Pesta seks anak muda

Malam tahun baru 1998 yang lalu, gue diundang ke suatu pesta anak-anak muda kalangan the have. Pestanya diadakan di suatu villa di Curug Sewu, di kaki gunung Salak, jalan masuknya cuma buat satu mobil. Kebetulan gue dan temen gue Ferry dateng yang paling belakang dan gue nggak nyangka waktu gue lihat mobil-mobil yang parkir di situ … Opel Blazer DOHC gue ternyata yang paling murah !!Kita berdua langsung masuk ke villa yang paling besar, di sana sudah ada beberapa orang tamu … cowok cewek, semuanya anak muda dengan dandanan yang keren. Ferry langsung ngenalin gue ke tuan rumahnya, dia cewek dengan tubuh yang aduhai … umurnya kurang lebih 26 tahun, namanya Elena. Menurut Ferry, dia adalah anak seorang bankir di Jakarta.

Nggak lama kemudian, Elena ngebuka acara hura-hura ini …. Sambil makan Ferry bilangin gue kalau nanti jangan kaget, dengan bisik-bisik dia bilang, “Ndra, coba elo itung jumlah cowok sama ceweknya sama nggak ?”. Selintas gue hitung dan ternyata jumlahnya nggak jauh beda, gue langsung nanya, “Emangnya kenapa Fer ?”. Temen gue ini nyahutin dengan tenang, “Tenang aja Ndra, pokoknya elo puas lah !”. Sehabis makan, gue nyari kenalan buat ngobrol dan ada seorang cewek yang menarik perhatian gue.

Nama cewek ini, Vinda … tingginya sekitar 158 cm, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Dia memakai kaos yang ketat dengan belahan di dada yang cukup menantang kejantanan gue, buah dadanya nggak terlalu besar tapi bentuknya bagus. Yang paling bikin gue penasaran adalah pandangan matanya yang memperlihatkan hasrat bercinta. Untuk beberapa saat, kita berdua ngobrol kesana kemari … dan akhirnya gue tahu kalau dia baru berumur 22 tahun dan masih kuliah di suatu perguruan tinggi di daerah Kalibata.

Nggak berapa lama, suara musik disco berkumandang dan Elena berteriak lewat mike, “Dancing time, guys !!”. Dan beberapa orang langsung turun berjoget, gue nggak tahan juga akhirnya … gue tarik Vinda turun ke lantai dansa. Ternyata dia seorang pe-disco yang hot, gerakan-gerakan tubuhnya bener-bener membangkitkan kejantanan gue. Beberapa kali buah dadanya di tempel dan digoyang-goyangkan di dada gue dengan sengaja, seolah nantang gue. Kurang lebih 1 jam kita berjoget, akhirnya kita mutusin untuk break dulu. Gue nawarin dia mau minum apa dan dia nyahut dengan nakal, “Gimana kalau whisky cola aja ?”. Wah, gile juga nih cewek … abis kita minum-minum, ternyata lagunya diganti jadi slow and romantic dan Vinda langsung narik gue balik melantai. Dia langsung meluk gue … buah dadanya langsung terhimpit diantara kita berdua, dan membuat kemaluan gue menegang. Gue pikir si Vinda pasti ngerasa juga nih …. Akhirnya gue beraniin nyium belakang telinganya dan gue terusin ke lehernya, udah itu tangan kanan gue meremas dengan pelan pantatnya yang berisi dan Vinda cuma menggumam nikmat. Gerakan itu gue ulang beberapa kali, dan terasa desah nafasnya makin keras … akhirnya Vinda nggak tahan, bibir gue langsung di kulumnya … gue ngerasain lidah kita beradu. Buat makin ngerangsang, gue gesek-gesek kemaluannya pakai tangan gue.

Lagi enak-enaknya kita ciuman, tahu-tahu musik di balikin lagi jadi disco … bubar deh, rangsangan-rangsangan yang gue buat tadi. Sementara gue sama Vinda nge-slow dance, rupanya makin banyak minuman keras yang beredar. Nggak lama ada seorang cewek naik ke atas meja dan ngejoget dengan gerakan-gerakan yang hot, dan lagi-lagi Elena berteriak lewat mikenya DJ, “It’s free time … hey, Finny … show your naked body !”. Dan cewek yang lagi joget diatas meja tadi langsung ngelepasin blusnya dan disusul dengan BHnya, cowok-cowok langsung bertepuk-tangan dan bersuit-suit, sementara cewek-ceweknya berteriak histeris. Beberapa diantara mereka langsung mengadakan gerakan-gerakan sex foreplay. Dalam hati gue berteriak, “Damn, ini yang dimaksud sama Ferry tadi !”.

Akhirnya perhatian gue balik ke Vinda lagi, yang sebelumnya gue peluk dari belakang … gue cium tengkuknya yang putih, yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus dan tangan gue mulai masuk ke balik kaosnya mencari buah dadanya. Waktu gue mulai meremas buah dadanya, Vinda cuma menggeliat senang di pelukan gue, dan dia berusaha masukin tangannya ke celana gue. Sesaat kemudian, dia berbisik, “Ndra, fuck me please … gue udah nggak tahan nih !”, udah itu si Vinda narik gue ke salah satu kamar di lantai dua.

