Misteri Villa forest garden - 1

Para undangan memberi komentar pada acara perkawinan Danny & Lia (D & L) yang mewah itu. D & L sungguh merupakan pasangan ideal. Yang satu nampak sebagai pria tampan, penuh percaya diri serta menunjukkan masa depannya yang cerah sebagai seorang profesional yang mandiri. Yang satunya adalah wanita yang sangat cantik dan sensual, ramah dan luwes disamping cerdas dan sangat berbakat dalam pergaulan sosial yang luas. Pasangan itu dapat diibaratkan 'tumbu bertemu tutupnya'.

Mereka akan dapat saling mendukung, membantu dan mengisi kekurangan yang ada satu sama lain. Begitu acara selesai dan tamu-tamu telah selesai memberikan ucapan selamat, dengan mobil pengantinnya yang tak lupa ditempeli tulisan 'Just Married' serta diramaikan dengan kaleng-kaleng bekas yang diikatkan pada bagian belakangnya, D & L meninggalkan tempat acara langsung memulai bulan madunya sesuai dengan rencana yang telah jauh hari dipersiapkan.

Mereka akan tinggal di Villa Forest Garden, Mega Mendung, Bogor. Villa itu milik rekanan Danny yang dipinjamkan pada pasangan itu selama 3 hari 3 malam, sebelum mereka akan meneruskan bulan madunya ke Eropa pada pertengahan bulan depan nanti.

setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, tampak mobil berhenti di depan gerbang besar. Dari jauh nampak seorang petugas berlarian membuka gerbang tersebut. Petugas tersebut ternyata seorang berkulit gelap yang cukup tegap dan berotot. Usianya sekitar 35 atau 38 tahunan. Dengan segala keramahannya dia menyambut kedatangan Danny dan Lia.
Sebelum masuk lebih jauh Danny membuka kaca mobilnya.
'Pagi, pak. Apa kabar? Bapak siapa? Pak Pedro ya, sudah lama bekerja disini?', dan beberapa tanya jawab kecil untuk menunjukkan adanya perhatian dari pasangan Danny & Lia pada Pedro petugas villa tersebut.
Rupanya Danny sudah diberi tahu oleh rekanan pemilik tempat itu mengenai seluk beluk villa serta para personil yang menjaganya.

Pedro, yang ternyata berasal dari Ambon menunjukkan hormatnya pada sepasang tamunya. Dia menoleh sesaat ke dalam mobil untuk memberikan salam hormatnya pada Lia yang duduk di dalam disamping Danny. D & L langsung berhadapan dengan gambaran hutan tropis di halaman yang luas dan indah itu. Dari jalanan masuk yang asri dan berliku belum tampak rumah villa yang bakal jadi tempat bulan madu mereka. Rupanya rumah villa itu jauh tersembunyi dalam hutan buatan yang luas tersebut. Suasana romantis segera hadir dalam relung-relung hati D & L. Mereka memasuki halaman villa luas itu dengan tangan-tangannya yang saling berpegangan serta saling meremas apabila di depan mereka ada pemandangan yang menarik.

Di depan sebuah villa yang mungil, yang dibangun dengan bahan-bahan batang kayu dan papan yang tersedia di hutan itu, kembali D & L dijemput seorang petugas lainnya, Tory namanya, usianya sudah 55 tahun. Dia teman Pedro, yang juga menunjukkan keramahan yang sama dengan Pedro. Dia bukakan pintu mobil untuk Lia dan kemudian untuk Danny.
Walaupun usianya cukup tua Pak Tory tetap nampak sehat dan kuat. Otot lengannya nampak menonjol dari T-shirt birunya. Demikian pula bukit-bukit dadanya tampak gempal. Sekilas putingnya membayang dari balik T-shirtnya itu.
Pak Tory ini juga punya banyak keterampilan. Termasuk masak memasak, disamping tugas pokoknya mengurus rumah tangga villa tersebut.

Pak Tory mengajak tamunya memasuki bangunan villa dan menunjukkan kamar tidurnya yang akan ditempati D & L selama tinggal di villa tersebut. Sungguh indah dan luas. Dengan perabot dan interior yang serba kayu, ruang untuk D & L tersebut terdiri dari ruang tidur utama dengan king size bednya yang mewah, kamar tamu yang lengkap dengan sofanya serta kamar mandi yang luas dengan sentuhan alami. Dari kamar mandi itu dapat menikmati sauasana hutan tropis tanpa kelihatan dari luar karena kaca pantul searah yang dipasang di jendelanya. Tak ketinggalan pula almari es yang penuh isinya, flat TV 21 inch, DVD player dan sambungan telepon serta internet yang siap pasang.

D & L sangat senang dengan tempat itu, khususnya ruang yang telah secara khusus disediakan untuk mereka. 'Terimakasih, terimakasih Pak Tory'.
Beberapa menit kemudian mereka telah duduk-duduk di beranda villa mewah itu. Dari tempat itu D & L dapat melihat di kejauhan, danau kecil yang romantis serta beberapa ekor kijang tutul yang sedang asyik merumput bersama anak-anaknya. Mereka, D & L sangat mengagumi tempat itu.
'Seneng ya Mas, tidak jauh dari metropolitan yang sibuk dan bising, masih dapat ditemukan tempat yang begini sejuk, tenang dan penuh kedamaian', Lia menyatakan perasaannya pada Danny sambil dengan manja merangkul kemudian menggayut di leher Danny.

Nampak Pak Tory dengan nampan di tangan menaiki tangga. Dia suguhkan air teh hangat berikut makanan tradisional lokal untuk pasangan bahagia itu. setelah menata minuman itu di mejanya serta mempersilahkan D & L menikmati minuman & hidangan sederhana itu, Pak Tory bertanya kepada D & L, untuk makan malam mereka minta dimasakkan apa. Atas perintah majikannya yang teman rekanan Danny itu, Pak Tory sudah menyiapkan berbagai bahan untuk dimasak selam 3 atau 4 hari ke depan.

setelah Lia bersama Pak Tory selesai memilih-milih menu yang cocok untuk malam itu, Pak Tory mohon diri. Langit mulai gelap, nampak secercah awan yang kuning menyala karena pantulan sinar matahari sebelum tenggelam di peraduannya. D & L dengan mantel tidur mereka menaiki tangga villa setelah berjalan-jalan di setapak sekitar villa itu. Kelelawar mulai beterbangan mencari mangsa. Sementara burung-burung bercicit-cuit berebut kembali ke sarangnya. Dari kegelapan tanaman hutan tropis itu terdengar serangga bersahut-sahutan menjemput gelapnya malam. Di kejauhan, dari danau kecil villa tersebut, kedengaran kodok mulai membunyikan 'orkestra'nya.

Begitu memasuki pintu villa, nampak meja makan yang menyatu dengan ruang family utama telah dipenuhi dengan kemeriahan hidangan makan malam. Tiang-tiang lilin yang secara khusus dinyalakan untuk memberikan nuansa romantis pada pasangan D & L telah dinyalakan. Sengaja ruang besar itu tidak ditampakkan cahaya benderang, untuk memberikan kesempatan pada lilin-lilin itu menunjukkan identitasnya. Bukan main.

