Pengalaman pertama Anita - 2

Terbenamlah wajah Mbak Yuyun diantara alat kewanitaan Anita yang ditumbuhi bulu rambut halus yang lebat, terpangkas rapi dan beraroma lembut. Digoyangkannya oleh Anita, pinggul dan jambakan pada rambut Mbak Yuyun, diikuti teriakan kecil dari bibirnya yang seksi.

Mbak Yuyun pun tak mau kalah, ia menjilati semua relung kewanitaan Anita, dan tercium olehnya wangi khas lembab dari dalam kemaluan Anita. Ia semakin menikmati hal ini, dijilatinya, diciuminya, digigitinya labium mayora milik Anita, sambil sesekali lidahnya mengusap ke arah dalam vagina Anita, diikuti lenguhan kenikmatan Anita.

"Ghhaahh.. Iyahh.. Iyahh.. Sshh terusshh sshaayyaangghh.." erang Anita

Lidah Mbak Yuyun terus beraksi memuaskan nafsu Anita, tangan kirinya meremasi payudara Anita yang masih dibiarkan terbungkus bra hitam berendanya, sedangkan tangan kanannya ikut menggarap vagina dan lubang anus Anita. Dikeluar masukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya, sambil sesekali ditambahi jari manisnya, kemudian diusapkannya jarinya yang berlumuran lendir kewanitaan itu ke mulut Anita, yang langsung dijilati dan dikulum dengan penuh nafsu oleh Anita.

Anita benar-benar dimanjakan oleh Mbak Yuyun, ia benar-benar menikmati hal baru ini seakan-akan tak ingin mengakhirinya. Tangannya terus menjambaki rambut Mbak Yuyun, sambil meremas-remas payudara dan memilin putingnya sendiri, dan sesekali ikut serta membantu Mbak Yuyun mengocok vaginanya sendiri. Mereka benar-benar sudah tak mempedulikan lagi siapa atasan atau bawahan.

Giliran Anita memuaskan Mbak Yuyun, ia turun dari sofanya sambil mendorong tubuh Mbak Yuyun agar terlentang dilantai. Dinginnya lantai itu makin menambah sensasi pada keduanya. Anita menciumi tubuh Mbak Yuyun dari mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Mbak Yuyun sendiri dengan tak sabar menarik bra Anita hingga keduanya pun akhirnya telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Sesekali mereka berciuman dengan begitu nafsunya.

Anita bangun dan berputar, kemudian menciumi yuyun mulai dari kepala, terus turun, hingga bagian kewanitaannya. Sampai akhirnya mereka membentuk posisi 69, dengan Anita di bagian atas Mbak Yuyun. Paha mulus Anita mengangkangi wajah Mbak Yuyun dan langsung menindihnya yang langsung disambut lagi oleh Mbak Yuyun dengan lumatan dan gigitannya pada semua bagian vagina Anita. Begitu pun Anita, ia menjilati, menciumi dan menggigiti vagina Mbak Yuyun yang juga ditumbuhi bulu yang lebat dengan penuh nafsu. Ia ingin membalas semua perlakuan Mbak Yuyun terhadap dirinya, ia ingin memuaskan dan dipuaskan. Mereka terus bergumul dalam posisi itu sampai kira-kira 10 menit lamanya hingga wajah mereka dilumuri cairan dan bau khas dari vagina lawan mainnya.

Kemudian mereka berganti letak, Anita kali ini berada di bawah dan mereka tetap melakukan posisi itu. Tak lama kemudian, Mbak Yuyun berjongkok, dengan vaginanya masih menempel pada mulut dan wajah Anita, ia mengambil posisi berjongkok sambil menekan-nekankan vagina dan anusnya pada mulut dan hidung Anita. Kedua wanita dewasa itu begitu menikmati permainan mereka. Sampai tak lama kemudian Mbak Yuyun berkata..

"An aku ingin kencing nih! Aku ke toilet dulu ya?" ujarnya.
"Ah, tanggung Mbak, sudah cuek aja, kencingi aja mukaku, aku ingin ngerasain air kencing Mbak langsung dari tempatnya!" pinta Anita penuh nafsu.
"Oh ya, ok deh klo kmu enggak keberatan," jawab Mbak Yuyun.

Lalu.. Ssseerr keluarlah air kencing Mbak Yuyun dari vaginanya, tepat di wajah Anita. Mereka makin menikmati hal ini. Anita menciumi kemaluan Mbak Yuyun saat mengeluarkan air kencing, sambil sesekali jari dan lidahnya yang nakal ditusukkan langsung ke dalam vagina Mbak Yuyun. Mbak Yuyun pun merasakan sensasi yang nikmat saat Anita melakukan hal itu. Setelah itu Mbak Yuyun bangun, dan langsung menindih Anita sambil menciuminya, mencari sisa-sisa air kencing dan lendir kewanitaan miliknya yang melumuri wajah Anita. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi handphone milik Mbak Yuyun.

"Sebentar ya An, mungkin orang rumah kuatir," ujarnya.
"Halo, ya disini Yuyun.. Oh kamu, dimana nih? Mbak sudah nunggu kamu dari kemarin," ujar Mbak Yuyun pada peneleponnya.

Melihat Mbak Yuyun sedang serius begitu, Anita langsung mendorong tubuh Mbak Yuyun agar menyandar sedikit menungging di sofa, sedangkan tubuhnya tetap bertumpu pada lututnya dilantai. Kemudian ia mengangkangkan kaki Mbak Yuyun lebar-lebar, dan langsung membenamkan wajahnya lagi, menyerang vagina dan anus Mbak Yuyun dari arah belakang sementara Mbak Yuyun terus berbicara dengan temannya ditelepon. Otomatis perbuatan Anita ini membuat nada bicara Mbak Yuyun menjadi aneh karena kadang agak tertahan dan mendesah-desah.

Tak lama kemudian Mbak Yuyun menutup handphonenya dan membalik ke arah Anita sambil berkata, "Nakal ya kamu, tunggu sebentar ya, aku punya surprise buat kamu!"

Dan hal ini membuat bingung Anita. Mereka kemudian langsung melanjutkan permainan mereka. Kali ini mereka tetap melakukan posisi 69, tetapi dengan tempo yang lebih santai dengan Anita kembali berada diatas tubuh sintal Mbak Yuyun.

Anita benar-benar menikmati permainan ini sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seorang pria masuk keruangannya sambil melucuti pakaiannya dan kemudian menonton kedua wanita itu selama beberapa saat sambil melakukan masturbasi. Anita yang memang membelakangi pintu benar-benar tidak menyadari bahwa ia sedang ditonton oleh lelaki lain selain kedua suaminya yang pernah melihatnya tanpa busana.

Sampai suatu ketika, ia dikejutkan oleh adanya tangan lain yang memegang pinggulnya yang sedang menindihi wajah Mbak Yuyun, dan langsung merasa ada sesuatu yang panas menempel di vaginanya. Belum habis rasa kagetnya dan belum sepenuhnya ia menyadari bahwa diruangan itu ada orang asing, ia merasakan ada sesuatu yang seret, besar, dan panas, melesak mendesak masuk ke dalam lubang kewanitaannya.

Bllesshh..

Ia pun terkejut setengah mati karena tak menyangka hal itu, terutama saat ia menengok ke belakang dan melihat ada seoarang lelaki muda tengah memegangi pinggulnya dan mengayun menekan kejantanannya melesak masuk ke dalam vagina milik Anita. Tetapi Mbak Yuyun langsung menenangkannya bahwa pria itu adalah temannya yang tadi menelponnya, sambil posisi Mbak Yuyun tetap berada dibawah Anita.

Segalanya sudah kepalang tanggung, Anita langsung melenguh dan makin mengayun-ayunkan pinggulnya, menggeser naik pantatnya membentuk posisi doggie style. Membiarkan dirinya dijadikan budak seks pria yang tak dikenalnya itu. Mbak Yuyun bangun dan menciumi bibir Anita yang tengah dilanda kenikmatan itu.

"Ghhii.. laa kamuu MBHaakk.. ouff.. oughh.." racau Anita terpatah-patah.
"Tapi kamu suka kan sayang? Hmm?" tanya Mbak Yuyun sambil mengecup bibir Anita.
"Hhoo.. Ooohh.. Sshh.." jawab Anita, "Konthh.. Thollnyahh ghedhhe BHang.. Ngethh mmbakhh.. Mhass.. Kkuu aajjaa kallahh.. Aufhh," teriak Anita sambil menahan nafasnya.
"Wow, cocok dong sayang?" sambung Mbak Yuyun, "Terus kerjain temanku ini ya To! Turutin apa maunya!" sambungnya pada temannya itu.
"Siip dehh Mbakkhh.. Mhe.. Mekkhhnyahh khenyall bangethh!" balas Anto sambil terus mengayun Anita dari belakang.
"Wah, padahal sudah punya kelewatan bayi dua kali tuh, hebat kamu An!" sambung Mbak Yuyun sambil mengambil posisi mengangkang di depan Anita dengan vaginanya yang diarahkan ke mulut Anita, dan tanpa diperintah lagi. Anita langsung meraup kenikmatan yang terpampang di depan matanya.
Blesshh..

Lumatlah wajah Anita di antara selangkangan Mbak Yuyun yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Anita langsung menciumi liang kewanitaan itu, dilumatnya, dikecupnya, dihisapnya, digigitinya gumpalan daging yang dilumuri lendir kenikmatan pemiliknya itu. Anita terus beraksi mengerjai vagina Mbak Yuyun sambil terus terayun-ayun oleh tubuh kekar Anto yang terus menggarapnya dari belakang. Sesekali ia meracau, sambil menggigiti bibirnya sendiri. Dikeluar masukkannya lidahnya ke dalam vagina Mbak yuyun, sehingga membuat Mbak Yuyun merem melek tak karuan hingga terkadang bola matanya seakan hendak berputar ke belakang.