Begitu pintu ketutup, Vinda langsung meluk dan bibirnya langsung melumat bibir gue dan tangannya langsung ngelepasin ikat pinggang dan celana gue, setelah itu dengan nggak sabar dia melorotin celana dalam gue. Akhirnya kontol gue yang udah berdiri dari tadi nongol keluar dan Vinda dengan sigap menggenggam kontol gue dan diarahin ke mulutnya. Dalam sekejap kontol gue setengahnya udah masuk mulutnya, sementara itu gue ngelepasin kemeja dan gue ngerasain nikmatnya kontol dihisap dan diemut. Sambil ngebungkuk, gue ngebukain kaos sama BHnya Vinda, ternyata badannya bener bener putih mulus, teteknya bulat penuh dengan puting yang berwarna merah tua dan si Vinda masih ngemut dan ngisep kontol gue dengan bernafsu.

Setelah gue pikir dia cukup ngisepin kontol gue, si Vinda gue bimbing dan gue celentangkan di ranjang. Sesudah itu gue bukain rok dan celana dalamnya, gue ngeliat bibir kemaluannya tidak ditutupi jembut sama sekali. Ketika jari gue mulai masuk ke vaginanya, gue ngerasa vaginanya mulai basah. Sementara itu, mulut dan lidah gue mulai bermain-main di teteknya, putingnya adalah sasaran yang menggairahkan dan tangan gue yang satu nggak ketinggalan mulai ngeremas-remas teteknya yang mulai mengeras. Si Vinda cuma mendesah-desah dan menggeliat merasakan nikmatnya jari dan kecupan gue, tangannya cuma bisa menarik-narik rambut gue.

Pelan-pelan jari gue bergerak makin dalam dan akhirnya tersentuhlah clitorisnya, langsung aja si Vinda mendesah, “Uhghh, Ndra … lagii, emmhh” dan bibir gue ngerasain teteknya makin tegang. Kecupan dan jilatan lidah gue akhirnya menjelajahi kedua teteknya dan lembah diantaranya, dan jari-jari gue tetap ngemainin clitorisnya yang membuat Vinda makin menggelinjang-gelinjang dan desahannya makin keras, “Ohhh, Ndra …. Ufhh, oohhh”. Memeknya terasa makin basah dan bibir vaginanya makin menggembung, tanda nafsu birahinya makin menggelora.

Akhirnya, gue ngambil posisi 69, kontol gue jatuh diatas mulutnya dan mulut gue mulai bekerja dengan mengecup bibir vaginanya. Makin lama gue tambah kekuatan kecupan gue, makin lama dan makin kuat, sekali-kali lidah gue mendesak masuk kesisi dalam dari vaginanya. Si Vinda hanya bisa menggelinjang dan mengangkat pinggulnya, karena mulutnya lagi sibuk ngisep kontol gue. Nggak lama dia ngelepasin kontol gue dan ngejerit, “Ndra, fuck me .. please, gue nggak tahan lagi, please !”. Gue putar badan dan Vinda langsung ngebuka selangkangannya, dengan dua jari gue buka memeknya yang sudah menggembung itu dan gue gesek-gesekan kepala kontol gue ke bibir vaginanya bagian dalam. Si Vinda makin menggelinjang dan mendesah-desah, setelah itu gue masukin setengah kontol gue ke memeknya dan gue goyang maju mundur tapi gue jaga cuma setengah kontol gue yang masuk. Nggak lama Vinda ngejerit lagi, “Ndra … ayo masukin kontol elo semuanya … yang dalem Ndra …”. Tapi gue cuekin aja permintaannya itu, karena gue pingin ngebuat dia makin terangsang. Cuma kepala kontol gue yang bersenggolan sama selaput dara dan kadang-kadang gue ngerasain clitorisnya di ujung kontol gue, sementara itu goyangan gue makin cepat dan membuat Vinda makin terangsang. Si Vinda makin nggak tahan untuk dientot, “Indra … ayo dong … entot gue …emmhh, masukin yang dalem Ndra …” bujuknya manja. “Ok, kalau elo mau ngerasain panjangnya kontol gue, kita ganti posisi aja”.

Udah itu, gue ngambil posisi duduk selonjor dan si Vinda gue suruh berjongkok menghadap ke gue. Langsung aja kontol gue digenggamnya dan diarahin ke memeknya, udah itu dia ngedudukin pinggul gue dan kontol gue langsung terbenam di memeknya yang basah lembab itu. “Ok, Vin … sekarang elo goyang pelan pelan naik turun, gimana ?” dan dia nyahut, “Ndra, kontol elo bener-bener fit di memek gue … emmm, ufhhh “. Terusnya Vinda bergerak naik turun seperti orang naik kuda, gesekan kontol gue dan memeknya memberikan kenikmatan yang luar biasa, makin lama gerakannya makin cepat dan desahannya juga makin keras, “Oghhh …. Ohhhh, emmm ….. ufghh”. Dan gue juga ngerasain kontol gue dialirin cairan vagina yang makin banyak. Sementara itu, tangan gue mengelus-elus punggungnya dan meremas teteknya, gerakan teteknya yang seirama dengan naik turun badannya benar benar sensual. Kurang lebih setengah jam si Vinda berkuda diatas kontol gue, dia ngejerit kecil, “Ndra … ughhhh …. gue orgasme …. Ohhh, ohhh” dan tiba tiba aja badannya menegang dan dijatuhkannya ke badan gue, dan gue juga ngerasain kontol gue bener bener basah sama cairan vagina.