Itu semua pasti hasil karya Pak Tory yang memiliki berbagai macam kedapatan itu. Lia tidak dapat menyembunyikan kekagumannya, 'Hebat Pak Tory ini. Dia ternyata sangat faham bagaimana caranya menyenangkan tamunya', yang sepenuhnya disetujui oleh Danny dengan penuh keharuan. Untuk kegembiraan dan keharuannya itu Danny meraih bahu Lia. Dipeluknya istri pengantinnya. Mereka saling mencium dan sedikit melumat bibir-bibirnya.

'Ehhmm', terdengar Pak Tory masuk ke ruangan.
'Silakan bapak ibu, hidangan ala kadarnya telah menanti. Jangan biarkan menjadi dingin. Semua yang tadi ibu Lia minta telah tersedia di meja makan ini'.
D & L mengucapkan terima kasih serta hormatnya kepada Pak Tory.

Sungguh lezat masakan makan malam itu. Tak habis-habisnya pujian D & L ditujukan kepada Pak Tory. Dan Pak Tory juga sangat senang melihat tamunya berbahagia dan khususnya menyenangi masakkannya yang dia bilang 'ala kadarnya' itu.
setelah selesai makan malamnya dan kemudian Pak Tory mengeluarkan hidangan penutup serta secangkir kopi, D & L memasuki peraduan.

Malam ini merupakan malam pertama D & L sebagai suami istri. Di kamar, D & L mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman dan santai dipakainya. Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut. Saat itu Danny merasakan adanya hal yang aneh pada dirinya. Sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras. Semangat libidonya menjadi sangat menyala-nyala. Nafsu birahinya menjadi demikian membara. Malam itu mata Danny yang nampak menjadi merah seakan terbakar menyaksikan Lia istrinya yang teramat sangat seksi. Saat menyaksikan pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menggagahinya. Menyetubuhinya.

Kemudian dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya Lia, kemudian juga pakaiannya sendiri. Perasaan yang menggebu-gebu ini ternyata juga melanda Lia sendiri. Saat Danny melucuti pakaiannya, dengan desahan yang keras Lia juga menunjukkan ketidaksabarannya. Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Danny yang nampak menggunung. Sebelum sempat Danny menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya kontol Danny dari sarangnya. Langsung di kulumnya. Mereka, para pengantin ini nampak dikuasai nafsu birahi yang sudah tidak dapat mereka kendalikan sendiri. Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas, saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya. Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat erotis bagi siapapun yang mendengarnya.

Mungkinkah hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini? Suasana romantis yang memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar. Nampak Lia yang telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yang sangat ranum mengencang. Putingnya yang memerah mencuat keras tegak di bukit ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yang bersedia mengulum dan menyedotinya. Sementara itu kontol Danny demikian pula. Darahnya telah penuh terpompa pada urat-urat batangnya. Kontol Danny ngaceng dengan keras sekali. Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu. Kepalanya yang cukup besar berkilatan yang disebabkan darahnya menekan keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat. Kontol itu terus mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina Lia yang juga sudah merekah kehausan menunggu kontol Danny untuk menembusnya.

Pagutan, ciuman, gigitan yang disertai erangan, desahan dan rintihan dari Danny dan Lia saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu birahi yang sangat tinggi.
'Ayyoo Dannyy, masukkan kontolmuu.. ayyoo Dann..'.
'Mana memekmu sayangg.. Kontolku sudah tidak dapat tahan nihh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuu.. LIAA!

Tak pelak lagi, dengan penuh ketidak sabaran, mereka, Danny dan Lia ini sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi. Mereka nyaris seperti hewan, yang melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya. Berbagai obsesi seksual yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan dalam-dalam di sanubari masing-masing, tidak dapat tersembunyikan lagi tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yang sangat romantis ini.
Ujung kontol Danny sudah tepat di bibir lubang vagina Lia ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras.

'Haaii, yang di dalam kamarr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yang akan buka dengan paksa! Ayyoo bukkaa!'.
Amukan birahi seksual D & L yang sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat. Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Danny langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan.

Bersambung . . . . .

Misteri Villa forest garden - 5

Dan malam ini Danny siap melaksanakan tugas dan membantu istrinya hingga para tamunya benar-benar mendapatkan kepuasan lahir batin. Pedro dan Tory datang. Seperti biasanya mereka datang hanya dengan celana dalam. Nampak tubuh-tubuh mereka yang sangat kokoh, berotot dan tentu saja indah. Lia serta merta menyambut mereka. Lia berada di tengah-tengah mereka, menggayut pinggang mereka dengan manja dan menuntunnya keranjang.

Kemudian bersama-sama mereka menjatuhkan diri ke ranjang, kedua begundal itu saling berganti berpagutan dengan Lia. Dan dengan penuh keterampilan, satu persatu Lia melepaskan cawat Pedro kemudian Tory. Kontol mereka langsung mengayun, tangan Lia cepat meraihnya, mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan.

Di pihak lain, tangan-tangan Pedro dan Tory melepaskan pakaian Lia. Nampak celana dalamnya sengaja dibiarkan tidak dilepasnya. Mulai terdengar desahan. Bibir Lia merekah menahan haus saat matanya melihat kontol Pedro yang dielusnya. Pedro tahu. Diraihnya rambut panjang Lia, dan ditekannya kepalanya hingga bibirnya menyentuh ujung kontol besar itu. Dan tak pelak lagi, mulut Lia langsung melahap dan mengulum kontol Pedro.

'Hai, anjing! Sini!', terdengar Tory memanggil Danny yang selalu siap.
'Aku tadi buang air lupa belum cebok. Sini, cebokin aku pakai lidahmu', Danny yang telah ngaceng berat menyaksikan kontol besar dalam mulut istrinya sangat bergairah menerima tugas dari Tory.
Dengan mengangkat salah satu kakinya ke atas ranjang, terbukalah daerah anal Tory. Danny mendekat kemudian menenggelamkan wajahnya ke pantat Tory dan tak ayal lagi langsung menceboki dengan cara menjilati anal Tory hingga segalanya bersih. Dia lakukan pula hal itu pada Pedro atas permintaannya dengan alasan yang sama.

Pada kesempatan itu, disebabkan oleh dorongan birahi Danny yang meledak-ledak tak tertahankan lagi, sambil menjilat anal Pedro dan Tory, Danny beronani. Tangannya menekan-nekan, mengelus dan mengocok-ngocok kemaluannya hingga precumnya keluar.

Lia merasakan mendapatkan kesempatan yang sangat memuaskan dalam menyalurkan naluri libidonya. Dia dapat melaksanakan obsesinya secara hewaniah dalam melampiaskan dendam birahinya yang selama ini divonis sebagai dosa, tabu, menyimpang, selingkuh dan sebagainya.

Tory dan Pedro telah memberikan kesempatan seluas-luasnya baginya untuk menjangkau kepuasan seksualnya. Dalam hal ini seakan Pedro maupun Tory menempatkan dirinya sebagai fasilitator yang menjembatani khayalan-khayalan seksnya menjadi kenyataan. Bukan sekedar teori, tetapi juga sarana, kemampuan, kekuatan dan ketahanan Pedro maupun Tory yang sungguh tak terperikan.