"Ayoh To, iyahh teruss shh.." racau Anita.

Anto pun tak kalah sibuknya, ia terus menggoyangkan pinggul dan kontolnya yang besar itu, dihujamkannya keluar masuk vagina Anita yang semakin lama smakin becek oleh lendir kewanitaannya sehingga menimbulkan suara decak dan mengeluarkan harum yang khas setiap kali Anto mengayunkan pinggulnya.

Crot, crot, crot.. Anto terus mengayunkan pinggulnya, mengeluar-masukan kontolnya yang tegang itu pada liang kenikmatan Anita.

"To, aku ingin ganti posisi nihh!" ujar Anita pada Anto.
"Ok deh Mbak" Jawab Anto.
"Wah, Anita sudah mulai nakal nih! Tapi cepetan ya, aku lagi tanggung nih!" Goda Mbak Yuyun.

Anita pun menghentikan aktivitasnya mengerjai vagina Mbak Yuyun, ia berdiri dan mendorong tubuh Anto agar tidur telentang. Mbak Yuyun langsung menciumi bibir Anita dan Anto secara bergantian. Tak lama, Anita langsung menggenggam kontol Anto yang tak tegak menantang itu, diciuminya, dijilatinya, dikulumnya kontol itu dengan penuh nafsu, digigitinya pula urat-urat yang menegang di pinggiran kontol itu dengan penuh rasa gemas, sampai-sampai Anto meringis kesakitan. Dinikmatinya lendir kewanitaan yang melekat dikontol Anto yang berasal dari memeknya sendiri itu. Anita begitu menikmatinya.

Yang dilakukan Anita ini dilihat oleh Mbak Yuyun, sehingga menimbulkan gejolak nafsunya, mendesak untuk melakukannya lebih gila lagi. Mbak Yuyun langsung mengambil posisi 69 dengan Anto, ia menindih tubuh kekar Anto dengan brutalnya, di tekannya wajah Anto dengan memeknya yang juga menginginkan untuk dikerjai Anto. Sementara itu bibirnya berbagi dengan bibir Anita saling melumat dan menjilati kontol Anto yang dilumuri lendir kewanitaan dari vagina Anita. Wajah Anto melesak diantara jepitan selangkangan Mbak Yuyun. Dan pria itu benar benar menikmati permainan ini. Diciuminya vagina Mbak Yuyun, dijilatinya pula lubang anus yang letaknya tak jauh dari liang kenikmatan itu dengan sekali sapuan. Mbak Yuyun mengerang tak jelas sambil sesekali menjambak rambut Anita untuk menciumi bibirnya.

Giliran Anita, melihat temannya meracau tak tentu seperti itu, nafsunya makin terbakar. Lendir kewanitaannya semakin membanjir. Ia pun mendorong tubuh Mbak Yuyun yang sedang melakukan posisi 69 agar menjongkoki wajah Anto, kemudian Anita berjongkok tepat diatas kontol Anto yang mengacung-acung ingin segera mengerjai vagina kedua pasangan mainnya itu. Lalu.. Blesshh.. Melesaklah kontol Anto ke dalam vagina Anita yang menjongkokinya dengan penuh perasaan.

Kali ini Anitalah yang memegang kendali. Ia terus mengayun pinggulnya sambil jongkok, mengeluar masukkan kontol Anto dari memeknya. Ditekan-tekannya pinggulnya agar kontol Anto semakin melesak masuk ke dalam rahimnya. Sesekali Anita berteriak sejadi-jadinya setiap kontol besar dan panjang itu mentok di dalam memeknya. Begitu pun Anto, ia begitu menikmati setiap relung lubang kenikmatan milik Anita. Karena walaupun sudah punya anak dua, vagina itu masih terasa kencang. Terutama saat sesekali Anita mengencangkan urat memeknya untuk menjepit-jepit kontol Anto yang sedang bermain di dalamnya.

Vagina itu berdenyut-denyut dengan lembutnya sehingga saat kontol Anto yang juga berdenyut-denyut berada di dalamnya, maka keduanya akan merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Untunglah ruangan itu dibuat kedap suara sehingga mereka tak perlu kuatir bila ada orang lain yang mendengar teriakan mereka. Lagipula karena jam kantor sudah lewat, tak ada orang lain selain mereka dan satpam yang berjaga di depan kantor itu.

"Aaahh.. Aaahh.. Ssshh.. Aahh Thhoo.. Akkuu ghhaakk kkuattss.. Ghhaahh oouuffhh.." teriak Anita sambil meremasi payudaranya sendiri.

Kemudian ia menarik wajah Mbak Yuyun yang sedang merem melek, menjongkoki wajah Anto. Kedua wanita yang sedang di ayun kenikmatan itu pun saling melumat, menjambak dan saling memegang lendir dari memeknya masing-masing kemudian disuapkannya satu sama lain.

Bersambung . . . .

Pengalaman pertama Anita - 3

Anto pun semakin tak kuat menahan sesuatu yang ingin segera meledak dari dalam kontolnya tetapi ia belum ingin mengakhiri permainan itu Anita terus meracau tak jelas, menjepit kontol Anto dengan sekuat tenaga. Di paksanya agar tak segera mencapai orgasme, sampai akhirnya ia tak kuat lagi menahan sesuatu untuk segera meledak dari dalam liang kewanitaannya. Anita pun berteriak..

"Thhoo.. Akhuu uudhhaahh mauhh nihh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Terusshh sayang.. Ggghhaahh.." teriak Anita gila-gilaan sambil menciumi leher Mbak Yuyun dan menyedot kuat-kuat puting Mbak Yuyun. Melihat temannya yang makin menggila, Mbak Yuyun segera mengambil inisiatif untuk mambalas ciuman Anita pada wajah, bibir, leher dan payudara serta puting Anita agar temannya itu segera memperoleh kepuasan tiada tara.

"Aaahh mhbbaakk.. Akkuu ghahhkk kkuuatthh.. Laghiihh.." racau Anita.

Melihat hal itu, Anto makin mempergencar goyangannya sambil mengimbangi goyangan Anita. Diremasnya bokong Anita sambil ia terus menjilati vagina Mbak Yuyun. Terus mengayun, berharap agar ia pun mendapatkan orgasmenya bersama-sama dengan Anita.

"MbBHaakk.. Akkuu jjuuggaa maauhh keluarr nihh, ghimanahh dhonghh?" tanya Anto.
"Ooohh yahh terushh sayang.. Kita keluarkhhann barenghh.. Keluarr khhaann sajjaa dii dallamm memekk kkuuhh.., chepatthh thhoo!! Hhhaammillii ahkkuuhh ssayyangnghh.. Aaahh" racau Anita mempersetankan semuanya sambil tiba-tiba mengejang, menggila dan tak lama kemudian..

Chhrrotss..

Keluarlah lendir kenikmatan dari vagina Anita yang semakin memperlicin keluar masuknya kontol Anto di dalamnya, ia langsung menekan lebih dalam, agar kontol anto makin mentok masuk ke dalam memeknya. Begitu pun anto, merasakan sesuatu yang panas keluar dari dalam vagina Anita, ia menikmati sensasi itu, sampai akhirnya..

Chhrroott..

Sampailah ia pada orgasmenya. Lima kali kontolnya mengeluarkan lahar panas yang kental ke dalam vagina Anita, sampai-sampai cairan-cairan itu membeludak keluar dari vagina Anita. Anto dan Anita pun terkulai lemas. Dengan tetap berada pada posisi mereka masing-masing. Anita begitu menikmati sensasi saat Anto mengeluarkan maninya di dalam memeknya. Begitu panasnya. Ia pun merasakan denyut dari kontol anto dan memeknya yang saling menekan. Dan tiba-tiba untuk kedua kalinya Anita merasa memeknya kembali mengejang dan berdenyut keras lagi.

"Ggghhaahh.."teriak Anita

Crotthh..

Rupanya untuk kedua kalinya, keluarlah lendir kenikmatan dari dalam vagina Anita. Ia mendapatkan multy orgasme, hal yang balum pernah ia rasakan saat ia bercinta dengan kedua suaminya. Dan ia amat menikmati hal ini sampai-sampai tubuhnya yang masih menyatu raga bagian bawahnya itu, melenting, matanya terbelalak hingga bola matanya nyaris berputar. Anto pun menikmati sensasi ini, ia menyadari rupanya Anita termasuk wanita yang nafsunya besar sekali.

"Wahh An, aku jadi ngiri nih.." ujar Yuyun sambil bangun dari posisinya menjongkoki wajah Anto.

Kemudian ia bergegas menciumi kontol Anto dan vagina Anita yang masih saling menyatu itu. Dijilatinya lendir yang menggenang itu, direguknya, dikumur-kumurkannya, lalu ia bangun, menahan leher Anita yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya, lalu Yuyun pun mencium Anita sambil meludahkan lendir yang dikulumnya.

Glekkhh.. Lendir yang disuapkan oleh Yuyun itu langsung ditelan habis oleh Anita, dengan sebagian yang masih meleleh mengalir keluar dari bibirnya. Pemandangan itu membuat Anto kembali dilecut nafsu. Ia pun bangun, kemudian menciumi bibir Anita, meminta bagian dari lendir kenikmatan yang telah meraka ciptakan itu. Kemudian dengan berhati-hati ia pun mencabut kontolnya yang sedari tadi masih dibiarkan menancap dalam vagina Anita sambil diikuti erangan halus dari mulut Anita.

"Ahh Thoo.."