Si Vinda gue rebahin di pinggir ranjang dan gue berdiri di atas lutut gue, setelah itu gue buka kedua pahanya yang putih itu dan gue masukin lagi kontol gue ke memeknya. Gue senderin kedua kaki Vinda ke badan gue dan sambil meganin kedua kakinya, gue mulai ngegoyangin pinggul gue maju mundur. Gue bilang ke Vinda, “Sekarang giliran gue …”. Awalnya gue goyang dengan lambat dan makin lama makin cepat, gue ngerasain kenikmatan yang diberikan memeknya si Vinda. Sementara itu, si Vinda cuma bisa melenguh, “Uhhhg … ohhhh … lagi Ndra … uufhh” dan meremas-remas teteknya sendiri sambil menggelinjang-gelinjang. Nggak lama, gue turunin frekuensi goyangan gue … jadi gue bisa sambil nyiumin betisnya Vinda. “Ndra … ohhg, masukin yang dalem … uuhhhpp” dan gue sahutin, “OK, sekarang lingkarin kaki elo di pinggang gue, gue akan tancepin dalem-dalem kontol gue”. Si Vinda nurut dan gue tarik kontol gue pelan-pelan setelah itu gue masukin lagi secepat mungkin dengan tenaga penuh, jadi gue masukin kontol gue dengan sentakan-sentakan bertenaga. Vinda cuma bisa menjerit setiap kali kontol gue memasuki memeknya, “Oohhh … uuhhhpp ….. uuhhhpp … Ndra … lagiii … ohhh … gilaa … ouchh … “. Kedua tangannya merenggut seprei keras-keras, karena dia merasakan sedikit rasa sakit yang bercampur kenikmatan yang luar biasa, dan Vinda memejamkan matanya, suatu tanda dia bener-bener menikmati kontol gue. Nggak lama kemudian gue ngerasain kedua pahanya menegang dan menjepit pinggang gue dengan keras, demikian juga dengan badannya yang menegang dan punggungnya terangkat dari tempat tidur, membuat teteknya makin menonjol. Akhirnya dia menjerit lagi, “Ouchhh … Ndra …. Gue orgasm lagi …. Ouchh” dan gue rebahin badan gue di atas badannya sambil gue ciumin leher, telinga dan teteknya yang menggelembung keras. Kemudian gue suruh dia untuk terlentang di tengah ranjang.

Sambil gue remas teteknya, gue bisikin dia, “Satu session lagi yaa …” dan dia menyahut, “Elo bener-bener ngebuat gue gila Ndra”. Dengan lutut gue, gue buka lagi kedua pahanya dan untuk ke sekian kalinya kontol gue masuk lagi di memeknya. Gue rebahin badan gue menimpa badannya Vinda dan gue ngerasain kedua teteknya di dada gue, sementara itu kedua tangan Vinda memeluk tubuh gue dengan erat. Gue cium bibirnya, sehingga kita kembali merasakan lidah-lidah yang beradu dan gue mulai menggoyangkan pinggul gue naik turun. Dua puluh menit kemudian, Vinda mulai menggelinjang dengan liar di bawah badan gue dan gue merasakan kenikmatan yang lain yaitu tetek-teteknya makin bergesekan dengan dada gue. Setelah itu gue makin mempercepat goyangan dan Vinda mulai mendesah-desah lagi, “Ohhg …. Ufhhp”, nggak lama kemudian dia menjerit, “Ndra, gue mau orgasm lagi … ouchhh”. Terus gue bilang, “Tahan bentar Vin, gue juga mau keluar nih” dan makin gue percepat goyangan gue. Akhirnya Vinda menjerit kecil, “Ndra …. Gue orgasm … ohhh” dan guepun nggak tahan lagi. Badan kita berdua menegang dan untuk meredam jeritan Vinda, gue bungkam bibirnya dengan ciuman. Setelah itu gue merasakan gerakan air mani di dalam kontol gue yang berarti sebentar lagi air mani gue menyembur keluar dan dengan sigap gue keluarin kontol gue dari memeknya Vinda.

Akhirnya air mani gue muncrat keluar tepat di atas dada Vinda dan dia membantu ngurutin kontol gue, supaya tidak ada mani yang ketinggalan. Kemudian Vinda mulai menjilati kontol gue dan akhirnya diemut untuk dibersihkan. Setelah itu kita berdua tidur berpelukan kelelahan dengan rasa puas yang tak segera hilang.

Minggu siang, kita berdua kembali ke Jakarta dan gue menghabiskan malam Senin itu di apartemen Vinda di bilangan Prapanca. Kita berdua bersetubuh lagi dengan nafsu yang menggelora. Karena Senin itu gue harus kerja, gue tinggalin Vinda yang masih tidur telanjang dengan pulas.

Tamat

Salah sambung

Untuk menyelesaikan tugas kuliah, aku harus meminjam buku dari teman. Tapi, sayang bukunya sedang dipinjam oleh teman ceweknya. Dia menyarankan untuk menelepon temannya, siapa tahu sudah selesai. Dia lalu memberi nomor telepon, kucatat dan langsung aku menelponnya.

telepon diangkat, suara cewek menyapa dari seberang sana. Waktu kutanya nama teman tersebut, dijawab tidak ada. Rupanya salah sambung. Entah temanku yang salah memberi nomor, atau aku yang salah catat. Yang pasti, karena aku merasa cewek penerima telepon itu tidak mau terburu-buru memutuskan hubungan, aku juga tidak langsung menutup telepon. Pendek kata, terjadilah perkenalan dan dialog yang cukup panjang. Aku jadi tahu dia tinggal di daerah Lebak Bulus bersama pembantu, adik perempuan dan anak ceweknya. Erni, begitu namanya, berumur 36 tahun, dan sudah lama menjanda.