Kontol-kontol Pedro dan Tory merupakan sarana utama yang mampu memenuhi harapan dan keinginan Lia untuk sungguh-sunguuh menjadi istri dambaan Danny itu. Setiap Lia menyaksikan kontol-kontol itu, dengan tanpa menunggu lagi, respon birahi Lia langsung mencuat. Mulut Lia selalu siap menjemput untuk mengulum kontol-kontol itu. Memek Lia yang ranum selalu menunggu untuk ditembusnya. Pinggul dan pantat Lia siap 'ngebor', agar Tory dan Pedro mendapatkan layanan kenikmatan dari Lia semaksimal mungkin.

Sementara itu bagi Pedro dan Tory, kehadiran Lia di villa indah di tengah hutan ini sungguh merupakan rejeki nomplok. Bidadari, dewi, sang jelita, peri yang cantik, perawan sundal, perempuan sintal, perempuan binal, pelacur para dewa, penjilat kontol dan berbagai sebutan lain yang melukiskan kehebatannya sebagai wanita yang sangat pantas menjadi lambang kepuasan lelaki macam Pedro dan Tory.

Melihat Lia, menyaksikan buah dadanya yang selalu ranum, menyaksikan kemaluannya yang indah membukit, menyaksikan lembah-lembah pinggulnya, perutnya, ketiaknya, rasanya kontol mereka kurang lagi memadai. Mereka membayangkan, mengapa lelaki hanya memiliki satu kontol saja. Mereka bayangkan seandainya mereka memilik banyak kontol dan pada saat yang bersamaan kontol-kontol mereka itu dapat merambah sekaligus di wilayah-wilayah nikmat di tubuh bidadari dan dewi jelitanya, si Lia istri Danny itu.

Bagi Danny lain lagi. Pada peristiwa bulan madunya ini dia baru memahami bahwa kenikmatan seksual itu punya banyak aspek. Dia sungguh merasa menemukan nilai-nilai baru dalam kenikmatan seksual itu. Dia merasakan betapa nikmatnya menyaksikan istrinya merintih, mengerang serta mendesah bersamaan dengan saat kenikmatan melandanya ketika kontol-kontol Pedro dan Tory menembus memeknya. Dia juga merasakan kenikmatan yang hebat saat melihat mulut Lia penuh terisi oleh kepala kontol-kontol besar milik para begundal itu. Dia merasakan sangat nikmatnya menjilati sperma Tory dan Pedro yang muncrat dan ditinggalkan memenuhi rongga vagina Lia istrinya. Dia jilati hingga vagina Lia bersih tandas. Dia merasakan bukan main nikmatnya saat Tory memangilnya sebagai 'anjingnya' untuk menjilati kotoran di pantatnya yang disebabkan lupa cebok setelah buang air tadi. Dan nikmat yang sama juga dia dapatkan dari Pedro.
Dan sekarang Danny dengan penuh gairah berada di tengah kamar ini, dimana istrinya dengan penuh obsesi melayani nafsu bejat para begundal itu. Danny menunggu kenikmatan-kenikmatan berikutnya yang pasti akan datang dan diberikan oleh Pedro dan Tory.

'Hai kamu, budak! Sini, jilatin kontolku, lumasin dengan lidah kamu, biar mudah menembus memek istrimu nanti', panggil Pedro sambil menyodorkan kontolnya ke mulut Danny.
Dan dengan kepatuhan mutlak sebagai budaknya, dia laksanakan perintah Pedro. Rupanya Pedro keenakan merasakan jilatan Danny, sehingga dia perintahkan untuk mengulum-ngulumnya, dia mau spermanya muncrat ke dalam mulut Danny. Dia ingin melihat Danny yang penuh kehausan itu meminum spermanya.

Melihat Pedro menyeringai kenikmatan dengan muncratnya spermanya ke mulut Danny, Tory juga memanggil Danny untuk melakukan hal yang sama pada kontolnya yang hebat itu. Dan sekali lagi, Danny melaksanakan tugas itu sambil mengocok-ngocok kontolnya. Saat sperma Tory muncrat ke mulutnya dan dia mengenyam-ngenyamnya sebentar untuk merasakan betapa nikmatnya sperma itu sebelum meminumnya, kontol Danny juga berbarengan muntah. Spermanya mengotori lantai kamar pengantinnya.

Lia yang menyaksikan adegan-adegan itu langsung terdongkrak birahinya. Pedro ditariknya hingga telentang di ranjang. Memeknya diarahkannya untuk mencaplok kontol Pedro yang tak kunjung lemas itu, yang selalu tegak ngaceng dengan jamurnya yang besar tumpul dan mengilat-kilat itu. Kemudian ditekannya ke lubang vaginanya. Dan.., bless.., vaginanya secara lahap menelan kontol Pedro yang 20 cm itu. Dan seolah-olah menaiki kuda sembrani, Lia menggenjot habis-habisn memeknya ke kontol besar itu.

Sebelum Pedro kembali memuncratkan air maninya ke liang vaginanya, Lia telah berhasil meraih multi orgasmenya. 3 kali berturut-turut kemaluan Lia memuncratkan cairan birahinya. Nampaklah kontol Pedro yang diam tegak bak tugu Monas itu telah basah kuyup oleh cairan Lia yang muncrat-muncrat terpompa keluar. Teringat akan tugasnya, dan melihat cairan-cairan Lia muncrat-muncrat di batang kontol Pedro, Danny dengan sigap merebahkan dirinya ke atas kasur tepat di selangkangan Pedro. Mulutnya dan lidahnya dengan segera menjilati dan menyedot lelehan cairan pada batang tegar Pedro itu.

Demikianlah suasana dan kesibukan di kamar pengantin pasangan Danny dan Lia sepanjang malam itu. Danny dan Lia sepenuhnya sibuk melayani nafsu bejat para begundal tersebut. Dan Tory serta Pedro sangat menikmati dan puas dengan selang-seling pelayanan istimewa dari budak dan anjingnya. Saat jam di dinding menunjukkan pukul 4 dini hari, jauh sebelum matahari terbit di ufuk timur, Pedro, Tory, Danny dan Lia yang ternyata sama-sama tak kenal lelah, memasuki episode yang paling mendebarkan.

setelah Lia dientot Pedro dan Tory dengan cara nungging seperti anjing betina melayani para pejantan, Danny diperintahkan untuk menjilati dubur istrinya. Berkali-kali kepala Danny dijambak oleh kedua begundal itu untuk terus menjilati dubur Lia hingga benar-benar basah. setelah itu mulut Danny dijejali kontol-kontol besar mereka hingga kontol-kontol itu lumat dengan ludahnya. Ketika merasa telah cukup memadai, Tory meraih rambut panjang Lia yang tetap berposisi seperti anjing betina yang menunggu dientot para pejantan. Dihelanya rambut Lia seperi menghela kuda tunggang. Kontol besarnya dengan pasti diarahkan ke dubur Lia yang telah kuyup, basah oleh ludah Danny. Kontol yang tegak kaku itu ditusukkannya ke lubang dubur Lia. Tak ayal lagi, teriakan pilu karena rasa sakit bercampur nikmat yang sangat keluar lepas dari mulut Lia. Teriakan itu begitu panjang, seakan anjing betina yang menggonggong di malam bulan purnama ini.