Rupanya kontol Anto masih tegak menantang ingin dipuaskan lebih jauh. Anto pun berdiri sambil menarik tubuh Yuyun, Mereka pun berhadapan kemudian Anto mengangkat tubuh Yuyun yang memang lebih kecil darinya. Ditahannya kaki Yuyun dengan tangannya sampai mengangkang begitu lebarnya. Kemudian.. Bless..

"ahh.. Hhheebbatthh kkammuhh sayanghh.."

Melesaklah kontol Anto ke dalam vagina Yuyun, diikuti erangan manis dari mulut yuyun.

"Terusshh Shhayaanghh.." Anto langsung mengayunkan tubuh Yuyun yang mungil itu sampai wanita itu berteriak-teriak dan memukuli punggung Anto. Begitu bahagianya wanita itu karena mendapatkan apa yang sedari tadi ia dambakan. Decak-decak becek yang dihasilkan dari vagina Yuyun dan kontol Anto yang terus saling merenggut itu kembali memenuhi seluruh ruangan kerja Anita.

Sementara itu Anita masih menikmati sisa-sisa orgasmenya tadi, dan hanya tidur mengangkang, tak henti-hentinya memainkan 4 jari tangan kanannya keluar masuk memeknya, sambil menonton kedua temannya itu bercumbu. Yuyun makin meracau tak jelas, begitu pun Anto. Ia terus menunjukkan kejantanannya pada wanita itu. teriakan Yuyun pun tak kalah dengan teriakan Anita tadi, ia juga mempersetankan segalanya.

"Terushh thoo.. Hhhaammiillii akkuuhh sayanghh.. Ohh yahh," teriak Yuyun sambil terus mendekap tubuh anto yang tengah sibuk mengayun-ayunkan tubuh mungilnya itu. Sesekali mereka saling memagut, melumat satu sama lain bibir pasangannya.

Setelah melakukan posisi itu beberapa menit, Anto menggeser posisinya dengan tak melepas tubuh Yuyun yang masih menyatu dengannya. Ia mengarah ke meja kerja Anita. Disana ia menidurkan Yuyun diatas meja, kemudian tanpa melepaskan kontolnya, ia mengatur kaki Yuyun dengan menyilangkannya. Dengan posisi ini tentunya jepitan yang dihasilkan oleh vagina Yuyun makin menjepit. Sehingga membuat Yuyun makin merasa terbang keawang-awang, oleh ayunan Anto.

Crott, crott, croott.. Blesshh..

Ayunan demi ayunan di lakukan oleh Anto sambil meremas-remas payudara Yuyun yang juga ikut terayun-ayun itu. Begitu pun Yuyun, sambil terlentang diatas meja ia meremasi sendiri payudaranya, memilin-milin putingnya sendiri. Sambil terus meracau tak tentu.

Setelah puas dengan posisi itu, Yuyun memutar tubuhnya menghadap tengkurap diatas meja dengan kaki kiri menjejak di lantai dan kaki kananya naik di atas meja. Gaya ini disukai Anto karena seperti gaya doggie style, ia dapat mengerjai vagina Yuyun dengan kontolnya dan menusuk-nusuk lubang anus Yuyun dengan jarinya. Dan hal ini makin membuat Yuyun tak sadarkan diri dan menggila.

"Auffhh.. Auffhh.. Oohh.. Terusshh Thoo, puasskkaann dirimuhh.. Thoo!" teriak Yuyun.
"Ah, Mbak suka gaya ini?? ahh shh.." balas Anto.
"Ahh ssebbenntarr laggihh Thoo!" racau Yuyun yang kelihatannya tak lama lagi akan mendapatkan orgasmenya.
"Akuhh jugahh mBHakkhh.." timpal Anto.

Mendengar kedua temannya akan segera meledak, Anita bangkit dari posisinya, kemudian mengarah ke arah pantat Anto. Lalu diciuminya lubang anus Anto, dimainkannya lidahnya keluar masuk lubang pembuangan itu. Kemudian ia berpindah ke sebelah Yuyun, dan mengambil posisi duduk mengangkang diatas mejanya dengan wajah yuyun tepat menghadap di depan vagina Anita, lalu dijambaknya rambut Yuyun agar mulutnya segera beraksi menjilati memeknya.

Blesshh.. Melesaklah wajah Yuyun diantara selangkangan Anita. Dengan berpegangan pada pinggiran meja, Anita menikmati kenakalan bibir Yuyun yang sibuk menjilati memeknya.

"Aaahh.. Aaahh.. MBHakkhh.." teriak Anita.
"Kau sukkaahh iinniihh haahh??" tanya Yuyun pada Anita.
"Iyyaahh mBHakkhh.. Terusshh mbakhh.." Pinta Anita.

Melihat hal itu, Anto makin tak kuat menahan ledakan ronde keduanya, di percepat goyangannya pada vagina Yuyun, sehingga Yuyun menyadari bahwa Anto sudah akan mencapai puncaknya. Sambil menjilati vagina Anita, dan berpegangan pada pinggiran meja, ia mempercepat goyangannya sambil memperkuat jepitan memeknya.

"Aahh yahh terushh Thoo.. Keluarr khann di dalamm aja sayaangg..!" teriak Yuyun.
"Iyaah mbaak.. Sbentarr lagihh, ahh"

Crott, crott meledaklah air mani putih kental dari dalam kontol Anto. Menyembur panasnya. Muncrat terus sampai 4 kali banyaknya.

Merasakan sensasi luar biasa memenuhi relung-relung memeknya, Yuyun pun tak kuasa menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, dan ia pun menekankan selangkangannya pada kontol Anto yang langsung disambut dengan kontol Anto yang juga menghujamkan dalam-dalam ke dalam vagina Yuyun, sampai kemudian..

Bless crrott croott..

5 kali lendir kenikmatan menyembur dari dalam vagina Yuyun diikuti teriakan liar Yuyun sambil menghujamkan dalam-dalam wajahnya di antara selangkangan Anita.

Blesshh..

"Aaahh.. Ahh.. Ahh.. Ghhiila kauu Thoo!!" teriak Yuyun menggila tanpa melepaskan memeknya dari kontol Anto.

Begitu juga Anita, melihat Yuyun menggila seperti itu, ia langsung memanfaatkannya dengan menekankan wajah Yuyun lebih melesak ke dalam selangkangan Anita.

"Ooohh.. Ssshh" lirih Anita.

Setelah puas, Anto mencabut kontolnya dari dalam vagina Yuyun, dan langsung menjambak rambut kedua wanita itu dengan kedua tangannya, kemudian didekatkannya kedua wajah itu agar saling berciuman dan saling menjilati wajah masing-masing yang dilumuri lendir kenikmatan. Kemudian ditariknya wajah Anita dan Yuyun mendekatinya dan diciuminya keduanya bergantian. Sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya.

"Makasih ya sayang.. Kau benar-benar hebat!" ujar Anita pada Anto.
"Mbak juga!" balas anto sambil kemudian langsung melumat dalam-dalam bibir Anita.

Melihat temannya puas, Yuyun tersenyum lega lalu berkata pada Anita, "Kamu kapan-kapan bisa call Anto kok kalau ingin! Pokoke aku sudah ngenalin ha.. ha.. ha.."
"Waah, aku benar-benar puas Mbak.. Aku bakal rajin lembur nih! Or ngelemburkan diri! Ha.." balas Anita sambil mengerlingkan matanya.
"Satu hal lagi sayang, mulai sekarang jangan panggil aku Mbak, panggil aja namaku or sayang, ok?" pinta Yuyun sambil mengecup lembut bibir Anita.
"Ok Sayang.. Anyhing for you!" jawab Anita sambil membalas bibir Yuyun dengan lumatan lembut.
"Mbak, aku pulang dulu ya, soalnya sudah janjian mau ketempat cewekku," sambung Anto.
"Wah, kamu masih kurang To?" goda Anita.
"Apa jangan-jangan Mbak Anita yang masih kurang nih? Aku masih kuat begitu kok, mau berapa ronde lagi sih?" tantang Anto.
"Wah.. Benernya aku masih ingin banget tapi, kayaknya sudah malem banget deh, ntar Mas-ku curiga," ujar Anita sambil melirik ke arah jam dinding.

"Ah, tapi persetan lah!" Rupanya Anita masih sedikit ingin dipuaskan lagi. Ia langsung mengambil posisi nungging, sambil meminta Anto untuk melakukan sex anal kepadanya.
"Mmmhh, kamu mau khan, sex anal To? Aku belum pernah nih! Suamiku nggak pernah mau" pinta Anita.
"Ya ampun, kamu belum puas ya An?" tanya Yuyun, yang baru saja hendak mengenakan lagi celana dalamnya.
"Iya nih Mbak.." Jawab Anita.
"Ok Sayang!" jawab Anto sambil memegangi kontolnya yang masih tegak menantang, padahal baru saja mencapai orgasme. Dipeganginya pinggul Anita sambil menekan-nekankan kontolnya pada lubang anus Anita.

Kemudian.. Blleesshh..

Lubang itu memang terasa sangat seret, karena memang belum pernah dimasuki kontol.

"Naikkan sedikit pantatmu Mbak.." pinta Anto, "Aaahh.. Iiyyaahh begituhh.."

Anita mulai merem melek kembali, menikmati setiap rojokan dalam lubang anusnya itu.

"Nikkmmaathh Sayanghh.."

Melihat hal ini Yuyun kembali melepas celana dalamnya yang baru ia pakai sampai lutut, kemudian mengangkan di hadapan wajah Anita, menyodorkan memeknya yang masih tercium aroma lendir kenikmatannya. Anita langsung menciumi dan menjilati vagina itu sehingga Yuyun langsung merem melek lagi dibuatnya.