Telepon salah sambung itu berlanjut dengan pertemuan. Sebab, Erni bilang lebih nikmat kalau kita ngobrol langsung, jadi dia memintaku datang ke rumahnya, saat itu juga. Tidak peduli dengan tugas kuliah, buru-buru aku tancap gas ke Lebak Bulus. Sampai di sana Erni sudah menyambutku, cuma memakai daster, seperti yang tadi dia bilang di telepon.

Setelah berkenalan, Erni mengajakku masuk ke ruang tamu. Dia bertanya, aku mau minum apa?, Seperti biasa, aku minta kopi. Sambil menunggu Erni membuat kopi, aku memperhatikan suasana rumah. Di ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu cuma ada pembantunya sedang asyik nonton TV bersama adik perempuannya.

Tidak lama Erni keluar membawa secangkir kopi panas. Waktu meletakkan cangkir kopi di meja, badannya membungkuk, dan karena dia tidak memakai BH, tanpa tedeng aling-aling aku menyaksikan dua gunung putih indah tergantung di dadanya, seperti mau jatuh ke lantai. Tapi tidak lama, karena dia segera berdiri dan langsung duduk. Kami lalu ngobrol akrab meneruskan omongan di telepon tadi. Di tengah pembicaraan, aku memintanya untuk mengambilkan segelas air putih karena leherku terasa kering. Mungkin karena selama ngobrol aku terus-terusan membayangkan payudaranya yang indah. Apalagi, pembicaraan mulai mengarah kesana.

Sekali lagi, waktu meletakkan gelas di meja, aku menyaksikan keindahan buah menggelantung di dadanya. Kali ini aku tidak tahan lagi.Sebenernya sih sekarang yang paling nikmat minum susu, tapi adanya cuma air putih, kataku.Dia langsung sadar apa yang terjadi. Refleks tangannya menutupi dasternya. Sambil senyum dia berkata, Susunya ada, tapi cuma buat Ingrid (nama anaknya)Aku makin berani, Kalo gitu, aku mau pinjem sama Ingrid, pasti diberi, Mana dia?

Rupanya si gadis cilik sudah tidur. Aku makin nekat dan memaksa, Tolong bangunin deh, aku ngomong sebentar mau pinjem botol susunya, nanti dia juga tidur lagiErni tertawa, tapi tampaknya tahu kalau aku sudah bernafsu kepadanya. Tidak lama kemudian, dia pindah duduk ke sampingku.Lalu bicara pelan seperti berbisik, Beneran mau pinjem sama Ingrid?.Aku menggangguk dan langsung berdiri. Dia juga berdiri dan mengajakku masuk. Di ruang tengah cuma ada adik perempuannya sendirian asyik nonton TV sambil tiduran di karpet. Pembantunya rupanya sudah tidur duluan.

Erna, begitu nama adik Erni, sudah menikah, belum mempunyai anak, tapi sedang pisah ranjang dengan suaminya. Dia lebih cantik dan seksi dibanding Erni. Apalagi dengan busananya malam itu, singlet tipis tanpa BH memperlihatkan putingnya dan short super pendek yang memamerkan keputihan, kemulusan, dan kepadatan pahanya. Erna tidak kelihatan risih, atau berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, waktu diperkenalkan kepadaku.

Erni kemudian menarik lenganku untuk mengikutinya sambil bicara kepada Erna, Pintunya jangan lupa dikunci ya. Yang menakjubkan, Erni bukannya mengajakku ke kamar Ingrid, anaknya, tapi malah masuk ke kamarnya yang agak berantakan. Sebuah ranjang ukuran king size seperti menanti kedatangan kita. Tanpa basa-basi lagi, aku cium Erni. aku jilatin kuping dan lehernya. Sementara tanganku memeluk pantatnya keras-keras sambil ngeremas-remas. Tanganku yang satu lagi langsung menelusup ke balik dasternya untuk meremas-remas payudaranya. Erni tertawa kecil melihatku sudah begitu bernafsu. Dia segera mencopot daster dan CD-nya, lalu membantuku melepaskan pakaian.

Setelah sama-sama polos, dia menarikku ke atas ranjang. Tanpa memberi kesempatan sedikit juga, dia langsung menindihku. Dengan gerakan yang sangat agresif dan berpengalaman dia mencium habis bibirku, menjilati badanku, sementara liang kewanitaannya digesek-gesek naik-turun di atas penisku. Asyik benar. Apalagi jilatannya benar-benar yahud. Dari leher, dada, terus turun sampai ke selangkangan. Bijiku dijilatin, terus ditelen dan disedotnya dengan lembutnya. Lubang pantatku juga dijilatin habis. Dan tentu saja, penisku jadi santapan utamanya. Mula-mula dijilatin bagian bawahnya, terutama pada lipatan di bawah kepala penis. Setelah itu dia masukkan penisku ke dalam mulutnya, mula-mula cuma kepalanya, batangnya, terus dimasukkan lagi sampai mentok di kerongkongannya. Lalu dia kulumnya penisku seperti anak kecil makan es lilin.