Dan tanpa mengenal ampun, lubang dubur Lia ditembus kontol besar panjang Tory. Semangat memompa kontol Tory, membuat lubang dubur Lia seakan dirobek-robeknya. Rasa pedih, perih yang disertai rasa panas membara sepertinya batangan besi panas yang membuat sensasi rasa terbakarnya lubang dubur Lia membuat Lia kehilangan kesadaran. Lia pingsan. Tetapi itu semua tidak membuat Tory menghentikan serangannya. Genjotan kontolnya justru semakin memburu. Nafsu kebinatangannya semakin memburu. Birahinya yang meledak dan melanda kontolnya semakin memburu. Genjotan pompa Tory tak lagi terhentikan. Juga tangannya yang terus memegangi rambut Lia tak kunjung dilepaskannya. Dan itu yang membuat tubuh Lia tidak roboh walaupun dalam keadaan pingsan.
Dan hingga, 'AARRGGHH..', berbarengan dengan terdengarnya longlongan serigala di malam purnama ini.
Kontol Tory kembali memuncrat-muncratkan bertetes-tetes spermanya, dan baru kali inilah nampak Tory roboh bersamaan dengan robohnya tubuh Lia yang masih pingsan.

Danny, si anjing yang setia, budak yang selalu patuh, pelayan yang tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia beringsut mendekati kontol Tory yang nampak masih setengah tegak di selangkangannya yang terbuka. Danny dengan setia menjilati kontol yang masih basah itu. Lidahnya dengan telaten menjilati celah-celah, tonjolan, lipatan dan lubang kencing Tory yang tampak semakin indah di mata Danny itu. Setelah itu, perhatian Danny beralih ke lubang dubur istrinya. Sperma yang meleleh dari lubang itu warnanya agak berbeda, tidak hanya putih bening, ada semburat kuning hijau yang membaur. Sperma itu pasti telah bercampur dengan apa yang ada di dalam dubur Lia. Dan Danny benar, saat lidahnya mulai menjilat untuk menyedotinya, hidungnya diterpa bau yang khas, bau anal dan kotoran Lia. Tetapi justru hal itu membuat Danny semakin horny dan bergairah.

Terdengar rintihan halus Lia, rupanya Lia mulai sadar dari pingsannya. Dia sedikit menggeliat, rintihannya semakin jelas. Danny tanpa merasa terganggu tetap meneruskan tugasnya. Tiba-tiba dirasakannya ada yang menarik dan menjambak rambutnya. Pedro.. Danny ditariknya dan dilemparkannya hingga terjengkang di lantai. Seperti halnya Tory, Pedro meraih tubuh Lia hingga berposisi tengkurap. Kemudian dengan tangannya yang kokoh diangkatnya pinggul Lia sehingga posisi Lia kembali menungging. Sementara Lia yang baru akan sadar sepenuhnya, kembali merintih dan mengerang. Dan sebagaimana halnya Tory juga, Pedro sama sekali tidak mengacuhkan keadaan Lia. Lubang dubur yang baru saja dibersihkan dari sperma yang bercampur dengan kotoran Lia oleh lidah dan bibir Danny, kembali digasaknya.

Bersambung . . . .

Misteri Villa forest garden - 6

Kembali Lia mengaduh dan merintih merasakan pedih dan rasa panas yang sangat tak terperikan pada lubang duburnya. Kontol Pedro yang terus mengocok-ngocok lubang itu sama sekali tak mengendorkan serangannya barang sedikit pun. Semakin keras rintihan yang kemudian disusul tangisan dari mulut Lia, semakin beringas pula Pedro menusukkan kontolnya ke dubur Lia. Hingga akhirnya Lia kembali pingsan. Dan itu justru membuat Pedro menggila. Dia meracau, mengumpat, mencaci. Semua kata-kata kotor bertebaran dalam ruang kamar pengantin yang sempit itu.

Sementara itu Tory telah siuman, dan Danny melihat Tory mendekatinya. Tanpa ba-bi-bu, Tory menerkam Danny. Ditelentangkannya Danny ke lantai. Rupanya Tory nafsunya bangkit kembali saat menyaksikan Pedro ngentot pantat Lia. Dan bagi Tory sama saja. Dia tidak akan sabar menunggu Pedro. Ditindihnya tubuh Danny, selangkangannya dipaksanya terbuka. Kemudian kaki-kaki Danny diangkat ke pundaknya. Kontol yang kaku besar panjang ngaceng itu tanpa menunggu pelumasan langsung ditembakkan ke anal Danny.

Saat itu Danny agak sadar, bahwa sebagai lelaki dia belum pernah dientot sesama lelaki. Tetapi Tory ini adalah tuannya, dan Danny adalah anjing setianya. Dia akan melayani Tory sebaik-baiknya. Direngkuhnya tubuh berotot Tory, dipeluknya. Dan saat Tory mendaratkan bibir tebal untuk melumat bibirnya, dia menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan seekor anjing yang dapat memuaskan tuannya.

Tetapi, saat kontol besar panjang milik Tory itu benar-benar menusuk dengan tajam ke lubang pantatnya, sebagaimana yang dirasakan oleh Lia, seakan ada besi membara yang menghunjam pada analnya. Sakit, pedih, perih dan panasnya yang luar biasa. Kesakitan yang amat sangat yang menimpa Danny membuat pandangannya kabur, kabur, kabur.., kemudian gelap.., menyusul Lia istrinya, Danny ikut pingsan..

Pukul 7, pagi harinya..
Danny menggeliat. Panas matahari pagi yang menembus jendela kamar Villa Forest Garden jatuh ke wajahnya sehingga membuatnya tersadar. Samar-samar terlintas dalam ingatannya saat-saat yang sangat menyakitkan tadi malam, dengan perasaan yang penuh putus asa dan hati yang sangat kecut Danny membuka matanya pelan. Dimana Tory dan Pedro? Pantatnya masih terasa pedih karena tusukkan kontol Tory semalam.

Dilihatnya sekeliling kamar dengan ekor matanya, dan.. Dengan cepat serta penuh keterkejutan, serta merta Danny bangun dengan masih berbugil. Ini bukan kamar yang tadi malam, kamar ini adalah kamar yang diberikan oleh Tory penjaga villa untuk pasangan Danny dan Lia. Lukisan di dinding, lampu meja, gordyn, meja dan kursi rias itu. Dan pintu kamar itu.., sudah utuh kembali.. Pintu yang tadi malam hancur roboh diterjang para begundal itu..?

Lantas kamar yang tadi malam itu di mana? Apakah Tory dan Pedro memindahkan mereka kembali ke kamar ini?
Nampak Lia masih tidur disampingnya, yang kemudian juga menggeliat bangun disebabkan sinar matahari yang juga jatuh ke wajahnya.
'Lia ..', Danny memanggilnya pelan
Lia langsung membuka mata dan dengan gelagapan cepat bangkit duduk pula. Seperti halnya Danny, matanya juga menyapu interior kamar itu.
'Mas, kita dimana? Mana Tory dan Pedro ..?'.

Tapi Danny tidak langsung menjawab. Disingkapnya selimut istrinya. Masih sama-sama bugil. Di bukanya paha, selangkangan, dilihatnya mendekat, ada bercak darah mengering di pahanya. Itu pasti darah keperawanan Lia, tapi aku khan belum jadi bersanggama dengan kamu? Jadi..? Danny sepertinya protes. Atau kita hanya mimpi..? Mungkinkah ada mimpi kembar? Dua orang dalam mimpi yang sama? Mengalami kejadian yang sama? Dan akhirnya merasakan kepedihan yang sama pula? Tapi..