Permainan Anto di dalam anus Anto kira-kira 10 menit lamanya, dan Anita amat menikmati permainan barunya ini. Sensasi yang dirasakannya jauh dari yang dibayangkannya selama ini. Begitu nikmatnya. Bukan hanya anusnya saja yang merasakan nikmat, tetapi otot-otot di dalam memeknya kembali berdenyut-denyut nikmat.

Anto memainkan tempo yang lambat, karena kuatir pada Anita yang baru kali ini melakukan hal ini. Ia tak ingin melukai dinding anus lawan mainnya itu. Tetapi ia merasa begitru nikmat, karena dinding anus Anita masih sangat seret sehingga begitu menjepit kontolnya.

"Terusshh Thoo.. Akkuuhh mauuhh keluarr niihh.." racau Anita.

Rupanya di ronde kedua ini ia tak kuat menahan lama permainannya karena ia begitu menikmati sensasi yang dirasakannya dari hal baru ini. Tak lama kemudian Anita mulai mempercepat goyangan pinggulnya dan semakin liar bermain menjilati dan menggigiti vagina Mbak Yuyun. Sampai akhirnya..

"Aaahh.." Anita berteriak, karena otot-otot dalam memeknya berkontraksi mengejang dan melemas. Ia mendapatkan orgasme lagi. Melihat Anita makin menggila, Anto agak mempercepat tempo goyangannya, agaknya ia menjadi tak peduli lawan mainnya bisa kesakitan, tetapi yang keluar dari mulut Anita justru kebalikannya.

"Terusshh Thhoo.. Puaskhann dirimuuhh.. Siksaa akuu Sayaanghh.." teriak Anita, tak mempedulikan rasa nikmat diselangkangannya yang mulai berubah menjadi sedikit rasa pedih pada anusnya. Hingga tak lama kemudian, terasa olehnya Anto mulai sedikit mengejang dan..

Croott.. Croottss..

Dua kali lendir panas dari kontol Anto meledak di dalam raganya.

"Aaahh MBHaakk.." teriak Anto langsung terkulai lemas memeluk Anita dari belakang yang masih berada dalam posisi itu.

Anto menikmati orgasmenya sambil menciumi tengkuk, rambut dan punggung Anita yang putih mulus dan wangi itu. Tangannya memeluk ke arah dada Anita, sambil kemudian meremas-remas lembut, menikmati sensasi yang baru saja di rasakannya. Anita pun terpejam menikmati hal ini. Yuyun tersenyum puas melihat kedua temannya itu telah mencapai puncaknya. Kemudian ia bangun dan langsung memeluk kedua temannya itu, ikut merasakan kehangatan dan kenikmatan yang mereka ciptakan bertiga.

"Ya ampun, sekarang sudah jam 21:45!!" teriak Anita
"Wah aku bilang apa nih ke orang rumah?" ujarnya sambil beranjak mencomoti celana dalam, bra dan stelan blazernya yang tergeletak tak beraturan dilantai dan sofa.

Ketiganya segera sibuk mengenakan kembali pakaian mereka. Kemudian mereka pulang bersama-sama setelah saling berjanji untuk mengulangi kegilaan itu dalam waktu dekat.

Tamat

Perjalanan hidu sepasang teman - 1

Waktu diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku yang ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yang ada di dalam diriku. Tidak jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yang baru. Aku di sekolah memiliki teman yang cantik dan seksi, sebut saja namanya Rina, tetapi diriku memiliki lebih dari apa yang dimilikinya. Temanku memiliki tubuh yang ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus, bokong yang padat, dan yang paling kami banggakan adalah keindahan kedua buah dada yang kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga rasanya dapat menarik perhatian orang, yang terkadang tidak berkedip melihatku.

Sebut saja namaku Yulia, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan temanku ini, walaupun itu hal yang kecil dan sepele. Di sekolah dan sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan selalu terlihat bersama, dan tidak jarang kami menginap bergantian. Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa yang kurang dan apa yang lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai macam jenis pakaian, dari yang dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan pakaian yang benar-benar tertutup.

Dia sering bercerita apa yang sering dilakukannya dengan pacarnya, sampai ke hal-hal yang disukainya. Saat kami duduk berdua, dia menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana menghindari penyakit kanker payudara. Rina mengajarkan cara memijat dan lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk terkena kanker. Dengan berbisik, Rina mengatakan kepadaku cara menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap, awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya (pacarnya dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah dadanya mulus dan terlihat padat.

Lalu dia melepaskan BH yang menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yang padat dan kedua puting yang merah terlihat lembut. Lalu tanganya meraba-raba, meremas-remas kedua puting yang terlihat bulat, akhirnya kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
"Seperti ini.." katanya.
Dan dia memainkan puting yang merah itu sambil berkata, "Dia menghisap ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yang ukurannya lebih besar dari miliknya), "Seperti ini loh Non.., dadamu boleh juga ya..?" kata Rina sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga..!" kataku.

Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi pengalamanku..?" sahut Rina dengan rasa penasaran, "Biar kamu tau yang kunikmati dari pacarku.." sambungnya dengan rasa ingin memberitahunya yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya penasaran juga, "Seperti apa sih..?" tanyaku dengan sikapku yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yang berenda dan berwarna krem dapat ditonton.
Rina melihat dan memujiku, "Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yang satu ini.. (dada berukuran 36 yang putih dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yang tadinya menutup dengan sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yang tertutup sesak, dan seakan dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang. Memang ukuran yang aslinya lebih besar dari bra yang kupakai.

Lalu tangan Rina merangkulku, tangannya meraba-raba dadaku sambil berkata, "Kayak ini loh non.."
Kemudian dia memainkan putingku, wajahnya menghampiri dadaku yang satunya, lalu bibirnya mulai mencium putingku. Setelah beberapa lama, kurasakan sesuatu yang nikmat.
"Nikmat Rin.." sahutku kepada Rina.
"Lanjut ya..?" sahut Rina sambil mulutnya melanjutkan tugasnya.
Putingku yang merah dan mengeras akhirnya masuk ke dalam mulut Rina. Kurasakan kelembutan dan kenikmatan, sehingga rasanya tubuh ini pasrah untuk dinikmatinya. Dadaku pun mengeras, kurasakan titik kenikmatan dari putingku yang menyebar dan mengalir ke seluruh tubuhku. Sesaat kurasakan kenikmatan itu mengalir ke bagian tengah tubuhku, tepatnya diantara kedua paha tepat di bawah perut yang tertutup bulu-bulu hitamku yang lembut. Rasanya terbang tinggi tanpa sadar. Aku merasakan puncak pertamaku, walau itu hanya dari cumbuan. Rasanya ingin terulang kembali.

"Terima kasih ya..!" kuucapkan kepada Rina.
"Senang rasanya dapat berbagi dan memberi tau kamu.." ucap Rina.
Lalu kami mengenakan pakaian lagi.

Hari pun terus berganti, Rina terus membagi pengalamannya kepadaku. Dia terus mengajariku banyak hal. Pernah dia bercerita tentang hal yang tidak pernah lepas disaat dia bersama pacarnya, yaitu berciuman. Dia bercerita kalau pacarnya sekarang bukan yang pertama, dia sudah mengenal beberapa bibir yang membuat kenangan padanya.
"Apa nikmatnya kissing.., kenapa kamu suka..?" sahutku ke Rina dengan rasa penasaranku.
"Makanya pacaran biar tahu, kamu mau tau..?" jawab Rina.
"Sebenarnya udah banyak cowok yang ngajak pacaran, tapi aku belum mau aja..!" balasku.

Aku terus mengungkapkan rasa penasaranku ke Rina, Rina pun memberi respon, dan dia berkata, "Kamu mau kalo aku kasih tau, aku praktekin..?" katanya sambil bercanda.
"Mau Rin, kamu bisa..?" jawabku serius.
"Bisa.., ehm.. cuma kissing kamu aja kan..?" jawab Rina yang terlihat bingung.
Aku bingung campur penasaran, lalu kujawab, "Aku ingin tau Rin."
Lalu Rina mendekatiku, dia menghampiri wajahku, bibirnya perlahan menghampri bibirku. Aku merasa janggal, gemetar, tegang campur macam-macam perasaan. Perlahan-lahan memangnya aksinya, dan akhirnya bibirku tersentuh bibir Rina, kurasakan lembut dan nikmatnya sentuhan bibir Rina, dan itulah yang pasti disukai pacarnya. Lalu Rina melepas kecupan bibirnya, aku hanya terdiam dan tidak mengerti harus berbuat apa.

"Bibir kamu lembut, kalo kamu pacaran pasti cowok kamu ketagihan.." sahut Rina.
"Masa..?" jawabku.
"Kamu mau tau banyak tentang kissing..? Aku ajarin deh..!" kata Rina mulai agak bersemangat.
Dengan rasa masih penasaran, aku mulai menanggapi tawaran Rina, dan kujawab, "Aku ingin tau banyak.., ajarin aku dong..!"
Lalu Rina bercerita panjang lebar tentang pengalaman kissing-nya dengan tahap demi tahap, dan lalu kami mempraktekannya. Entah mungkin karena kami berteman dan sama-sama sejenis, mungkin kami tahu dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk berbagi kenikmatan. Akhirya kami sama-sama merangsang seluruh tubuh kami, ah.. nikmatnya tiada tara.

Kami terus berbagi dan mengulanginya dari hari ke hari, tetapi itu hanya terbatas karena kami sama-sama sejenis, dan tidak ada rasa suka, yang ada hanya kenikmatan. Waktu pulang sekolah, aku tidak dapat pulang bersama Rina, karena dia sudah diajak pacarnya. Aku pun pulang bersama teman yang lain. Sesaat ditengah perjalanan pulang rasanya aku ingin main dan menginap di rumah Rina saja. Akhirnya aku menuju ke rumah Rina.