Diservis begitu rupa, aku tidak cuma tinggal diam. Tanganku gerayangan ke sana kemari, melakukan serangan balik. Mula-mula cuma mengelus-elus punggung dan pahanya. Terus ngeremas-remas payudaranya. Pindah lagi ke liang kewanitaannya. Sampai-sampai dia yang awalnya seperti mau menang sendiri menjadi pasrah, membiarkan posisi badannya kuputar. Sambil terus menjilati dan menyedot penisku, kaki Erni sekarang seperti menjepit kepalaku. Berarti, kemaluannya yang berbulu agak jarang tapi kelihatan sangat tebal itu menantang di depan mataku. Tanpa buang-buang waktu, kujilat lubang kenikmatan itu. Dan itulah rupanya titik terakhir pertahanan Erni.

Belum terlalu lama aku melahap bibir kewanitaannya, Erni tiba-tiba berubah menjadi seperti kuda liar nan ganas. Dengan penuh birahi dia memberikan kenikmatan seks yang luar biasa. Dia begitu ganas memberi rangsangan di sekujur badanku. Dia juga begitu agresif menancapkan lubang senggamanya ke penisku. Dan dia sungguh liar ketika menggoyang-goyangkan pantatnya turun-naik, diputar ke kiri ke kanan, turun-naik, penisku terasa dikucek-dikucek, dibilas dan diperasseperti (mungkin) kalau dimasukkan ke dalam lubang mesin cuci.

Permainan seks yang betul-betul heboh itu berakhir dengan semprotan spermaku di dalam mulut Erni. Setelah istirahat sebentar, ronde kedua dimulai. Kali ini berlangsung jauh lebih liar lagi, sampai badanku dan dia penuh bekas gigitan dan cakaran. Setelah ronde kedua berakhir, Erni keluar kamar dan masuk lagi diikuti Erna adiknya yang rupanya sudah ketiduran di depan TV. Dengan wajah tidak peduli, seperti tidak ada sesuatu yang luar biasa, Erna merebahkan diri di atas ranjang, persis di sampingku yang masih bugil dan salah tingkah karena tidak tahu mesti berbuat apa. Erna cuma tersenyum melihatku, kemudian membalikkan badan sambil memeluk guling yang dibawanya, dan meneruskan tidurnya.

Terus terang, diam-diam, aku sebenarnya pingin benar menyetubuhi Erna. Tapi bagaimana dengan Erni yang tanpa sepotong benang di badannya mendekatiku, langsung menindih, memeluk dan mencium leherku?

TAMAT

Selingkuh dengan Ami

Aku sedang menonton televisi di kamarku ketika Fay keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur. Hm.. dia pasti habis cuci muka dan bersih-bersih sebelum tidur. Di kamar tidur kami memang terdapat kamar mandi dan televisi, sehingga aku menonton televisi sambil tiduran. Fay berbaring di sampingku, dan memejamkan matanya. Lho? Dia langsung mau tidur nih! Padahal aku sejak tadi menunggu dia. Lihat saja, si ujang sudah bangun menantikan jatahnya.

Fay! Kok langsung tidur sih?Mm..?Fay membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Woow burungku semakin mengeras. Fay mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. Fay mencium pipiku. Cupp..!

Tidur yang nyenyak yaa katanya perlahan.Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.Fay! Faayy..! aku mengguncang-guncang tubuhnya.Umm udah maleem Fay ngantuk niihKalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si ujang masih tegang dan penasaran minta jatah.

Begitulah Fay. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat, sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat hemat. Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Fay, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks. Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami belum punya anak. Untuk pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. Fay bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja Fay untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Fay. Siapa tahu dalam mimpi, Fay mau memuaskanku? Hehehe

Esoknya saat jam istirahat kantor, aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka, disana aku bertemu dengan Ami, sahabatku dan Fay semasa kuliah dahulu. Kulihat Ami bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Ami tidak punya adik. Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Ami. Fita namanya. Heran juga aku, kok saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya kami makan satu meja.

Sambil makan, kami mengobrol. Ternyata Fita seperti juga Ami, tipe yang mudah akrab dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika aku menanyakan tentang Joe (suami Ami, sahabatku semasa kuliah), Ami bilang bahwa Joe sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

Paling juga disana dia main cewek! begitu komentar Ami.Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main dengan wanita lain disana. Saat Fita permisi untuk ke toilet, Ami langsung bertanya padaku.Van, loe ama Fay gimana?Baek. Kenapa?Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur ama Fay?Aku diam saja.

Aku dan Fay memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti setiap hari aku minta jatah dari Fay. Tapi kalau Fay dituruti, paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah Fay. Jelas saja aku selingkuh! Mana tahan?

Kok diem, Van? pertanyaan Ami membuyarkan lamunanku.Nggak kokLoe lagi punya masalah ya?NggaakJujur aja deh Ami mendesak.Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.

Cerita doong..! Ami kembali mendesak.Mi.., loe mau pesta assoy lagi nggak? aku memulai. Ami kelihatan kaget.Eh? Loe jangan macem-macem ya Van! kecam Ami.Aduh.., kelihatannya dia marah.Sorry! Sorry! Gue nggak serius sorry yaa aku sedikit panik.

Tiba-tiba Ami tertawa kecil.Keliatannya loe emang punya masalah deh Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.Saat itu Fita kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke kantor.

Jam 5 sore aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit aku menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering. Dari Ami, menanyakan dimana aku berada. Setelah bertemu, Ami langsung mengajakku naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan disana. Di jalan Ami langsung menanyaiku tanpa basa-basi.Van, loe lagi butuh seks ya?Aku kaget juga ditanya seperti itu. Maksud loe?Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Fay kenapa?Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.