'Ssstt ..', dengan berjingkat Danny mengajak bangun.
Pertama-tama diintipnya keluar jendela. Aahh.., alangkah damainya. Pemandangan di luar jendela yang sangat asri dan segar. Nampak danau kecil di kejauhan yang ditimpa sinar matahari pagi, kabutnya belum sepenuhnya hilang dan kijang-kijang yang merumput. Indahnya alam ini.

Kemudian mereka menuju ke pintu. Masih terkunci tepat sebagaimana saat dia menguncinya tadi malam sebelum naik ke ranjang. Danny memutar kunci, klek.., dan memutar handlenya. Pintu terbuka. Dengan menuntun tangan Lia pelan-pelan, Danny melangkah keluar kamar, terus keluar, menuju beranda, tak ada meja besar, tak ada tiang obor itu, tak ada..

'Selamat pagi, Pak', sambut seorang lelaki tua, agak renta, disampingnya tampak lelaki yang agak muda, rasanya mereka bersaudara, mungkin bapak dengan anaknya.
'Pagii Pak, apa kabar?', Danny dan Lia berbareng menyahut.
'Bapak mau minum apa? Eeehh, maaf Pak. Saya baru bisa menghadap Bapak sekarang. Saya dan anak saya ini baru mudik dari desa seberang, maklum ada tetangga yang menikah, tidak enak kalau tidak datang..', Pak tua itu minta maaf pada pasangan Danny dan Lia.
'Ooohh yaa? Bapak ini siapa..?', tanya Danny dengan penuh curiga..
'Saya pelayan Pak Sumitra, Pak. Nama saya Tory. Dan ini anak saya Pedro yang menemani saya menjaga kebun Pak Sumitra ini..'.

Danny dan Lia tercekat. Tangan Lia yang langsung berkeringat dingin meremas tangan Danny.
'Ohh.., lantas yang tt..', Danny tidak menyelesaikan pertanyaannya karena keburu tangan Lia meremasnya agar tidak berbicara lebih jauh..
Suasana menjadi misterius. Tiba-tiba terdengar telepon berdering di kamar tidur mereka.
'Sebentar Pak..', Danny buru-buru beringsut sambil menarik tangan istrinya kembali ke kamar tidur.
Terdengar di ujung telepon, 'Hallo Danny, Lia, selamat bulan madu yaa..', itu suara Sumitra rekan Danny.
Lama Danny tidak menyahut, hingga, 'Hallo, ini Danny ya.., atau Lia..?'
'Yaa, yaa.. ini Danny.. apa kabar Pak Mitra?',
'Baikk, gimanaa.. enak tidur semalamm..?',
'Yaa.. enak Pakk.. terima kasih yaa..', Danny tidak ingin menceritakan peristiwa yang dialaminya.
'OK, baiklah, aku tidak akan mengganggu anda semua lho. Cuma cek dan ricek saja. Kalau perlu apa-apa suruh saja Pak Tory atau Pedro, mereka baik koq. Mereka sudah saya suruh untuk melayani sebaik-baiknya anda berdua. Jangan khawatir. O yaa, kalau ada perlu apa-apa telepon aku saja, nanti kubantu. Selamat Honey Moon.., byee..'.
Danny dan Lia langsung terduduk lemas. Lantas siapa yang mengaku Tory dan Pedro tadi malam? Dimana bunga sedap malam itu?
'Itu bukan mimpiku sendiri khan, Ma? Mama juga mimpi yang sama khan? Mama masih ingat saat pintu itu didobrak para begundal hingga hancur khan Ma? Mama lihat sendiri khan bagaimana ulah para begundal brutal itu?'
Pertanyan yang sama persis antara Danny dan Lia yang semua jawabannya semakin membuat misteriusnya apa yang dialami oleh Danny dan Lia semalam.

Dengan penasaran Danny menengok kamar sebelah. Terkunci. Dia perhatikan handlenya, diraihnya. Lho berdebu sekali, bukankah semalam Pedro membuka dan menutup pintu ini, yang tentunya meraih handle pintu ini..? Dengan alasan kagum dengan villa indah itu, Danny minta agar dibukakan pintu kamar itu pada Pak Tory. Agak lama Danny menunggu Pak Tory mengambil kunci.

'Maaf pak, kuncinya terselip di loteng, jadi saya cari dulu. Soalnya kamar ini sudah lama tidak pernah dibuka'.
Di kamar itu Danny melihat barang-barang tua, antik, yang ditumpuk begitu saja. Ada alat masak jaman Belanda, sendok garpu jaman Belanda, ada tangkai obor untuk para ambtenaar kalau bikin pesta kebun. Dan itu.., gramaphone di atas lemari tua.., Danny menggigil.
'Ini barang peninggalan pemilik lama Pak, orang Belanda, suami istri, kemudian diusir pulang ke negerinya karena ketahuan memperkosa pelayan lelakinya, aneh ya pak, sudah lama sekali, mungkin ada 70 tahun yang lalu, masih jaman Kompeni kata orang..', ujar Pak Tory.

Danny terkesiap mendengar cerita Pak Tory dan saat melihat barang-barang itu. Bukankah barang-barang ini yang tadi malam dipakai Tory untuk alat-alat makan malam? Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Dia dapat mengira-ngira sendiri kurang lebih apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Kemudian dia merapat ke dinding yang memisahkan kamar itu dengan kamar pengantin yang ditempatinya. Sekali lagi, Danny sungguh terkejut.., dilihatnya kotak yang dia gunakan sebagai tempat berdirinya semalam. Dan.. lubang itu.. tepat masih ada di situ.. Dan pada dinding itu.. Danny melihat ada cairan yang telah mengering.. Itu adalah spermanya yang muncrat tadi malam menyusul sesaat setelah Tory melepas spermanya juga.. Bulu kuduk Danny langsung berdiri..

Dan oleh karena ketakutannya yang amat sangat, dengan tanpa menunggu lebih lama lagi, Danny dan Lia memilih berbenah untuk pulang. Meninggalkan villa misterius itu. Setelah memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada Pak Tory dan Pedro, dengan alasan ada panggilan dari Jakarta, tanpa sempat meminum minuman yang disuguhkan oleh Pak Tory, Danny dan Lia segera meluncur membawa mobilnya, lari dari villa itu, pulang.

Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Masing-masing sepertinya telah terkena serangan trauma yang sangat hebat. Sangat menakutkan. Mereka berkesimpulan hutan tropis itu sangat angker. Apakah Pak Sumitra tidak tahu? Ataukah dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, sehingga dia tidak pernah memberi tahu padanya? Dan karena khawatir akan menimbulkan akibat yang tidak mengenakkan bagi kehidupan mereka berdua, Danny dan Lia sepakat untuk mengubur saja pengalaman yang mereka alami di villa itu. Mereka sepakat untuk tidak menceritakannya pada orang lain.

Dan pada akhirnya..
Tak ada hal yang berubah dalam pandangan umum pada kehidupan Danny dan Lia. Bagi orang lain di sekitar Danny dan Lia, keluarga di rumah, teman-teman kantor dan para relasi segalanya berjalan sebagaimana sebelumnya. Danny dan Lia secara teratur tetap rajin mengunjungi sanak saudaranya atau teman-temannya. Juga tidak pernah absen dari berbagai acara-acara keluarga maupun pertemuan-pertemuan antar teman sejawat.

