Ibu Anna memberiku isyarat untuk mengikutinya. Kemudian Ibu Anna mengambil 2 utas tali yang tergeletak di lantai dan juga celana dalam yang tadi digunakannya untuk menyumpal mulutku. Perasaanku mengatakan tali itulah yang digunakannya untuk mengikat kedua kakiku tadi.

Aku berjalan di belakangnya dengan wajah menunduk. Ibu Anna membawaku keluar dari kamarnya. Mataku melihat sekeliling, tidak ada orang lain selain kami di rumahnya. Ibu Anna membawaku ke bagian belakang rumah itu. Di sana ada ruang terbuka, namun di skelilingnya dipagari tembok tinggi. Tidak mungkin ada orang yang dapat melihat kami, pikirku. Dapat kukatakan fungsi ruangan itu adalah sebagai tempat menjemur baju.

Ibu Anna membawaku ke arah tiang besi yang letaknya di tengah-tengah ruangan itu. Dasar tiang besi itu tertanam dalam lantai, tampaknya sangat kokoh. Diameter tiang itu sekitar 10 centi dengan tinggi sekitar 2 meter dan di cat berwarna hitam. Fungsinya adalah tempat untuk mengikat tali jemuran. Ibu Anna melepaskan tali yang terikat di tiang itu. Setelah semuanya terlepas, Ibu Anna menyuruhku untuk berdiri dengan punggungku menempel di tiang tersebut. Kedua tanganku di tarik kebelakang lalu kedua pergelangan tanganku diikat jadi satu oleh tali yang tadi dibawanya. Tali itu adalah tali sepatu miliknya.

Tak ketinggalan kedua kakiku juga diikat menjadi satu dengan tiang itu. Dan terakhir Ibu Anna mengambil tali jemuran yang tali dilepaskannya. Diikatnya leherku dengan tali itu menyatu dengan tiang itu. Kaki dan tanganku diikat dengan kuat, namun sebaliknya ikatan pada leherku dibuat sedikit longgar. Setelah diriku dalam posisi demikian, Ibu Anna mulai mengayunkan benda yang ada di tangannya.

"CCTTAARR!!"
"CCTTAARR!!"
"CCTTAARR!!"

Terus menerus Ibu Anna mengayunkan tangannya. Akupun tidak ketinggalan untuk menjerit-jerit, namun tanpa kusadari aku berusaha menahan jeritanku, aku takut jeritanku terlalu keras sehingga membuat orang-orang sekitar mendengarnya. Cambukannya mengenai dada, perut dan juga pahaku, bahkan ada sebuah yang nyaris mengenai alat vitalku. Dengan menahan sakit aku menerima pukulah-pukulan itu.

Sudah sekitar 20 kali Ibu Anna mencambukiku, namun tampaknya belum ada tanda-tanda dia akan menghentikannya. Mau tidak mau aku merasa heran juga dengan kekuatannya. Setelah beberapa kali lagi mencambukku Ibu Anna kemudian menghentikannya. Tangannya memunguti jepitan-jepitan baju yang berserakan di lantai. Dia mengambil 4 diantaranya, kemudian membawanya ke arahku.

Dengan perlahan tangannya mencoba menjepitkannya pada putingku. Aku tidak berkata apa-apa, namun mataku memandang perbuatannya dengan gelisah.

"Aaahh" teriakku keras ketika Ibu Anna menjepitkannya.

Bersambung . . . .