Mi Fay itu susah banget dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja, gue selalu nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon. Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong! Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.Ami tertawa. Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar.Mana ada perkosa nggak kasar? Ami tertawa lagi. Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begituJadi kalo sekali-sekali tega ya?Yah namanya juga kepepet Udah deh nggak usah ngomongin Fay lagi ya?Oke kita juga hampir sampe nih

Aku heran. Ternyata Ami menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi aku tidak menyadarinya.Mi, apartemen siapa nih?Apartemennya Fita. Pokoknya kita masuk dulu deh

Fita menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara Fita dan Ami masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Ami memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan ketika aku masuk, si ujang langsung terbangun, sebab kulihat Ami dan Fita tidak memakai pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip sedang bertelanjang bulat di depanku. Mimpi apa aku?

Kok bengong Van? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..! panggil Ami lembut.Aku menurut bagai dihipnotis. Fita duduk bersimpuh di ranjang.Ayo berbaring disini, Mas Ivan.Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fita. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Fita yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Fita langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.

Gue pijat dulu yaa kata Ami.Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.Enak kan, Van? Ami bertanya.Aku mengangguk. Enak banget. Lembut

Fita meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam payudaranya. Dia membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di depan wajahku.Van, perah susu gue ya? pintanya nakal.Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Fita merintih-rintih.Ahh aww akh terus.. Van ahh ahhhPayudara Fita terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si ujang.

Dulu diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya? kata Ami, dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si ujang tepat di bagian bawah lubangnya.Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si ujang telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.

Mi gue udah mau.. ke.. luarAmi semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara Fita pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

Aahh Ami udahan dulu dong..!Kok cepet banget keluar? ledeknya.Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus. aku membela diri.Oke deh, kita istirahat sebentar.

Ami lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Fita mengambil posisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Ami hingga akhirnya aku menemukan daging kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Ami mendesah perlahan. Kugunakan jari jempol dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengorek liang sanggamanya. Desahan Ami semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu Fita terus saja menjilati kemaluanku. Tidak hanya itu, Fita mengosok-gosok mulut dan leher si ujang, sehingga sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat.

Kali ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik posisi tubuhku, menindih Ami yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Ami mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Ami. Aku mulai mengocok maju mundur. Ami melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. Fita yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Ami mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Ami, dan langsung kuraih tubuh Fita. Untuk mengistirahatkan si ujang, aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok vagina Fita. Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Fita mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur payudaranya, kanan dan kiri. Fita meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang Fita, aku bersedia untuk main course.

Fita nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy style. Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti. Fita merintih-rintih keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang diberikan oleh jepitan vagina Fita. Hangat sekali, lebih hangat dari milik Ami. Setelah itu kumulai menyodok Fita maju mundur.

Fita memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang. Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan kami. Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan langsung kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin kupercepat, membuat Fita semakin keras mengeluarkan suara.Aaahh Aaahh Gue keluaar Aaah.. teriak Fita dengan lantang.

Fita terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.Fit gue mau keluar nihFita langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Fita, yang ditelan oleh Fita sampai habis.

Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Ami berbaring di sisiku. Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Fita masih membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.Gimana Van? Puas? Ami bertanya.Puas banget deh Otak gue ringan banget rasanya.Gue mandi dulu ya? Fita memotong pembicaraan kami.Lalu ia menuju kamar mandi.

Gue begini juga karena gue lagi pengen kok. Joe udah dua minggu pergi. Nggak tau baliknya kapan. Ami menjelaskan.Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Fay bingung lho!

Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pamit dengan Fita, Ami mengantarku kembali ke Citraland. Disana kami berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Fay menanyakan darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis makan malam bersama teman.

Yaa padahal Fay udah siapin makan malem. Fay kelihatan kecewa.Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.Ya udah, Ivan makan lagi aja deh tapi Ivan mau mandi dulu. kataku sambil mencium dahinya.Fay kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

TAMAT

Liburan plus

Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak RumahSeks, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.

Den, ini kamarnya.

Eh iya Bi. jawabku setengah tergagap.

Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.

Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya? ucapnya sambil berlalu.

Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih. Kataku setengah memelas.

Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?

Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?

Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku. ucapku dalam hati.

Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.

Den, coba Aden tiduran gih. suruh Bi Sum.

Eh, iya Bi. lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.

Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih? tanyaku memecah keheningan.

Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.

Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali. kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya Adik kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.

Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.

Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L. tuturnya.

Oo.., jadi tante sendirian dong Bi? tanyaku

Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin. kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.

Ada apa den? tanyanya polos.

Anu Bi, itu yang pegel. jawabku sekenanya.

Mm.. Bibi udah punya suami? kataku lagi.

Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu. jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.

Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?

Bibi titipkan pada adik Bibi katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.

Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi? tanyaku lagi.

Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den? ucapnya.

Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok. pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.

Ah.., den andy ini bisa saja katanya, sambil tersipu malu.

Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh. Godaku lagi.

Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.

Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.

Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh.. kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.

Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus. katanya polos.

Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.

Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.

Jangan ah den, Bibi malu.

Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca. Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.

Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana? tanyanya polos.

Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali bh nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu Adik kecilku langsung mengacung keras sekali.

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya Merem-melek.

Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den

Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.

Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den

Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.

Den, punya aden besar sekali katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.

Bi, jilatin ya.. punya Andy. Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh..,sungguh nikmat sekali rasanya.

Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.

Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.

Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.

Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh. Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.

Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, Bi aku masukkan sekarang ya... ia hanya bisa mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh. desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.

Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..

Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..

aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.

Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..

Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..

Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak kataku sambil mencupang buah dadanya.

Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa. akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.

Tamat

ML dengan flight attendant

Ini pengalaman pribadiku yg original....

Waktu itu aku main friendster, sengaja cari dengan search "pramugari" atau F.A., nach ketemulah 1 orang yg respon dan cantik, singat crita setelah email2an kita ketemu di SENAYAN CITY, karena dia dulunya kerja di Air Paradice BALI yg udah tutup. sebuah penerbangan international. Nama anak itu DEVI, anak sunda tinggi 168CM, berat 49Kg dengan BRA 36B.

Pas, ketemu, ternyata emang betul2 cantik... putih... and sexy abis. Tapi yg bikin kesel tuh anak belagu amat, maklum bekas pramugari penerbangan international. dia pake baju dengan belahan dada terbuka cocok banget dengan 36B-nya. Pertama ketemu tuh anak agak ogah2an dan ngomongnya gede banget. Ini tantangan buat gue untuk naklukin tuh cowok. Kita makan di sebuah resto yang sengaja gue pilih agak mewahan dikit biar gue ngga kalah gengsi... dan setelah itu gue pingin tau dia brangkat pake mobil ato kagak untuk ngukur kekuatan... ternyata dia pake taksi jadi ada alasan gue untuk nganterin dan pamer TOYOTA HARRIER pinjeman yg gue bilang punya gue....ha...ha...

Sambil menuju ke mobil, dia masih agak sok2an dan bergaya tinggi. Pas di parkiran dia nanya, "mobil loe yang mana?" dan saya tunjuk karimun tua dan dia agak kaget, dan mulai belagu lagi.. sambil bercanda gue bilang "kita coba teken alarm, mobil mana yg buka" dan yg nyala HARRIER di samping karimun tua, barulah DEVI senyum2 manja sambil nyubit dia bilang "kok ngerjain gitu, emang tuh mobil punya kamu?", dengan jawaban diplomasi gue jawab "kalo ngga percaya kamu bawa aja sebulan pasti ngga ada yg komplain", karena emang yg punya lagi pergi ke luar negeri 3 bulan.

Di mobil, dia mulai nanya2 kerja aku apa, dan kujawab manajer di perusahaan telekomunikasi, walaupun semua itu bualanku saja. Mulailah dia manja2 dan menggoda, "Mas pasti pacarnya banyak dan cantik2, kan udah mapan dan ganteng lagi???" Padahal tadi di caffe dia tuh sombong dan cenderung meremehkan sempat dia bilang "loe bukan tipe cowok gue".

Menjelang sampai ke rumahnya, dia mulai merendah "jangan ketawain ya.. rumah ortuku yg sederhana saja", dengan diplomatis aku jawab "ach, kan aku mau pacaran ama DEVI bukan ama rumahnya". Rumahnya memang kecil model BTN, dan aku bawa mobil hati2 banget takut kebaret ama bajaj, MAKLUM MOBIL PINJEMAN....HA...HA...

Sampai di rumah, aku terpaksa harus basa-basi dan tiba2 kaget bukan kepalang sewaktu dikenalin ke ortunya "MAMA, ini mas RONI, pacarku yg pernah aku ceritain itu ma". Aku kaget dibilang pacarnya padahal kita BELUM PERNAH JADIAN SEBELUMNYA.... Oh, ya.... Namaku RONI.

Aku ngobrol 10 menit, sebelum pamit pulang karena udah mau jam 22 malam dan parkir mobil tidak di depan rumah. Pas aku mau masuk ke mobil, dia ikutan ke dalam mobil dan aku kasih dia kecuman pipi, tapi dia malah nantangin.... "kan udah pacar ciuman bibirnya mana", tanpa membuang waktu aku ciumin bibirnya dan aku remas2 payudaranya yg montok, kenyal dan 36B. Dia hanya berbisik pelan "ich, nakal baru kenal pertama udah berani ke situ". Aku pun bales bilang "Kan tadi udah pacarnya". Sebelum pulang aku bilang kalo minggu besok aku mau ajak dia untuk jalan2 ke bandung pagi2 dan dia menyanggupi".

Sampai di rumah sabtu malam jam 23.30 aku mencoba menelpon dia, gila dia bercerita pengalaman pacarannya yg sangat gila dan dilanjutkan ngajak PHONE SEX, sampai jam 02.00 pagi sebelum aku akhiri "sayang, kan besok jam 8 aku harus jemput kamu ke bandung"

Pagi jam 8 tepat aku udah di rumahnya, dan DEVI muncul dengan pakaian yg sangat2 sexy, maklum pramugari. Dia pakai Tanktop warna hitam dan celana jeans ketat banget serta terlihat pusarnya sewaktu mengangkat tas.... aku sempat tanya "mama kamu ngga marah kamu pakai baju begitu", dan dia jawab "kamu kan pacarku jadi mama nggak akan marah". Setelah basa-basi dengan ortunya tepat jam 9.00 pagi kita berangkat ke bandung dengan alasan "TEMENNYA DEVI ADA YG MARRIED".

Di jalan, aku sempat bengong SIAPA YG KAWINAN". Akhirnya aku memberanikan mengkonfirmasi DEVI, "Say, yg kawinan emang siapa? kan semula kita hanya mau jalan aja?" Dijawab ama DEVI "ach, kamu jadi cowok lugu gitu, kebanyakan kerja sich jadi seriusan melulu.... yg KAWIN ya... sapa kek... kalo ngga ada yg KAWIN YA KITA". Mendengar jawaban begitu aku makin nakal, "Brani KAWIN? paling 20 menit udah keok??" dia jawab singkat "SAPA TATUT".....