Tetapi sebenarnya di luar pengetahuan orang lain, Danny dan Lia bukanlah Danny dan Lia yang pernah mereka kenal sebelum peristiwa bulan madu itu. Kini mereka menjadi pasangan yang paling terbuka dan dapat mengungkapkan masing-masing keinginannya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan sekaligus dapat memenuhi harapan para undangan dalam pesta perkawinan mereka yang lalu, 'Semoga Danny dan Lia merupakan pasangan yang saling mendukung, membantu dan mengisi kekurangan yang satu terhadap yang lain'.

Pada suatu hari, sesaat setelah mereka berhubungan badan sebagaimana layaknya kehidupan suami istri.
'Mass.. aku rasanya koq ingin yang besaarr sekali.. bisa nggak, Mmaass..?',
'Oh yaa..? YANG HITAM yaa..? Aa.. aa.. aku ss.. setuju sekalii.., aku cc.. cariin yaa..?! Nanti aku yang NGELAYANIN yaa..?'.
Mata Lia nampak berbinar..

Jakarta, April 2003

Tamat

Budak pemuasku - 1

Saya adalah seorang wanita, single dan telah 8 tahun bekerja di sebuah perusahaan multi national yang terkenal, mungkin para pembaca mengetahui sebagai pekerja apalagi di sebuah perusahaan yang besar, karir kita tidak akan pernah mencapai posisi puncak, tentunya posisi ini biasanya diisi oleh seorang Expat yang ditunjuk langsung oleh headquarters yang bertempat di luar negeri.

Selama 8 tahun saya terus berambisi dan bekerja keras untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi, dimana bukan hanya imbalan materi dan fasilitas yang lebih baik, tetapi juga untuk mendapatkan kekuasan yang lebih, hal kedua ini sifatnya lebih condong untuk kepuasan batin.

Saya rasakan juga bahwa hal ini lumrah bagi manusia untuk mendapatkan hal yang lebih dan kelebihan itu selalu berkisar di antara hal hal tersebut, hanya setiap orang mempunyai hasrat dan ambisi yang berbeda beda dan di tambah dengan faktor talenta, kemauan untuk kerja keras dan faktor keuntungan tentunya tidak semua orang akan mendapatkan level yang sama.

Di perusahaan di tempat saya bekerja, saya terkadang merasa tertekan di mana atasan saya selalu menganggap saya sebagai budaknya dan segala hasil kerja keras saya selalu di ambil creditnya untuk atasannya lagi. Terkadang sebagai wanita kita juga sering di lecehkan (tidak secara sexual dalam case saya) tetapi dalam arti batas kemampuan kita, kelemahan dan lain sebagainya. Saya mengerti di dunia ini dan sudah menjadi kenyataan ada kecenderungan pria dianggap sebagai manusia yang lebih dalam segala hal sehingga segala sesuatunya akan lebih baik bila pria yang mengerjakannya sehingga mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.

Oleh karena hal tersebut di atas saya berkesimpulan bahwa sebab sebab dari kesukaan saya untuk menjadi seorang Domina dalam fantasi permainan sex ini mungkin berawal dari ketidak puasan saya dengan kejadian kejadian dan situasi di tempat kerja saya tersebut. Permainan fantasi sex ini seakan membalaskan dendam saya terhadap ketidak puasan dan keadaan di tempat saya bekerja sehingga secara kejiwaan saya bisa menjadi sangat menikmati dan puas bila dapat melihat seorang pria tidak berdaya dan menurut atas kemauan saya apalagi ketidak berdayaannya itu dilakukannya sendiri dengan sukarela dan senang hati.

Pertanyaan pertanyaan dari para pembaca yang menanyakan akan sebab dari kesukaan saya ini semoga bisa dengan jelas terjawab dalam penjelasannya yang saya ungkapkan dengan sejujur jujurnya diatas.

Mungkin cukup penjelasan saya mengenai back ground dari kesukaan saya ini, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang pria yang kebetulan juga cocok dengan fantasi saya dan juga cocok selera dengan saya dari segi fisik maupun sifatnya.


Seleksi dan Recruitment

Pertemuan saya dengan budak cowok saya yang baru ini berawal dari email. Setelah pemuatan cerita saya yang berjudul "Pemijat Submissive", banyak sekali cowok yang berkirim surat kepada saya untuk meminta dijadikan budaknya. Namun dari sekian banyak email saya memilih beberapa saja yang saya balas, tentunya dari balasan yang ada saya juga menyeleksi ulang lagi cowok-cowok yang mendaftar untuk menjadi budak saya.

Kriteria pemilihan saya terutama adalah orang yang intelegent, open minded dan tentunya benar benar menghayati perannya sebagai seorang budak. Kemudian saya juga memeriksa background orang tersebut dari segi materi, kebersihan dan status perkawinan. Saya sengaja mencari orang yang status sosialnya cukup tinggi, sudah kawin dan cukup mapan, pertimbangan ini saya pilih untuk menghindari masalah privacy saya di dunia luar, karena saya juga yakin seorang dengan kriteria yang tadi juga ingin rahasia jati dirinya di jaga sehingga kami bisa saling menjaga privacy.

Dari proses penyaringan tersebut akhirnya saya memilih satu kandidat yang saya pikir cukup memadai, namanya Anwar. Dia adalah seorang Chinese yang cukup mapan, berasal dari keluarga yang terhormat, sudah kawin dan berusia 32 tahun. Setelah kurang lebih 1 bulan kami saling mengenal diri melalui telepon dan email akhirnya saya merasa sudah cukup comfortable untuk bertemu langsung dengan dia.

Pertemuan kami atur di sebuah Mall besar di Jakarta Barat yang sangat terkenal dan ramai, pertemuan ini di sepakati pada hari dan jam kerja, di sebuah coffe shop.

Saya sengaja datang 60 menit lebih awal untuk mempelajari situasi dan menyiapkan jalan untuk back out dari pertemuan ini bila ternyata si Anwar itu tidak cocok dengan deskripsi yang telah dia berikan, terus terang pembaca saya sangat nervous sekali waktu itu.

Sambil duduk dan minum cafe late yang sudah dihidangkan saya berharap harap cemas menunggu pertemuan dengan Anwar, jantung saya berdebar debar keras, dan efek dari coffe yang saya minum sepertinya membuatnya menjadi tambah parah. Tiba tiba telepon HP saya berdering, sepertinya jantung saya hampir copot mendengarnya, memang kami sudah berjanji untuk saling menelpon bila sudah dekat di lokasi.

"Hello Mbak, saya Anwar.."
"Oh iya.. Sudah dimana kamu?" desahku sambil gemetar.

Sambil menjawab saya melihat ke sekeliling coffe shop, ketika itu saya melihat seseorang cowok yang sedang berdiri dan celingukan sambil menelpon. Mata kami beradu dan dia tersenyum sambil mengangukan kepalanya, seketika itu saya langsung tahu kalau cowok itu adalah Anwar yang sepertinya sudah saya kenal walau hanya melalui telepon dan email. Dia berjalan menghampiri saya sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan.