Saat aku sampai dan pintu rumahnya ternyata terkunci, aku pun masuk dengan kunci cadangan pemberian Rina. Rumahnya tenyata sepi, kukira dia ada di rumah. Sekilas aku mendengar suara Rina (entah seperti apa suaranya, hanya terdengar samar) di dalam kamar. Akhirnya kamar Rina kuhampiri. Kubuka perlahan pintunya supaya dia tidak kaget. Astaga, alangkah kagetnya aku, kulihat Rina sedang berdua dengan pacarnya tanpa sehelai pakaian di badannya (kecuali pacarnya). Untung pintu terbuka sedikit sekali, aku hanya dapat mengintip. Aku hanya terdiam menatap Rina dengan pacarnya, maklum baru kali ini aku melihat insan berduaan dengan gairah seperti itu.

Awalnya mereka berciuman, lalu meraba-raba, dan yang dilakukan Rina dengan dadaku sama seperti yang dilalukan pacarnya, meraba, meremas, menghisap dan begitulah. Kulihat Rina menikmati dan terlihat pasrah untuk dinikmati. Tubuhnya pasrah, wajahnya terlihat melayang seperti aku waktu itu, tetapi tidak sehebat aku terbangnya. Aku heran melihat pacarnya yang tidak hanya mencumbu dada Rina, tetapi juga mencumbu belahan yang juga kumiliki yang ada di antara kedua paha. Rina pun kulihat melayang, dan sesaat kemudian dia mengeluarkan suara desahan yang kuat, aku pun samar-samar merasakannya juga.
"Ah, nikmatkah rasanya, seperti apakah nikmatnya..?" pikirku dalam hati.

Sesaat kulihat beberapa jari tangan pacar Rina keluar-masuk di antara paha Rina yang tertutup bulunya. Kulihat kaki Rina melebar, seakan-akan serakah mengambil tempat. Tidak beberapa lama Rina terbangun dan memberi isyarat supaya pacarnya mendekatkan pinggangnya ke arah wajah Rina. Lalu kulihat Rina melepaskan celana pacarnya, aku heran melihat tonjolan di celana pacarnya. Seperti apakah tonjolan di balik celana dalam itu. Rina mengelus dan mencium tonjolan itu, aku berpikir sambil heran seperti inikah caranya pacaran. Tanpa basa-basi lagi Rina menarik dan melepaskan celana serta CD pacarnya.
"Ah, seperti itukah tonjolan yang selama ini yang samar-samar kuketahui..?" kataku dalam hati.
Aku hanya dapat melihat dengan terpana dan heran, tetapi sesaat kurasakan aku menyukainya juga. "Kapankah aku dapat mengetahuinya lebih jelas..?" kataku lagi dalam hati sambil berusaha membayangkannya.

Rina mendekap tonjolan itu dengan jemarinya. Kelima jari Rina kemudian mengusap-usap milik pacarnya dengan nikmatnya. Kulihat pacar Rina menegang. Tidak lama kemudian wajah Rina menghampiri tonjolan yang didekap dan dielus-elus jemarinya itu. Lalu bibirnya pun terbuka seperti goa, lidahnya keluar dan menjilat tonjolan yang pucuknya seperti jamur itu. Kulihat lidah Rina menyentuh dengan nikmatnya, dan bibirnya mulai terbuka lebar lagi. Milik pacarnya pun masuk ke dalam goa itu (mulut Rina) sampai dalam. Kulihat Rina memejamkan mata dengan perlahan sambil menikmati yang masuk ke dalam mulutnya. Mulut Rina dan bibirnya terlihat seperti menghisap permen dengan nikmatnya.

"Ah, kurasakan nikmat lembutnya bibir dan lidah Rina waktu di dadaku, pasti pacarnya menikmatinya seperti yang kurasakan di dadaku." kataku dalam hati.
Milik pacarnya terlihat hampir keluar, dan akhirnya tertelan lagi di mulut Rina yang lembut. Mulut dan kepala Rina bergerak terus dengan nikmatnya. Kulihat adegan berikutnya, setelah masuk dan dinikmati mulutnya, kulihat Rina menarik milik pacarnya dengan perlahan (sambil merebahkan badan, kakinya seperti membuka stand) ke arah tepat di bawah perut, di antara kedua paha Rina. Dibalik bulu Rina yang halus dan hitam, kulihat dari jauh itulah yang dituju milik pacarnya yang perlahan seakan hilang dan bersembunyi di tubuh Rina. Kulihat mereka berdua tegang, lalu milik pacarnya hadir dan terlihat lagi, kemudian masuk dan terus menerus seperti itu. Dan perlahan-lahan bergerak cepat. Suara Rina yang mendesah halus seakan perlahan-lahan dibesarkan volumenya sampai besar.

Cukup lama aku mengintip mereka berdua dengan perasaan heran dan ingin tahu. Beberapa waktu kemudian, milik pacarnya ditarik keluar dari tubuhnya, dan kulihat dia menegang. Rina terbangun dari terbangnya, dan kulihat wajahnya menghampiri milik pacarnya. Sesaat entah apa yang keluar dari milik pacarnya dan terbang ke arah mulut Rina yang terbuka. Kulihat pacarnya merasakan kenikmatan, tampaknya Rina terlihat tidak puas dengan sesuatu yang terbang masuk ke mulutnya, lalu dia terlihat kembali menghisap milik pacarnya sampai air yang keluar itu habis tertelan mulutnya.

Bersambung . . . . .

Perjalanan hidu sepasang teman - 2

Setelah itu mereka beristirahat, dan setelah beberapa lama pacarnya bergegas pergi dari rumah Rina. Saat itu pun aku bergegas bersembunyi di lantai atas rumah Rina. Terlihat dia naik ke lantai atas untuk mengambil sesuatu. Dia kaget, ternyata aku ada di atas dan bersembunyi, aku pun kaget sambil tersenyum.
"Sudah dari kapan kamu datang..?" tanya Rina.
"Udah lama.." jawabku.
Lalu dia mengajakku turun setelah mengambil yang dicarinya. Dia mengajakku ke kamarnya, dan lalu kami bercerita panjang lebar.

"Apa kamu liat pacarku tadi disini..?" tanya Rina.
"Aku tidak sekedar ngelihat pacar kamu, tapi juga melihat kalian berdua.." jawabku.
"Jadi kamu melihat kami..?" kata Rina sambil penasaran.
"Emang, aku penasaran dan ingin tau, jadi maaf ya Rin..?" jawabku.
"Tapi ini rahasia kita ya..?" sahut Rina.
"Kita kan teman, ya saling menjaga dan berbagi. Seperti apa sih Rin rasanya, kamu ngerti ngelakuinnya ya..!" kataku kemudian sambil bercanda.
"Kamu mo tau ya..? Enak.., aku suka, aku butuh, ini bukan yang pertama Yul, sebenarnya sudah sering aku ngelakuinnya, tapi ini yang pertama di rumahku. Aku sering ngelakuin di rumah pacarku, rumahnya sepi, tapi sebenarnya bukan sama dia aja loh hubungan ini kulakuin. Kadang aku sama mantan masih berhubungan, soalnya kita masih ada rasa suka. Tapi kita udah punya masing-masing, mantanku ada dua. Dan aku pernah berhubungan bertiga, kita sama-sama butuh dan puas, dan kita sama-sama jaga rahasia, kecuali aku ke kamu. Kalo kamu pengen tau tentang gituan, nanti kujelasin banyak deh, kita kan temen.." ucap Rina dengan panjang lebar.
"Aku jadi pengen, boleh liat lagi nggak..?" sahutku sambil bercanda.
"Besok-besok kalo pengen tau kamu bisa ngintip kami kok..!" dijawab Rina dengan serius.

Ternyata Rina menepati janjinya. Aku dapat melihat dia berhubungan saat di rumahnya. Lama-lama kupikir aku juga suka. Kayaknya aku juga menginginkannya.

Suatu hari aku dan Rina berkenalan dengan beberapa anak pria dari sekolah lain. Wawan, Edwin, Aris, Sandi, Ari dan Heri, dan beberapa diantaranya sudah kuliah (Aris dan Heri). Kami akhirnya akrab dan kami sering berkumpul. Suatu saat mereka mengajakku dan Rina berjalan-jalan ke pantai. Tempatnya di luar kota, jaraknya pun cukup jauh, mungkin ada tiga sampai lima jam perjalanan lamanya. Kami berencana menginap di sana dalam acara liburan akhir minggu. Aku dan Rina dapat ijin dari keluarga, karena kami memberi alasan kumpul bersama teman-teman sekolah kami.

Aku dan Rina bersepakat untuk bersaing dulu-duluan menarik perhatian mereka, siapa yang paling mereka sukai. Awalnya kami kira kami hanya berempat dengan Aris dan Heri yang pergi. Tetapi ternyata berdelapan. Aku dan Rina menganggap suasana menjadi lumayan lebih ramai. Akhirnya kami janjian bertemu di tempat kost salah satu dari mereka. Sebelumnya Rina dan aku berganti pakaian terlebih dahulu di sana, dan akhirnya aku dan Rina memulai permainan. Kemudian Rina melepas semua pakaiannya sampai yang tersisa hanya celana dalam, begitu juga aku. Tubuh kami yang indah terlihat semua dan itulah rencana dari permainan kami. Kami akhirnya mengenakan rok sedengkul dengan belahan yang lumayan, sehingga dapat memamerkan kemulusan paha kami sepenuhnya. Kemeja tanpa lengan dengan kancing di depan kami pakai, dan terkadang memperlihatkan pusar kami. Ah rasanya pakaian kami cukup seksi, karena sudah membentuk tubuh kami yang sudah indah menjadi lebih indah lagi. Ketatnya baju ini seakan-akan kami merasakan seperti dipeluk dengan dekapan erat. Kedua buah dada kami terlihat indah bentuknya, memang aku dan Rina sengaja untuk tidak memakai bra yang menyelimuti mahkota seperti biasanya.