Di sepanjang perjalanan dia selalu menggoda bahkan pas selepas CIKAMPEK, dia mulai berani meraba2 penisku, dan sempat komentar "Gila gede juga ya.. punya kamu", dan aku pun berani masukin tanganku ke buah dadanya walaupun mobil melaju 120 KM/jam di tol. Menjelang masuk bandung, dia buat kejutan dengan melepas BRA dan hanya pake tank top saja. Tanpa pikir panjang, saya langsung ngajak CHECK IN di hotel JAYAKARTA. "Say, kita ke hotel dulu baru nanti jalan2nya, capek habis nyetir". Dia pun dengan cuek bilang "yg capek DEDEKNYA KALI"

Setelah tiba di JAYAKARTA, kita menempati kamar 311, dan setelah BELL BOY memasukkan tas, saya mencoba menyalakan TV, dan udah di dekap DEVI dari belakang "SAY, AKU MAU NGETEST SAPA YG KALAH DALAM 20 MENIT". Tanpa berbikir panjang, aku langsung membalikkan badan dan memeluk DEVI yg sudah sangat horny, aku lumat bibirnya dalam2 sampai nafasnya tersengal2 pendek2...."Say, cium donk nipel aku tolong... say" iba DEVI yg sudah horny berat. Tanpa membuang waktu aku pun tarik tank top-nya yg sudah TANPA BRA. Payudara yg montok, 36B, putih mulus dengan puting berwarna kemerah2an langsung saya cilatin dan gigit2 kecil sambil tangan kiri menyusup ke celana dalamnya. DEVI memang cewek yg agresif dia pun langsung membuka bajuku dan meraba2 penisku. Tanpa sadar dia pun mulai menciumin Penisku yg memang berukuran super, 17 CM. dengan posisi terbalik, aku mencoba untuk menarik celana jeansnya dan ternyata dia memakai CD jenis G-string warna merah. dengan cepat aku buka CD dan DEVI telah mencukur bersih vaginanya yg berwarna kemarah2an dan telah diberi parfum ... wangi sekali dan aku pun tanpa ampun menciumin vaginanya sambil menyedot lendirnya sampai dia meremas kepalaku keras2 "say terus... jangan lepas"

Setelah, menggunakan gaya 69, dia pun mulai basah dan mendekatkan penisku ke vaginanya "Sayang, kamu kan belom statement aku, dan kita belum jadian, kamu mesti statement dulu dan baru kita ML". Aku pun bangun dari tempat tidur dengan keadaan dua2nya bugil dan menyatakan cinta ke DEVI (walaupun aku belom merasakan cinta itu). Setelah itu aku pake Condom dan DEVI minta di atas, pas penisku mau masuk, DEVI kaget, "Lepas Condomnya, kamu kan pacarku, ML pake Condom emangnya gue perek apa??", dia tarik keras2 condomku.... trus aku pun balik bertanya "nanti kalo keluar di dalam gimana???" Devi pun menjawab "Bukannya enak yg begitu" sambil dia menekan vaginanya ke penisku yg sudah berukuran maksimal tadi. Berbagai gaya dia tunjukkan, dan pas dia mulai main2 JEPITAN, aku nyaris nggak tahan padahal baru 10 menit, untuk saya sudah belajar pernafasan dan akhirnya menjelas 30 menit DEVI mengeluarkan gejala2 akan orgasme... cepat2 saya ciumin putingnya bergantian, dan dia pun bilang "SAY, KITA KELUARIN BARENGAN YA...." aku pun mengangguk dan 1 menit kemudian dia berteriak kesetanan "A YOO.... CEPETIN TERUS SEMPORTIN KENCENG...." DEVI benar2 orgasme dan GELINJANGAN luar biasa sekali, padahal aku masih nahan.... setelah 10 menit DEVI baru sadar "SIALAN GUE KALAH" tapi gue mau MULTI ORGASME....

Aku pun makin liar, dan tiba2 aku memegang anusnya, dan DEVI pun tau, "JANGAN SAY, ANASKU ITU MASIH VIRGIN" aku pun berusaha merayu dan merangsang DEVI. Pantatnya yg putih mulus tak mungkin kubiarkan begitu saja.... setelah dia merintih2 karena jariku kumasukkan, lalu aku bilang "SAY AKU MASUKIN YA..." Dia pun sambil tersengal2 bilang, "KAMU SAYANG KAN KE DEVI? KALO IMANG BENER2 SAYANG KAMU LAKUIN AJA TAPI BUANG DI DALEM KARENA AKU MAU NGERASAIN SENSASINYA" Tanpa berpikir panjang aku pun lakuin dengan memasukkan kepala penis pelan2 sampai akhirnya dia teriak keras "SHIT..., masuk .... CEPET ent*t DEVI".... aku pun mematuhi apa yg dia inginkan mulai dari pelan lama2 cepat sekali dan CROT2 keluar maniku ke anusnya sampai ke kasur.... dia pun bilang "GUE NGERASAIN ML PALING ENAK HARI INI".

Hari itu, kita ML sampai jam 8 malam sebanyak 5 kali dan 3 kali anal. DEVI emang maniak, dia sempat nelen maniku dan facial ke mukaku..... Kita sempat pacaran selama 3 bulan sebelum bubar karena ketauan modal gue cekak....

Tamat