Para pembaca, pertemuan yang mendebarkan ini ternyata cukup menyenangkan, saya seketika merasa nyaman sekali berada di dekat si Anwar setelah bertemu dan mengobrol ngalor ngidul tentang kehidupan kami. Orangnya menurut saya sangat open minded, pintar dan sedikit pemalu, secara fisik cukup menarik, tingginya sekitar 180 cm, kulitnya putih bersih kecoklatan, rambut pendek, badan cukup berisi hanya sedikit gemuk di sekitar pinggang.

Tanpa terasa kami sudah ngobrol selama 1 jam, selama ngobrol mata kami saling bertatapan, dan saya melihat ketulusan dan kejujuran di sorot matanya, sesekali dia menundukan mata bila saya bertanya yang sifatnya sangat pribadi, saya merasa berada diatas angin dan mendominasi pembicaraan. Bahan pembicaraan kami sama sekali tidak menyinggung mengenai permainan sex yang kita gemari tetapi lebih banyak ke keluarga, kerja dan lain lain. Sepertinya kita bisa saling terbuka dengan kehidupan kami. Saya juga merasakan adanya peningkatan atas kepercayaan dan merasa comfortable dengan dia.

Setelah pertemuan itu, kita berjanji untuk saling kontak untuk pertemuan berikutnya melalui email dan telepon, mungkin kita malu untuk memulai pembicaraan tentang fantasi permainan yang memang kami sukai itu secara langsung, mungkin karena ini pun pertemuan pertama kita.

Setibanya saya di rumah saya langsung menyalakan note book dan mulai menulis email untuk Anwar untuk pertemuan kita yang lebih lanjut. Di dalam email intinya saya menyatakan kepada dia bahwa saya ingin menjadikan dia seorang budak sex pemuas nafsu yang mengabdikan badan dan jiwanya kepada saya sebagai Mistressnya, tentunya dengan batas batas tertentu yang dia punyai, untuk itu saya menanyakan komitmen dia dan batas batas yang di sanggupi oleh dia.

Di dalam email saya juga menulis semacam pernyataan atau perjanjian mengenai kerahasian dan kebersihan yang harus di lengkapi dengan hasil pemeriksaan lab atas bebasnya dia dari penyakit penyakit kelamin sebagai syarat saya untuk menyewa dia sebagai budak sex saya.

Setelah kurang lebih 1 minggu (yang serasa lama sekali) saya mendapatkan email balasan dari si Anwar. Dengan berdebar debar saya mulai membuka dan membaca email balasan darinya. Di dalam emailnya dia menyanggupi segala syarat dan keinginan saya, dia juga bahkan melampirkan hasil scan dari hasil pemeriksaan lab yang meluluskan dia dari penyakit penyakit. Dia sangat ingin segera mengabdikan dirinya untuk saya dan juga menuliskan batasan batasan yang dia inginkan.

Pembaca, menurut saya batasan batasan yang di berikan oleh dia cukup bisa dimengerti. Batasan utama yang diinginkan adalah mengenai kerahasiaan sehingga permainan hanya berlaku di dalam tempat yang aman dan discreet dan di luar dari itu hubungan kita tetap hanya sebagai teman biasa, sehingga "public humiliation/punishment" tidak bisa di terapkan di dalam permainan kami. Batasan lainnya juga mengenai penyiksaan yang sampai menimbulkan luka permanen atau mengeluarkan darah juga tidak dapat di tolerir karena dapat menimbulkan bekas dan berbahaya. Kemudian ada juga batasan untuk permainan "force feminization" atau dimana saya melecehkan dia dengan mendandani dia dengan pakaian perempuan. Sebagai tambahan safety kami juga mempunyai semacam kata kode, dimana bila dia atau saya mengatakan kode itu semua permainan akan berakhir.


Bersambung . . . . .. .

Budak pemuasku - 2

Setelah semua formalitas tersebut dibicarakan dan di sepakati, akhirnya tibalah saatnya untuk saya menikmati budak sex baru yang saya recruit. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah hotel di Jakarta di waktu jam kerja, setelah makan siang sampai sore hari. Saya menuliskan instruksi instruksi untuk persiapan apa saja yang harus disediakan pada saat pertemuan tersebut melalui SMS dan email.

Saya menginstruksikan dia untuk menyediakan sebuah rantai anjing yang mengunakan kulit pada pegangan penuntunya, jepitan baju, lilin putih yang besar, sebatang pengaris kayu, dasi dasi tua yang banyak, borgol besi 1 pasang, sarung tangan latex dan KY Jelly. Pada saat saya menulis itu, jantung saya berdebar debar dan muka saya terasa panas karena sudah membayangkan hal apa saja yang akan saya lakukan ke dia. Imajinasi saya berlari ke mana mana dan gambaran gambaran akan siksaan siksaan yang akan saya lakukan membuat saya menjadi sangat horny.

Pada hari yang sudah di sepakati, pagi pagi hari sekali saya menelpon kantor untuk meminta ijin untuk tidak masuk hari itu, dan saya sudah sengaja untuk mengalihkan semua appointment yang ada di hari itu untuk direschedule ke esokan harinya. Asisten pribadi saya juga sudah saya beritahu bahwa hari ini saya ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan di luar kantor, sehingga semua urusan yang ada saya delegasikan ke asisten saya.

4 jam sebelum waktu yang di sepakati saya menulis SMS ke Anwar untuk detail persiapan yang harus dia lakukan, sehingga pada waktu saya datang di kamar hotel yang sudah di siapkan olehnya dia sudah siap untuk melayani saya. Saya meminta dia untuk mandi yang bersih (kalau perlu luluran), dan berdiri menunggu saya di depan pintu dalam kamar hotel dalam keadaan telanjang bulat dan mengenakan rantai anjing di lehernya dengan mata yang di tutup erat oleh sebuah dasi berwarna hitam. Saya juga meminta rantai anjing tersebut dililitkan di sekeliling lehernya dan dengan kulit penuntunnya digigit di mulutnya.

Kurang lebih jam 12 siang saya mendapat SMS dari Anwar yang berbunyi, "Saya sudah siap dan sedang menunggu di kamar 1811 untuk digunakan oleh kamu" melihat kata kata di SMS itu darah saya terkesiap dan bulu di tengkuk saya merinding membayangkan kenikmatan yang akan saya peroleh.

Saya bergegas mengenakan sepasang pakaian dalam lace saya yang berwarna hitam dan di baluti oleh sebuah blouse putih yang tipis serta satu stel blaser dan rok berwarna abu abu tua, saya juga sengaja menyemprotkan winyak wangi sekujur tubuh saya sehingga menjadi sangat semerbak wangi menggoda bila saya berjalan. Setelah berdandan saya dengan tergesa gesa mengambil kunci mobil saya dan mulai menyetir ke arah hotel tempat kita berjanji yang di tempuh kurang lebih hanya 15 menit.


The Game is Beginning

Tibalah saya di depan pintu kamar hotel, saya memencet bel yang berada di depan pintu kamar. Seketika pintu di buka, ini menandakan budak saya sudah dengan tepat mengikuti instruksi dari saya. Segera saya masuk dan menutup pintu dan mengunci rantai pintu dalam. Saya melihat di depan saya seorang pria budak pemuas saya sedang berdiri tegap dengan posisi tangan silang ke belakang punggung dan kaki sedikit terbuka lebar, kelihatannya dia sangat menghayati perannya sebagai budak saya, terlihat penisnya sudah setengah ereksi mungkin karena sangat berantisipasi menunggu kedatangan saya, saya tersenyum melihat pemandangan di depan saya, selama kurang lebih 2 menit saya mempelajari badan yang akan diberikan kepada saya dalam 4-5 jam ke depan.