Kemudian kami keluar dari kamar kost. Mereka yang melihat, langsung terpana karena tubuh indah kami, sehingga membuatku dan Rina merasa bangga. Akhirnya kami berangkat setelah menjelang selesainya siang. Kami berangkat dengan sebuah mobil minibus, supaya dapat beramai-ramai. Aku dan Rina duduk di tengah-tengah, diapit Aris dan Heri. Aku pun belum pernah duduk berdua dengan pria seperti ini. Di perjalanan, untuk menghilangi rasa jenuh kami bernyanyi dan bercanda. Di tengah perjalanan kurasakan mata mereka menelanjangi tubuhku dan tubuh Rina. Senang rasanya, karena mata mereka lebih banyak menuju ke tubuhku ini. Dari celah-celah kancing pun, bentuk bulat dada kami kadang-kadang terlihat dengan jelas.

Kulihat Rina melepas beberapa kancing supaya agak terbuka sedikit. Aku tentu tidak mau kalah, akhirnya kulakukan juga. Kadang aku agak menunduk, sehingga belahan dadaku dapat terlihat jelas. Rupanya kenalan Rina (Aris) dengan Rina sudah benar-benar akrab. Mungkin karena pakaian kami, mereka tidak melepas pandangan mereka dari kami. Aris tampaknya mulai melakukan penjajakan ke Rina, sehingga Rina pun tertarik padanya. Aris mulai memegang tangan Rina dan perlahan dia mencoba merangkul Rina. Awalnya Rina menolak, tetapi tampaknya dia tetap mencoba terus dan tidak menyerah. Dia terus memuji tubuh Rina. Yang kutahu, Rina sangat suka dipuji akan tubuhnya, dan itu merupakan suatu kelemahan Rina. Aris memuji wajah Rina yang cantik, kulit yang putih mulus, rambut yang indah, dada dan bokong yang indah. Rina pun senang dan bangga. Maklumlah, kami masih anak-anak yang beranjak dewasa, sehingga kami cepat salah tingkah.

Aris meremas dan mengelus-elus jemari Rina. Kulihat Rina menyukainya. Dia memuji paha Rina yang putih dan mulus.
"Paha kamu mulus dan indah ya..?" sahut Aris.
"Kamu suka ya..?" jawab Rina.
"Andai itu milikku, andai kubisa menikmati halusnya.." sahut Aris.
"Seperti apa..?" sambil tangan Rina menaruh tangan Aris di pahanya.
Tanpa basa basi dan menunggu waktu, aris langsung mengelus-elus dengan nikmat paha Rina yang terlihat utuh karena belahan roknya. Tampaknya Rina mulai menyukai Aris.

Tanpa terasa waktu cepat berganti, Rina dan Aris mulai terlihat dekat. Aris berhasil merangkul Rina. Dan tidak itu saja, dia juga membelai rambut Rina, mencium pipi Rina, entah mengapa mereka cepat dekat seperti itu. Kulihat Aris berhasil mengelus paha Rina sampai ke pertemuan dua paha. Rok Rina terangkat tinggi sampai celana dalam Rina terlihat. Tampaknya Rina sudah terbawa melayang dengan sentuhan Aris, maklum gairah kami terlalu tinggi dan cepat datangnya. Aris menyiumi Rina mulai dari pipi, kuping, leher lalu ke bibir. Rina menikmatinya dan bibir mereka berperang. Tangan Aris mengelus paha Rina dengan nikmatnya, lalu perlahan pindah ke belahan di celana dalam Rina, pinggang, perut, lalu dada Rina. Awalnya Rina menolak, tetapi gairah Rina yang sudah muncul membuatnya melayang dan susah untuk berkutik dan menolak.

Tangan Aris meraba-raba dada Rina dan meremas-remas, lalu menuju kancing Rina dan melepaskannya satu persatu secara perlahan. Kancing Rina terlepas dan terlihat indahnya sebagian tubuh Rina. Lalu Aris meremas dada Rina secara langsung, sehingga keindahan tubuh Rina dapat dinikmati setiap mata di dalam mobil.

Setelah beberapa lama hal ini terjadi, Aris dan Rina menghentikan asmara mereka. Rina menutup kembali tubuhnya yang indah itu, walaupun tampaknya mereka belum puas. Kami terus berjalan, dan akhirnya sampai di pantai yang kami tuju. Kami bersenang-senang di pantai. Akhirnya kami berkumpul di dalam mobil. Kami bercanda di dalam, entah mungkin suasana yang sepi dan lembut merubah rasa-rasa yang ada di dalam jiwa. Rina dan Aris tampaknya melanjutkan permainan mereka yang belum selesai. Aku agak risih di samping Rina, karena aku belum pernah berhubungan, apalagi yang seperti ini.

Wawan yang duduk di depan tampaknya terangsang dengan tubuh Rina. Dia pun tampak ikut meraba dan menikmati tubuh Rina. Akhirnya Rina dan Aris bercinta tanpa peduli dilihat seisi mobil. Wawan pun tidak mau kalah, dia ikut bercinta dengan Rina bergantian dengan Aris. Tampaknya Rina tidak canggung dan menikmatinya. Entah mengapa kurasakan tangan Heri meremas dadaku. Aku menolaknya, "Jangan..!" kataku tersentak, entah mengapa aku malah terangsang.
Dia dengan nafsunya menyerang tubuhku, aku agak meronta dan menolak, tetapi aku tidak sanggup bergerak banyak, rambutku dijambak oleh Sandi dari belakang. Edwin tidak mau kalah, dia segera menarik kedua tanganku ke belakang.
Heri akhirnya dengan leluasa dapat menikmati dadaku, aku hanya dapat berkata, "Tolong jangan..!"
Mereka tampaknya tidak peduli dengan ucapanku, yang ada hanya nafsu untuk menikmati tubuhku.

Aku menangis pelan. Tampaknya Rina tidak mendengarnya, Heri, Sandi, Edwin terus menyergapku. Sandi menciumi wajahku, Heri meremas-remas dadaku dengan nafsu. Awalnya aku merasa takut. Heri meraih kancingku dan melepaskannya, sehingga dadaku terlihat jelas. Tanpa henti dia juga meraih resleting rokku, dan perlahan melepaskannya bersama celana dalamku. Dia tidak menikmati dadaku lagi, tetapi yang ada di balik bulu halusku. Entah mengapa aku menikmati sentuhan jemarinya, ah mengapa jadi aku terangsang. Akhirnya jarinya keluar masuk di lubangku (hilang keperawananku) dan sesaat aku mendesah. Dadaku memang tidak disentuh Heri lagi. Sandi yang menjambak rambutku mengecup bibirku dengan nafsu, lalu tangannya menikmati dada kananku. Edwin yang memegang tanganku ikut menikmati dada kiriku.

Waktu terus berjalan, entah mengapa aku menjadi terbawa. Walaupun aku meronta, aku sebenarnya menikmatinya. Tubuhku yang indah ini akhirnya mereka nikmati secara bersamaan. Perasaanku bercampur aduk, aku disentuh oleh mereka. Karena waktu sudah agak malam, akhirnya kami ke rumah Aris yang kosong bersama-sama. Di sana kami bermalam bersama, tampaknya Rina bingung menghadapi teman baru kami. Tubuhku dan Rina tampaknya menjadi hidangan mereka malam ini. Mereka terus menyerang tubuh kami, Rina dan aku tidak bisa mengelak hasrat mereka.

Di dalam rumah aku menjadi bulan-bulan mereka, aku terus menolak, tetapi apa daya tenaga mereka lebih besar. Aku diboyong ke tempat tidur. Kedua tanganku dipegang dengan erat, sehingga aku hanya bisa pasrah dan mengalah. Bajuku dilucuti. Cahaya lampu terang pun mempertontonkan seluk beluk tubuhku, dan membuat mereka semakin terangsang. Kali ini aku ditiduri langsung, tanpa ada rabaan dan cumbuan. Ah, entah mengapa aku malah merasakan kenikmatan, mereka bergantian memegangi tanganku, dan secara bergantian pula mereka memasukkan milik mereka ke liang vaginaku. Tampaknya aku hanya bisa pasrah, beberapa kali aku merasakan ada sesuatu yang menyembur di dalam liangku. Mereka melakukannya berkali-kali padaku sampai aku lemas tidak sadarkan diri. Dan entah apa yang terjadi pada Rina.

Pagi pun menjelang, aku mulai terbangun dengan tubuh lemas ini.
Aris menyapaku, "Pagi Yul..", yang begitu juga jawabku dengan kesadaran yang bertahap.
Kucari pakaianku, tetapi aku tidak mendapatkannya.
Heri menemuiku di kamar, "Pagi Yulia.." sapanya sambil menghampiriku dan meraba-raba tubuhku kembali.
Kali ini aku tidak dapat menolak keinginannya. Ternyata tubuh ini terhanyut bersama nafsu mereka. Heri menganjurkanku mandi, aku rasa memang aku harus mandi. Akhirnya kumasuk ke kamar mandi untuk menyuci tubuhku, pasti segar rasanya.