Para pembaca, saya sengaja menginstruksikan Anwar untuk mengenakan penutup mata, sehingga dia tidak dapat melihat ekspresi muka saya yang mungkin sedikit grogi atau tersenyum geli melihat dia yang sedang menggunakan rantai anjing dan mengigit kulit penuntun rantai anjing yang berwarna merah itu. Saya tidak mau wibawa saya hilang karenanya, jadi lebih baik matanya tertutup, dan saya pikir harusnya untuk dia sensasinya lebih besar juga bila dia pasrah dan tidak bisa melihat siapa yang datang dan mengunakan badannya.

Pelan Pelan saya ambil kulit penuntun rantai anjing yang di gigit di mulutnya dan melepaskan beberapa lilitan rantai besi yang berada di lehernya, kemudian saya menuntun dia ke tengah ruangan kamar di depan tempat tidur. Dengan posisinya berdiri yang sama dan dengan kepalanya menunduk. Saya berjalan perlahan mengelilingi dia sambil memeriksa dan menginspeksi badannya yang putih kecoklatan dan bersih itu.

Sekali kali saya membelai belai badannya untuk merasakan apakah dia sudah luluran dan mandi dengan bersih. Dengan lembut dan perlahan saya juga meremas remas penis dan kantung dimana dua buah bolanya berada untuk merasakan kejantanannya, dan menciumi dadanya dengan lembut untuk merasakan bau aroma badannya yang sebentar lagi akan saya pakai dengan seenak enaknya.

Anwar budak saya itu pasrah dan diam saja, saya bisa merasakan bahwa dia sangat excited sekali dengan perlakuan saya itu, sekali kali dia melenguh keenakan pada saat saya menyentuh bagian bagian sensitif di badannya. Setelah kurang lebih 10 menit saya melakukan inspeksi badannya dan puas dengan hasil inspeksi saya duduk di depannya di pinggiran ranjang.

Saya berkata, "Sekarang kamu berlutut..!". Dengan patuh dia menjatuhkan lututnya untuk berlutut di atas karpet, dengan mata masih tertutup dan kepala yang menunduk.

Kemudian dengan lembut dan tegas saya berkata di depan mukanya..

"Mulai detik ini, kamu adalah budak saya, badan dan jiwa kamu menjadi milik saya sampai sesi ini selesai, kamu enggak berhak lagi atas badan kamu, penis kamu, lidah kamu, muka kamu, tangan kamu, kaki kamu semuanya gunanya untuk memuaskan saya, kamu ngerti..?"
"Saya mengerti, silakan Ibu memakai badan saya untuk kesenangan dan kepuasan Ibu dengan seenak enaknya dan seegois egoisnya tanpa memikirkan saya sama sekali, semoga saya dapat memberikan kenikmatan buat Ibu, bila tidak silakan saya di hukum dan di siksa..", jawabnya dengan gemetar.
"Oke.. Bagus.." jawab saya.
"Mulut kamu juga tidak boleh bicara tanpa ijin, kecuali bila saya beri pertanyaan, kalau enggak badan kamu nanti saya siksa", lanjutku. Dia menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

Saya beranjak berdiri sambil melepas blazer untuk menjadi lebih nyaman. Saya mengacuhkan keadaan slave saya yang masih berlutut telanjang di kamar hotel, seakan akan dia hanyalah sebuah benda yang bernafas dan berfungsi untuk saya nikmati bila saya inginkan. Saya berjalan jalan di kamar, melihat lihat pemandangan di jendela kamar hotel, menyalakan TV dan memilih milih channel yang bagus sambil tidur-tiduran. Kemudian perhatian saya tertumpu kepada sebuah tas gym yang berwarna hitam yang terongok di sudut kamar.

Satu persatu saya keluarkan barang barang yang ada di dalam tas itu dan saya susun di atas ranjang. Salah satu benda yang ada adalah sebuah borgol besi, saya ambil dan saya kenakan borgol itu ke dua tangannya dibelakang punggung budakku yang sedang berlutut. Sambil mengenakan borgol, saya berkata,

"Saya suka melihat melihat budak kesayangan saya menderita kesakitan dan enggak berdaya, jadi sekarang kamu akan saya siksa walaupun kamu enggak ngelakuin kesalahan apa apa, tapi penderitaan kamu bikin saya jadi terangsang, kamu senang kan di gituiin..?".
"Silakan Bu, saya senang sekali"

Saya ambil beberapa penjepit pakaian, kemudian saya cubit puting dadanya dan saya jepit masing masing satu penjepit di setiap puting. Belum puas melihat ringgisan di mukanya saya ambil lagi beberapa jepitan dan saya jepitkan di kantung dimana tempat dua biji penisnya berada, reaksinya sungguh luar biasa, setiap saya menjepitkan satu jepitan, dia melenguh kesakitan dan bergerak gerak kakinya, sehingga ada beberapa jepitan yang jatuh dan berbunyi, "Snnapp..".

Saya jambak rambut dia dan saya bilang, "Jangan gerak gerak! Atau nanti penis kamu saya jepit juga..".

Dengan patuh dia berusaha untuk diam dan menahan sakit. Terlihat dia mulai mengigit bibir bawahnya dan badannya gemetar menahan sakit, peluh mulai membasahi badannya yang sexy.

Saya duduk di depannya tersenyum menikmati hasil kreasi yang saya ciptakan, terlihat jepitan baju yang berwarna warni memenuhi areal sekitar penisnya dan sepasang jepitan di nipplenya. Kemudian saya memerintahkan dia untuk melakukan jongkok berdiri selama 20 kali dengan badan yang tegap lurus, dan saya suruh dia menghitung jumlah jongkok berdiri itu dengan keras.

"Satu.. Dua.. Tiga.." dan seterusnya.

Nafasnya mulai terengah engah dan keringat mulai membanjiri badannya sehingga menimbulkan efek mengkilat pada otot otot dibadannya yang sexy itu. Sesekali karena gerakan jongkok berdiri itu beberapa jepitan lepas, dan setiap jepitan lepas budak saya menggumam menahan rasa sakit. Oh rasanya nikmat sekali melihatnya seperti itu, dan saya mulai horny dan basah karenanya. Setelah selesai saya suruh dia berdiri, dan saya berjalan mengitarinya sambil membelai belai badannya yang basah oleh keringat, sesekali saya menyuruh dia untuk menjilati jari jari saya yang basah karena memegang megang keringat di badannya.

Saya mengambil handuk kecil di kamar mandi, dan melepaskan borgol dan ikatan matanya, kemudian saya memberikan handuk itu sambil berkata,

"Bersihin keringet di badan kamu.. Sekarang kamu harus puasin saya yah.. Ayo kalo udah selesai keringin keringet kamu, buka baju saya satu persatu dan gantung baju saya yang rapi jangan sampai ada yang lecek."

Dengan patuh dia mulai melap badannya yang berkeringat, kemudian dengan kepala menunduk dia menghampiri saya.

"Ayo sekarang buka bajuku.."
"Baik Bu.., maaf, permisi Bu.."

Bersambung . . . . ..