Mulai basah tubuh ini tersiram air segar, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, terlihat Aris dan Heri di depan pintu dan bergegas masuk. Mereka segera melepas pakaiannya, lalu menyiram tubuh mereka dengan air seperti yang kulakukan.
"Kita mandi sama-sama ya..?" sahut mereka.
Setelah beberapa lama, kurasakan Heri mendekatiku dari belakang, lalu mendekapku dan meraba dadaku serta meremas-remas. Aris juga menghampiriku, dia mendekap salah satu buah dadaku yang tersisa dengan jemarinya. Aku canggung, sesaat Aris menghisap dadaku yang dipegangnya, lalu dia mengecup dan menikmati bibir lembutku. Tanpa menunggu waktu, jari-jarinya pun masuk ke lubang vaginaku. Aku tidak berkutik, entah cepat sekali diri ini bergetar lemas. Jari-jarinya keluar-masuk dengan leluasa.

Bersambung . . . . .

Perjalanan hidu sepasang teman - 3

Tidak puas dengan jemarinya, dia segera memasukkan miliknya ke tubuhku. Ah, aku tidak sanggup menolak, aku diapit dua lelaki dengan penuh nafsu dan birahi. Mereka pun bergiliran kembali, tubuhku dinikmati sambil berdiri. Kemudian Heri bergantian dengan Aris. Kemudian mereka bergantian lagi. Entah mengapa, karena tidak sanggup menahan birahi, Heri yang bergantian dengan Aris berusaha memasuki lubang anusku. Awalnya kurasakan sesuatu yang aneh, kukira sakit. Awalnya miliknya tidak dapat masuk, tetapi karena usaha yang gigih dan dengan berbagai cara, akhirnya anusku dapat dimasukinya. Keluar-masuklah milik mereka bersamaan di semua lubangku. Sesaat beberapa lama suaraku agak merintih pelan, dan akhirya mendesah kuat. Aku tidak dapat berkutik, aku tidak mengerti harus berbuat apa, mereka terus mendekap dan menikmati tubuhku. Entah mengapa aku merasakan kenikmatan dan puncaknya.

Akhirnya kami selesai mandi. Tubuh ini segar tersiram air dan lemas terpakai secara bergiliran. Sehabis mandi pun aku dan Rina tidak dapat mengenakan pakaian, mereka terus menggerayangi tubuh kami tanpa ada rasa puas.
Terkadang aku dan Rina meminta baju kami, tetapi jawab mereka, "Tubuh kami yang menjadi baju kalian.."
Ternyata kata-kata mereka pun benar-benar mereka lakukan. Merekalah yang menjadi baju kami. Terkadang mereka memuji aku dan Rina. Aku dan Rina agak canggung, karena baru kali ini kami tidak mengenakan pakaian sehelai pun dihadapan banyak lelaki. Mereka tampaknya berusaha supaya kami seperti ini, agar mereka dapat terus-menerus menikmati indahnya tubuh kami.

Akhirnya siang pun tiba, awalnya aku dan Rina dicumbu secara berpasangan. Aku tidak dapat menolaknya, aku mulai menyukai nikmatnya berhubungan. Setelah beberapa lama, aku mulai dicumbu dua orang, saat itu aku melihat milik Heri. Aku penasaran, karena aku mulai menyukai yang berbentuk itu. Aku ingin mengetahui seperti apa nikmatnya, apakah yang dirasakan Rina dan yang akan kurasakan dengan mulut ini. Akhirnya tubuh ini mulai dinikmati milik mereka, aku tambah penasaran, akhirnya kudekap milik Heri yang belum menikmati tubuhku. Miliknya kudekap dengan jemariku dan kumasukkan ke dalam mulutku, kurasakan bentuknya di dalam mulutku. Kulakukan seperti yang pernah Rina lakukan. Kurasakan nikmatnya, dan entah mengapa aku mulai menyukainya. Lama-lama kurasakan agak asin, tetapi malah kusuka dan menambah gairahku, beberapa lama kurasakan tumpahan di dalam mulutku.

Aku berpikir, "Tampaknya aku tambah menyukainya.." lalu kutelan, rasanya seperti menelan telor penyu, tetapi ini benar-benar kunikmati. Birahiku memuncak. Akhirnya mereka menggilirku dan Rina secara bergantian, sehingga kami semua sudah saling bersentuhan, tiada satu pun yang tersisa.

Akhirnya kami selesai dengan liburan akhir minggu, dan lalu kami bergegas ke tempat asal. Di jalan pun kami masih tetap bersentuhan. Tampaknya birahi kami terus menguat. Setelah kejadian itu, mereka tampaknya tidak mau lepas dari aku dan Rina. Mereka mengisyaratkan rasa tanggung jawab terhadap kami atas apa yang telah terjadi, dan mereka berusaha mendapatkan kami seutuhnya. Aku dan Rina pun berhubungan terus dengan mereka tanpa ada rasa menyesal.

Sempat aku pernah terlambat bulan, dan mereka mau menikahiku, tetapi rasanya aku tidak mau di usia sekarang ini. Akhirnya salah satu diantara mereka, yaitu Aris dapat membuatku datang bulan. Dia mengundangku ke rumahnya, dan dia memberikan alat test untuk kucoba, dan ternyata aku positif. Tetapi dia membuat semua ini seakan-akan tenang-tenang saja. Lalu dia memberikan obat untukku, yang katanya dapat membuatku dalam waktu beberapa jam menstruasi. Tetapi sebelum kupakai obat itu, dia meminta ijin kepadaku untuk mengecup bibirku. Awalnya kutolak, tetapi akhirnya karena tidak enak dengan kebaikannya, akhirnya kubersedia, dan kuberikan sebagai ucapan terima kasihku. Akhirnya dia senang dan mulai melahap bibirku, entah mengapa bibir dan lidah kami jadi berperang, birahi kami pun bersaing memuncak.

Adegan demi adegan berlanjut, sehelai demi sehelai kain pun tertanggal dari tubuh ini. Akhirnya tubuh kami menyatu penuh dengan birahi. Tampaknya dia tidak ada puas-puasnya untuk merasakan tubuhku, serasa hanya ini kesempatannya. Karena usia kami masih muda dan kondisi kami sangat fit, akhirnya ronde demi ronde pun terjadi. Semburan demi semburan kurasakan di dalam tubuhku. Tetesan demi tetesan yang keluar dari miliknya juga tertelan mulut ini, sampai tidak dapat dikeluarkannya lagi, dan kami berdua jatuh TKO. Setelah itu kupakai obat pemberiannya dan beberapa waktu kemudian rasa yang kualami setiap bulan kurasakan kembali.

Hari-hariku terus berjalan, persahabatanku dengan Rina berlanjut dan jiwa kami masih muda, kami ingin banyak mengenal sesuatu yang baru. Kami sering mendapat kenalan baru dan kami saling berbagi, dan juga bertukar pasangan. Pengalaman dan pengetahuan kami terus bertambah. Setiap lelaki yang tidur denganku dan Rina tidak mau lepas. Mereka berusaha memiliki kami. Tubuh dan wajah yang indah dan kemampuan kami di atas ranjang benar-benar membuat mereka ketagihan. Hubungan sex kami sangat aktif, hampir setiap hari kami bergiliran dengan setiap pacar kami. Rasanya makin diasah, gairah kami makin tajam, sampai-sampai tidak dapat dibendung lagi.

Beberapa kali kami berkerkenalan dengan pria yang hampir setua orangtua kami, aku dan Rina bertahap mulai dekat dengan mereka. Mereka baik, lembut dan pengertian, selalu mau mengerti perasaan kami. Disuatu hari, Om Edo mengajak kami jalan-jalan, kami senang dan dapat bergembira dengan puas. Keesokan harinya, aku diajak Om Edo jalan-jalan ke Lembang. Di sana kami jalan-jalan ke beberapa objek wisata terdekat. Udara pun kurasakan dingin, gerimis membasahi bumi, aku tidak kuat menahan rasa dingin. Rasanya aku perlu penghangat untuk menghangati tubuh ini. Beberapa kali kupegangi telapak tangan Om Edo untuk merasakan hangat. Beberapa lama Om Edo akhirnya mengerti keadaanku, dia merangkulku untuk membagi kehangatan tubuhnya.

Sampai di suatu tempat yang tenang, di sana hanya ada kami serta tumbuh-tumbuhan saja. Awalnya kami duduk di antara pepohonan. Om Edo berada di samping sambil merangkulku. Aku menyukai hangat tubuhnya. Tampaknya cara duduk kami mengganggu, akhirnya kupindahkan tubuh ini ke depan Om Edo. Aku duduk di depan tubuhnya, dan kurasakan kehangatan di belakang tubuhku. Dia memelukku dari belakang. Salah satu tangannya kuajak ke atas pahaku dan lalu kuelus-elus. Tangan Om Edo memeluk pinggangku. Perutku dielus dengan pelan, tampaknya dia menikmati sentuhan tanganku, begitu juga denganku. Tampaknya kami berdua mulai merasakan sesuatu yang menghangat. Tangan Om Edo tidak mau kalah dengan tanganku, dia mengelus-elus pahaku, ah lembutnya yang kurasakan.

Tahap demi tahap tangannya mengarah ke lubangku, aku menikmatinya. Nafsu kami pun meningkat, Om Edo mencium dan menikmati telingaku, ah beku tubuh ini rasanya. Perlahan dia mencium pipi dan leherku dengan lembut, lalu perlahan ke arah bibirku. Akhirnya kami berciuman, alangkah lembutnya Om Edo yang kurasakan.
Perlahan kulepas kecupannya, lalu kudekati telinganya, dan kubisikkan, "Yang lembut ya Om..!"
Om pun menunjukkan kemampuaanya, dia membuai jiwa, batin dan tubuhku, serasa melayang diri ini. Kupasrahkan tubuh ini untuk Om Edo, dan kami pun sama-sama menikmatinya.

Bibir Om Edo mengecup bibirku kembali, tangan kirinya mengelus-elus celana tengahku dengan lembut. Perlahan telapak tangan kanannya yang memeluk perutku kuarahkan ke dadaku, kurasakan lembutnya sentuhan tangannya. Tangannya segera melakukan tugasnya dan kunikmati sentuhan lembutnya. Perlahan kancing dan resteling jeans-ku dibuka Om edo. Tangan kirinya menyusup ke dalam celanaku. Rupanya lubangku sudah terangsang dan basah. Tanpa basa-basi, Om Edo menggosok daerah sensitifku, tanganya tidak terburu-buru masuk ke vaginaku. Perlahan tangan kanannya meraih kaitan bra-ku dan melepasnya perlahan. Tangan kanannya menyusup dan mengelus pundakku, lalu perlahan ke depan, ke dadaku.

Sesaat beberapa lama kemudian, dia mengangkat kaos dan bra-ku, sehingga mahkotaku terlihat jelas. Bibirnya perlahan berjalan, dari bibir, dagu, leher, pundak dan akhirya putingku masuk ke dalam mulutnya yang lembut. Dada, perut dan daguku reflek terangkat. Perlahan tanpa kusadari tanganku melepas kaos dan bra-ku, celana jeans-ku pun agak kuturunkan sedengkul, dan akhirnya kulepas semuanya dan kami buat menjadi alas. Secara perlahan jari Om Edo masuk ke lubang vaginaku, ah daguku terangkat tinggi. Kedua tempat itu, yaitu dada dan vaginaku disentuh Om Edo. Perlahan jari Om Edo keluar-masuk di lubang vaginaku, awalnya aku tidak kuat menahan nikmatnya sampai aku tegang dan menahan nafas. Aku melayang jauh dan tidak sanggup bergerak, yang bisa hanya pasrah menikmatinya.

Sesaat kurasakan rangsangan yang kuat, dan kukeluarkan desahan yang tidak sanggup kutahan. Tampaknya Om Edo mengerti. Tanpa kusadari bajuku menjadi alas dan Om Edo perlahan memeluk tubuhku dari depan. Dengan rasa pasrah dan penuh dengan kenikmatan, kudekap tubuh Om Edo. Perlahan kurasakan ada sesuatu yang keras dan menonjol di dekat bawah perutku, lalu perlahan masuk ke vaginaku, daguku terangkat dan suaraku tidak sanggup kutahan. Desahan demi desahan suaraku yang tegang pun mengeras, sampai akhirnya kami merasakan puncak dari semua itu. Akhirnya dari sana kami berangkat menuju ke tempat Om Edo di daerah sana. Karena kami belum puas, kami pun melakukannya kembali di tempat Om Edo.

Setelah semuanya terjadi, suatu saat Om Edo mengajakku menikah. Maklumlah, dia ditinggal istri-istrinya (istri yang lalu) yang sudah tiada, dan dia tidak memiliki anak. Dia mengatakan butuh aku, tetapi kutolak, dan aku janji tetap membantu sesuatu yang kurang padanya, maaf jawabku, begitu juga dengan Om Edo, dia berkata sama. Mulai dari situ aku menyukai Om-Om, karena mereka memiliki cara berpikir dan emosi yang sudah matang. Pernah suatu saat kukatakan pada Om Edo kalau aku pernah hamil, dan untunglah tidak terjadi, lalu kuungkapkan aku tidak mau hamil di usia ini. Lalu Om Edo mengenalkanku dengan alat-alt KB, lalu kucoba dan ternyata aku memilih spiral, karena lebih aman. Lalu kutawarkan Rina untuk memakainya, dan dia menyetujuinya. Akhirnya saat kami datang bulan, Om Edo mengajakku dan Rina ke dokter kenalannya, lalu kami dipasangkan spiral.

Akhirnya kami merasa tenang dalam setiap berhubungan. Tidak ada rasa was-was, yang ada hanya kepuasan. Setiap semburan dari penis dapat kami rasakan dan nikmati di dalam permainan. Aku melakukannya bukan hanya dengan Om Edo, tetapi juga dengan Om yang lainnya, tapi hanya Om Edo yang terbaik. Suatu hari Om Edo ulang tahun, aku bingung harus memberi hadiah apa, dia sangat baik.

Sesampainya di rumahnya kami, (aku dan Rina) hanya merayakannya bertiga, dia, aku dan teman baikku Rina. Akhirnya kami jalan-jalan. Dan akhirnya sampai kami kembali ke rumahnya, aku bingung karena tidak ada hadiah. Terlintas aku ada ide, pastilah kami suka.
Lalu aku bertanya pada Rina, "Kamu mau nggak ama Om Edo..?"
Rina menjawab, "Terserah kamu, boleh aja..!"
Lalu aku mengajak Rina dan Om Edo ke kamar, di sana aku memancing Om Edo. Akhirnya dia terpancing, dan kami bermain bertiga. Karena hebatnya Om Edo, nafsu kami (aku dan Rina) menjadi tinggi. Dia mencumbu kami secara bergiliran. Karena aku dan Rina tidak kuat menahan nafsu, jika ada kesempatan, milik Om Edo kami nikmati, dan seterusnya kami bermain sampai puncak.

Tampaknya Om Edo sangat berterima kasih kepada kami, terutama kepadaku. Segala sesuatu yang kami khayalkan selalu dijadikan kenyataan oleh Om Edo. Waktu aku di kelas akhir sekolahku, aku dan Rina sudah sering berganti-ganti pacar (cowok), tetapi tidak semuanya dapat merasakan tubuh kami, karena kami tidak memberinya sembarangan. Kebetulan aku dan Rina adalah teman sekelas, ya jadi kami sering bertemu. Saat itu kebetulan aku dan Rina memiliki pacar yang sekelas, ya kami jadi sering berjalan bersama. Hubungan kami sudah tidak ada batas lagi, kami sering berkumpul di rumah kami secara bergantian. Tentu saja jalinan hubungan kami sangat dalam, sampai ke dalam tubuh kami.

Hubungan kami tidak hanya di luar sekolah, di dalam sekolah pun hubungan kami dengan pasangan kami sangat aktif. Setiap keadaan yang memungkinkan, dan bila hasrat kami muncul, kami pun melakukannya. Maklum, pakaianku sangat memungkinkan, sesaat kuangkat rokku tinggi, kulepas sedikit CD-ku, maka milik pasangan kami dapat masuk dengan leluasa, tentu saja dengan gaya tertentu. Terkadang di kelas, di WC sekolah, atau tempat lainnya yang aman, kami terus melakukannya. Tentu kami harus bergiliran berjaga-jaga, supaya tetap aman. Tetapi aku dan Rina masih berhubungan dengan teman pria kami yang dulu, serasa diri kami rakus.

Akhirnya kami lulus dengan nilai yang cukup baik, dan kami mengadakan perpisahan sekolah. Aku, Rina dan kekasih kami pergi perpisahan bersama, kami berpasangan, dan tentu saja di sana kami mencari kesempatan untuk mencurahkan birahi kami. Tetapi rasanya perpisahan bukan hanya untuk kawan-kawan sekolah, tetapi juga kami (aku dan Rina) putuskan untuk kekasih sekelas kami. Awalnya mereka tidak menerima dan menolak, tetapi akhirnya mereka tidak dapat menolak, karena keputusan kami bulat, dan kami jelaskan bahwa kami masih bisa akrab seterusnya.

Liburan panjang pun kami rasakan, tampaknya Aris dan Heri akrab lagi terhadap kami, dan kami berjalan bersama. Aku dan Rina diajak berlibur bersama mereka, dan kami pun bersenang-senang bersama. Seusai berlibur dengan mereka, Om Edo pun memberi hadiah kepadaku dan Rina berlibur ke Bali, dan kami merasakan kegembiraan bersama. Akhirnya kami kuliah, dan tempat kuliah kami di pinggiran kota Jakarta. Di sana kami dibelikan rumah oleh Om Edo sebagai tempat tinggal kami untuk kuliah. Kami memberikan alasan ke keluarga bahwa tempat itu adalah tempat yang murah dan baik buat kami. Akhirnya aku dan Rina tinggal di sana, dan kami berhubungan akrab dengan Aris dan Heri, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kami berhubungan dengan Om Edo yang kami katakan sebagai pemilik kost.

Awal kuliah kami masih berganti-ganti pacar dan kawan. Mereka sering menginap, begitu juga aku dan Rina. Akhirnya, di akhir semester, aku dan Rina mulai serius dengan Aris dan Heri. Sering Om Edo, Aris dan Heri bergantian bermalam, tetapi Aris dan Heri tidak mengetaui hubungan ini, kecuali Om Edo. Akhirnya kami lulus kuliah, dan kami mulai mengurangi aktivitas hubungan intim kami terhadap Om Edo, dan dia mengerti keputusan ini. Sampai akhirnya kami (Om Edo, aku dan Rina) dapat jodoh, sampai pada saatnya Aris dan Heri memiliki kami, akhirnya janur kuning menyelimuti salah satu jari kami.

Aku, Rina, Aris dan Heri terus berhubungan sampai dengan hubungan yang tidak akan pernah lepas. Kami sering ke luar kota bersama, di sana kami berpasangan. Terkadang kami jenuh berhubungan dengan suami, tetapi kami tetap berpasangan, pasanganku adalah suami Rina dan suamiku berpasangan dengan Rina. Kami melakukannya untuk mendapat gairah dan mempererat hubungan kami. Kami terus menikmati ini sampai di atas rajang, dan tanpa ada rasa cemburu serta iri, kami terus berbagi. Mereka bangga memiliki kami, tidak jarang setiap bersama, tubuhku dan Rina ditelanjangi dan terus dinikmati suami kami secara bergantian. Terkadang aku dan Rina serta Om Edo masih berhubungan jauh, terkadang sebulan sekali atau lebih kami melakukannya tanpa diketahui pasangan kami.

TAMAT